Tuesday, November 12, 2019

The Story Behind The Song :

It Is Well With My Soul

 
1. Dung sonang rohangku dibaen Jesus i 
Porsuk pe hutaon dison 
Na pos do rohangku di Tuhanta i 
Dipasonang tongtong rohangkon 
Sonang do, sonang do 
Dipasonang tongtong rohangkon 
 
2. Nang dihaliangi sibolis pe au 
Naeng agohononNa muse 
Naung mate Tuhanku Mangolu ma au 
Utangki nunga sae sasude 
Sonang do, sonang do 
Dipasonang tongtong rohangkon 
 
3. Diporsan Tuhanku sandok dosangki 
Bolong tu na dao do dibaen 
Nang sada na so jujuronna be i 
Na martua tondingku nuaeng 
Sonang do, sonang do 
Dipasonang tongtong rohangkon 
 
4. Mangolu nang mate di Jesus do au 
Ibana haporusanki 
HataNa sambing do partogi di au 
Ai na tau haposanku do i 
Sonang do, sonang do 
Dipasonang tongtong rohangkon
Lagu dari Buku Ende HKBP No. 213 ini begitu menyentuh hati. Lagu rohani dalam bahasa Batak Toba ini adalah salah satu lagu penyemangat. mendengar lagu ini, hati ini terasa nyaman sekali. Segala beban terasa lebih ringan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu ada untuk menuntun kita dan menenangkan hati kita, baik dalam suka maupun duka.
Lagu Berjudul DUNG SONANG ROHANGKU memiliki judul asli “It is Well with My Soul” digubah oleh Horation G. Spafford, dilahirkan di North Troy, New York pada 20 Oktober 1828.

Horatio mempunyai seorang istri, Anna Spafford, dan 5 orang anak (1 orang laki-laki dan 4 orang perempuan). Pada tahun 1860-an keluarga Spafford merupakan salah satu keluarga yang terpandang di Chicago. Horatio mendapatkan keuntungan besar dari investasinya dalam reasl estate di sepanjangan tepi danau Michigan. Walaupun hidupnya serba serba berkelimpahan keluarga Spafford sangat aktif dalam kegiatan gereja sebagai seorang jemaat setia Presbysterian.

Gereja Presbiterian (bahasa InggrisPresbyterian Church) adalah salah satu denominasi di lingkungan Gereja-gereja Protestan, yang berakar pada gerakan Reformasi pada abad ke-16 di Eropa Barat. Dari segi doktrin dan ajaran, Gereja Presbiterian mengikuti ajaran-ajaran Yohanes CalvinReformator dari Prancis. Namun secara kelembagaan Gereja Presbiterian sendiri muncul dari Skotlandia, sebagai buah pekerjaan John Knox, salah seorang murid Calvin yang paling terkenal. Karena latar belakang ini, Gereja Presbiterian pada umumnya ditemukan di negara-negara bekas koloni Inggris, seperti Amerika SerikatAustraliaSelandia BaruIndia, dan lain-lain. Gereja Presbiterian pun dapat ditemukan di beberapa negara yang kuat dipengaruhi oleh Amerika Serikat, seperti Korea Selatan dan Filipina.

Ciri-ciri Gereja Presbiterian

Salib Huguenot

 

Perbedaan utama antara Gereja Presbiterian dengan Gereja-gereja lain terletak pada ajaran dan organisasinya. Dasar utama Gereja ini adalah Calvinisme, meskipun banyak Gereja Presbiterian pada masa kini yang tidak terlalu menganggapnya penting.

 

Perkembangan Presbiterianisme di Amerika Serikat

Gereja Presbiterian pada umumnya dapat dikenali melalui praktik baptisan anak, penggunaan Mazmur dalam nyanyiannya, dan doktrin predestinasi dalam ajaran keselamatannya. Gereja-gereja Presbiterian yang lebih konservatif umumnya menolak penggunaan alat musik di dalam ibadahnya dan menolak untuk menahbiskan perempuan untuk jabatan-jabatan gerejawi, seperti diaken dan penatua (termasuk pendeta). Selain itu, mereka juga seringkali menggunakan satu cawan yang sama dalam perjamuan kudusnya dan bahkan ada pula yang menekankan doktrin predestinasi ganda.

Pada masa kini banyak Gereja Presbiterian yang telah memperbarui doktrinnya untuk memampukan Gereja menjawab tantangan-tantangan yang baru pada zaman yang baru pula. Pembaruan ini didasarkan pada semboyan Reformasi, yaitu ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda, yang berarti “Gereja yang telah direformasi adalah Gereja yang (harus) terus-menerus diperbarui.

Kekuasaan tertinggi di kalangan Gereja Presbiterian berada di tangan penatua (bhs. Indonesia: “presbiter”; bhs. Yunani: “presbuteros”), yang terbagi dalam dua golongan, yaitu penatua yang mengajar (pendeta) dan penatua yang memimpin. Bersama-sama kedua golongan penatua ini merupakan majelis gereja yang bertanggung jawab dalam menegakkan disiplin, memelihara jemaat dan menjalankan misi gereja.. Tugas-tugas yang berkaitan dengan pemeliharaan gedung, keuangan gereja, pelayanan kepada mereka yang kekurangan atau dilanda kedukaan, ditangani oleh diaken.

Penatua yang mengajar (pendeta) bertanggung jawab dalam pengajaran, kebaktian (ibadat) dan melayankan sakramen. Pendeta biasanya dipanggil oleh masing-masing jemaat. Namun pemanggilan ini harus disahkan oleh klasis, yaitu kumpulan beberapa jemaat di suatu wilayah tertentu.

Klasis terdiri atas pendeta dan penatua yang diutus oleh masing-masing gereja yang menjadi anggotanya. Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi terdapat Sinode, yaitu perhimpunan semua gereja yang tergabung di dalam kelompok denominasi yang sama. Misalnya Sinode GPIB, Sinode GKI, Sinode GMIT, Sinode GMIM dll. Dalam tradisi Gereja Calvinis, ada Gereja yang memposisikan Klasis dan Sinode bukan sebagai lembaga tetap, melainkan persidangan yang di dalamnya Gereja-gereja bersidang untuk menetapkan keputusan bersama agar dilakukan bersama-sama, sepanjang waktu persidangan yang berikutnya (satu daur adalah waktu di antara dua persidangan). Sebagai pelaksana ketetapan persidangan adalah orang-orang atau badan yang ditetapkan untuk melaksanakan keputusan persidangan. Tradisi itu sampai sekarang masih dilakukan di dalam Gereja-gereja Kristen Jawa GKJ.

Gereja Presbiterian sangat mengutamakan pendidikan dan penyelidikan yang terus-menerus terhadap Alkitab, pengembangan tulisan-tulisan teologis, dan penafsiran kembali atas doktrin gereja. Gereja ini pada umumnya percaya bahwa iman harus diwujudkan dalam kata-kata dan perbuatan, termasuk keramah-tamahan, kemurahan, dan perjuangan yang berkelanjutan untuk menegakkan keadilan sosial dan pembaruan yang tidak terlepas dari pemberitaan Injil Kristus.

Ajaran predestinasi seringkali dikatakan sebagai ciri khas ajaran Calvin, meskipun pada kenyataannya Calvin sendiri tidak terlalu menekankan ajaran ini. Ajaran ini menyatakan bahwa Allah telah menetapkan setiap orang yang akan diselamatkan-Nya, bahkan sebelum orang itu dilahirkan di dunia.

Dalam perkembangannya, sebagian Gereja-gereja Calvinis (Presbiterian dan Hervormd) mengembangkan doktrin predestinasi ganda. Dalam ajaran ini dikatakan bahwa Allah telah menetapkan siapa yang akan diselamatkan-Nya dan masuk ke surga, serta siapa yang akan dihukum selama-lamanya di neraka, sebelum mereka dilahirkan di dunia. Banyak Gereja Presbiterian dan Hervormd pada masa kini yang merasa ajaran ini tidak dapat dipertahankan lagi.

Perbedaan utama antara Gereja Presbiterian dengan Gereja-gereja lain terletak pada ajaran dan organisasinya. Dasar utama Gereja ini adalah Calvinisme, meskipun banyak Gereja Presbiterian pada masa kini yang tidak terlalu menganggapnya penting.

 

Perkembangan Presbiterianisme di Amerika Serikat

Gereja Presbiterian pada umumnya dapat dikenali melalui praktik baptisan anak, penggunaan Mazmur dalam nyanyiannya, dan doktrin predestinasi dalam ajaran keselamatannya. Gereja-gereja Presbiterian yang lebih konservatif umumnya menolak penggunaan alat musik di dalam ibadahnya dan menolak untuk menahbiskan perempuan untuk jabatan-jabatan gerejawi, seperti diaken dan penatua (termasuk pendeta). Selain itu, mereka juga seringkali menggunakan satu cawan yang sama dalam perjamuan kudusnya dan bahkan ada pula yang menekankan doktrin predestinasi ganda.

Pada masa kini banyak Gereja Presbiterian yang telah memperbarui doktrinnya untuk memampukan Gereja menjawab tantangan-tantangan yang baru pada zaman yang baru pula. Pembaruan ini didasarkan pada semboyan Reformasi, yaitu ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda, yang berarti “Gereja yang telah direformasi adalah Gereja yang (harus) terus-menerus diperbarui.

Kekuasaan tertinggi di kalangan Gereja Presbiterian berada di tangan penatua (bhs. Indonesia: “presbiter”; bhs. Yunani: “presbuteros”), yang terbagi dalam dua golongan, yaitu penatua yang mengajar (pendeta) dan penatua yang memimpin. Bersama-sama kedua golongan penatua ini merupakan majelis gereja yang bertanggung jawab dalam menegakkan disiplin, memelihara jemaat dan menjalankan misi gereja.. Tugas-tugas yang berkaitan dengan pemeliharaan gedung, keuangan gereja, pelayanan kepada mereka yang kekurangan atau dilanda kedukaan, ditangani oleh diaken.

Penatua yang mengajar (pendeta) bertanggung jawab dalam pengajaran, kebaktian (ibadat) dan melayankan sakramen. Pendeta biasanya dipanggil oleh masing-masing jemaat. Namun pemanggilan ini harus disahkan oleh klasis, yaitu kumpulan beberapa jemaat di suatu wilayah tertentu.

Klasis terdiri atas pendeta dan penatua yang diutus oleh masing-masing gereja yang menjadi anggotanya. Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi terdapat Sinode, yaitu perhimpunan semua gereja yang tergabung di dalam kelompok denominasi yang sama. Misalnya Sinode GPIB, Sinode GKI, Sinode GMIT, Sinode GMIM dll. Dalam tradisi Gereja Calvinis, ada Gereja yang memposisikan Klasis dan Sinode bukan sebagai lembaga tetap, melainkan persidangan yang di dalamnya Gereja-gereja bersidang untuk menetapkan keputusan bersama agar dilakukan bersama-sama, sepanjang waktu persidangan yang berikutnya (satu daur adalah waktu di antara dua persidangan). Sebagai pelaksana ketetapan persidangan adalah orang-orang atau badan yang ditetapkan untuk melaksanakan keputusan persidangan. Tradisi itu sampai sekarang masih dilakukan di dalam Gereja-gereja Kristen Jawa GKJ.

Gereja Presbiterian sangat mengutamakan pendidikan dan penyelidikan yang terus-menerus terhadap Alkitab, pengembangan tulisan-tulisan teologis, dan penafsiran kembali atas doktrin gereja. Gereja ini pada umumnya percaya bahwa iman harus diwujudkan dalam kata-kata dan perbuatan, termasuk keramah-tamahan, kemurahan, dan perjuangan yang berkelanjutan untuk menegakkan keadilan sosial dan pembaruan yang tidak terlepas dari pemberitaan Injil Kristus.

 

Ajaran predestinasi seringkali dikatakan sebagai ciri khas ajaran Calvin, meskipun pada kenyataannya Calvin sendiri tidak terlalu menekankan ajaran ini. Ajaran ini menyatakan bahwa Allah telah menetapkan setiap orang yang akan diselamatkan-Nya, bahkan sebelum orang itu dilahirkan di dunia.

Dalam perkembangannya, sebagian Gereja-gereja Calvinis (Presbiterian dan Hervormd) mengembangkan doktrin predestinasi ganda. Dalam ajaran ini dikatakan bahwa Allah telah menetapkan siapa yang akan diselamatkan-Nya dan masuk ke surga, serta siapa yang akan dihukum selama-lamanya di neraka, sebelum mereka dilahirkan di dunia. Banyak Gereja Presbiterian dan Hervormd pada masa kini yang merasa ajaran ini tidak dapat dipertahankan lagi.

Ia adalah seorang pengacara muda yang amat sukses di Chicago. Kesuksesan karier tentu saja diikuti dengan kesuksesan finansial. Spafford adalah gambaran seorang manusia yang – barangkali – hampir mendekati ideal, suatu gambaran kehidupan yang menjadi impian dari hampir semua orang. Beberapa bulan sebelum terjadi peristiwa kebakaran dahsyat yang melanda kota Chicago pada tahun 1871, Spafford baru saja menanamkan hampir seluruh kekayaannya pada proyek real estate (kompleks perumahan) yang dibangun di tepi pantai danau Michigan. Kebakaran besar tersebut dalam sekejap telah menyapu bersih seluruh kekayaannya. Setelah bencana tersebut Spafford memutuskan untuk mengabdikan hidupnya dengan membantu pelayanan yang dilakukan oleh pengkhotbah terkenal pada masa itu – D.L. Moody – dan musikus gerejawi termashur – Ira D. Sankey, yang saat itu tengah melakukan perjalanan pelayanan ke Inggris. Spafford berencana untuk melakukan perjalanan ke Eropa bersama dengan seluruh anggota keluarganya. Namun pada saat-saat menjelang keberangkatannya, tiba-tiba ada urusan bisnis yang harus ia selesaikan. Itulah sebabnya ia meminta istri dan keempat putrinya untuk berangkat terlebih dulu, sementara itu Spafford akan menyusul setelah urusan bisnis di Chicago diselesaikannya. Namun pada tanggal 22 Nopember 1873, kapal yang ditumpangi oleh istri dan keempat anaknya mengalami kecelakaan dengan kapal lain dan tenggelam ke dasar samudera hanya dalam waktu 12 menit, 226 penumpang tewas. Beberapa hari setelah para penumpang yang selamat tersebut berhasil mendarat di Cardiff, Wales, Inggris, Ny. Spafford mengirimkan telegram kepada suaminya di Chicago yang isinya mengatakan:”Hanya aku sendiri yang selamat. Apa yang harus aku lakukan? Maksudnya tidak lain adalah bahwa keempat putrinya tewas tenggelam dalam kecelakaan kapal tersebut. Dengan hati dan perasaan yang sangat terluka, Spafford segera menyusul ke Inggris. Ketika ia dibawa ke tempat di mana keempat putrinya tewas tenggelam itulah ia – di atas kapal – menuliskan teks lagu yang kita kenal sekarang ini. Namun Spafford tidak berhenti pada ratap tangis dan keluh kesah. Ia melanjutkan teksnya – khususnya pada bait ketiga dan keempat – dengan suatu keyakinan teguh akan kasih Kristus, karya penyelamatanNya dan keagungan kedatanganNya kelak. Itulah sebabnya ia berulang kali menuliskannya “Slamatlah, slamatlah jiwaku”.Di tengah perjalanan di laut, Horatio yang merasa sangat sedih akan kehilangannya yang bertubi-tubi, terilhami untuk menulis sebuah lirik sebagai seruan kepedihan sekaligus kepercayaannya:

 

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll,
Whatever my lot,
Thou has taught me to say,
It is well, it is well,
with my soul.

Refrain :

It is well, with my soul.
It is well, with my soul.
It is well, it is well,
with my soul.

Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this best assurance control
That Christ has regarded
my helpless estate,
And hath shed His own blood
for my soul.

My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole
Is nailed to the cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, oh my soul.

And Lord haste the day when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll,
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.

It is well, with my soul. It is well, with my soul.
It is well, it is well, with my soul.

Saat damai bagaikan sungai, hadiri jalan saya,
Ketika kesedihan seperti gulungan ombak laut;
Apa pun nasibku, Engkau telah mengajariku untuk katakan

Refrain :
Baik, baik, dengan jiwaku.
Baik, (baik),
Dengan jiwaku, (dengan jiwaku)
Baik, baik, dengan jiwaku.

Meskipun Setan harus prasmanan, meskipun pencobaan harus datang,
Biarkan kontrol jaminan ini,
Bahwa Kristus telah menganggap warisan saya yang tidak berdaya,
Dan telah mencurahkan darah-Nya sendiri untuk jiwaku.

Dosa saya, oh, kebahagiaan dari pikiran mulia ini!
Dosa saya, bukan sebagian tetapi keseluruhan,
Dipaku di kayu salib, dan aku tidak tahan lagi,
Puji Tuhan, puji Tuhan, hai jiwaku!

Bagi saya, baik itu Kristus, baik itu Kristus maka untuk hidup:
Jika Jordan di atas saya akan berguling,
Tidak ada pang akan menjadi milikku, karena dalam kematian seperti dalam hidup,
Engkau akan membisikkan kedamaian bagi jiwaku.

Tetapi Tuhan, ini untukMu, untuk kedatanganMu kita tunggu,
Langit, bukan kuburan, adalah tujuan kami;
Oh, truf malaikat! Oh, suara Tuhan!
Berkat harapan, memberkati sisa jiwaku.

Dan Tuhan, cepatlah hari ketika iman akan menjadi pemandangan,
Awan digulung kembali sebagai gulungan;
Truf akan bergema, dan Tuhan akan turun,
“Meski begitu, itu baik-baik saja dengan jiwaku”.

 

“It Is Well With My Soul” adalah sebuah nyanyian pujian yang ditulis oleh nyanyian pujian Horatio Spafford Berdasarkan 3 Yohanes 2 disusun oleh Philip Bliss (Melodi “Ville du Havre” ) . Pertama kali diterbitkan dalam Lagu-Lagu Injil No. 2 oleh Ira Sankey dan Bliss (1876), mungkin yang paling berpengaruh dan bertahan dalam daftar lagu Bliss dan sering dianggap sebagai model paduan suara, muncul dalam himne dari berbagai macam persekutuan Kristen.


Horatio Spafford.jpg

Latar Belakang

Nyanyian rohani ini ditulis setelah peristiwa traumatis dalam kehidupan Spafford. Yang pertama adalah kematian putranya pada usia dua tahun dan Kebakaran Besar Chicago tahun 1871, yang menghancurkannya secara finansial (ia telah menjadi pengacara yang sukses dan telah berinvestasi secara signifikan dalam properti di daerah Chicago yang banyak dirusak oleh kebakaran besar itu). api). Kepentingan bisnisnya semakin terpukul oleh penurunan ekonomi tahun 1873, di mana pada saat itu ia telah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Eropa bersama keluarganya di SS Ville du Havre . Dalam perubahan akhir dari rencana, dia mengirim keluarga ke depan sementara dia tertunda karena masalah zonasi setelah Great Chicago Fire. Saat melintasi Samudra Atlantik , kapal tenggelam dengan cepat setelah tabrakan dengan kapal laut, Loch Earn , dan keempat anak perempuan Spafford meninggal. Istrinya Anna selamat dan mengiriminya telegram yang sekarang terkenal, “Selamat sendirian …”. Tak lama kemudian, ketika Spafford melakukan perjalanan untuk menemui istrinya yang sedang bersedih, dia terinspirasi untuk menulis kata-kata ini ketika kapalnya melintas dekat tempat putrinya meninggal.  Bliss memanggil nadanya Ville du Havre , dari nama kapal yang dilanda perang.

Lagu yang diciptakannya setelah peristiwa tragis ini punya makna, bahwa apapun yang terjadi di dalam hidup, baik atau buruk pun itu, Tuhan akan tetap menghibur jiwa kita. Jikapun kita merasa sendirian dalam penderitaan itu, Tuhan akan menunjukkan anugerahNya bagi hidup kita selanjutnya, sehingga dengan demikian, kita dapat menjadi perpanjangan tanganNya untuk menolong orang lain.

Dalam perjalanan menuju Inggris, kapten kapal menunjukkan lokasi dimana kapal Vile du Havre tenggelam yang menewaskan empat putri Horatio. Malam itu Horatio tidak dapat tidur. Berjam-jam lamanya ia merenungkan dan mengingat semua tragedi yang terjadi pada keluarganya dan keempat putrinya yang meninggal di tengah-tengah samudera Atlantik itu. Dalam keadaan hati yang hancur, Horatio menulis pada secarik kertas, “It is well, the will of God be done.” (Hal ini baik, kehendak Tuhan, terjadilah). Dia atas kapal inilah Horatio kemudian menulis hymne “It is well with my soul” yang jika diterjemahkan : Jiwaku sanggup menerima (cobaan ini) atau dalam terjemahan bebas : Jiwaku baik-baik saja (walau didera penderitaan). Ketika bertemu kembali dengan istrinya, ia berkata, “Kita tidak kehilangan anak-anak kita. Kita hanya berpisah dengan mereka untuk sementara.”

Horatio membawa Anna kembali ke Chicago untuk memulai kembali kehidupan mereka. Tuhan mengaruniai mereka dengan tiga orang anak. Putra mereka yang lahir pada tahun 1876 diberi nama Horatio untuk mengenang putra mereka yang telah meninggal. Pada tahun 1878 Horatio dan Anna dikaruniai seorang putri yang diberi nama Bertha dan dua tahun kemudian, 1880, lahirlah Grace. Tragisnya, ketika Horatio kecil berusia 4 tahun, ia juga meninggal karena penyakit demam seperti kakak lelakinya. Belum hilang kepedihan akibat wafatnya Horatio kecil, jemaat gereja mengucilkan mereka dengan alasan, “Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan keluarga Spafford sehingga banyak tragedi menimpa mereka.”

Karena tidak lagi diterima jemaat di gerejanya, pada bulan September 1881, Horatio membawa keluarganya menuju Yerusalem untuk menetap di sana. Bersama beberapa kawan yang juga ikut pindah bersamanya, Horatio memulai sebuah kelompok pelayanan yang kemudian dikenal sebagai “American Colony.” Mereka melayani orang-orang yang kekurangan, membantu orang miskin, merawat orang sakit dan menampung anak-anak tunawisma. Tujuan mereka hanyalah untuk menunjukkan kasih Yesus kepada sesama yang menderita. Novelis Swedia, Selma Ottiliana Lovisa Lagerlof menulis tentang pelayanan yang dilakukan kelompok ini dalam novelnya berjudul “Yerusalem.” Novel tersebut berhasil memenangkan hadiah Nobel.

Horation Spaffor meninggal karena malaria pada 16 Oktober 1888 di Yerusalem. Anna Spafford terus bekerja di daerah sekitar Yerusalem sampai kematiannya pada tahun 1923.

Putri Horatio, Bertha Spafford Vester, menulis kisah ini dalam bukunya “Our Yerusalem” : “Di Chicago, ayah mencari penjelasan tentang hidupnya. Hingga saat ini, semuanya mengalir dengan lembut seperti sungai. Kedamaian rohani dan keamanan telah menopang awal hidupnya, kehidupan keluarganya, tempat tinggalnya … orang di sekelilingnya bertanya-tanya, ‘kesalahan apa yang menyebabkan terjadinya tragedi beruntun pada Horatio dan Anna Spafford?’ … tapi ayah yakin bahwa Allah baik dan ia akan melihat anak-anaknya lagi di surga nanti. Hal ini menenangkan hatinya. Bagi ayah, keadaan itu seperti melewati ‘lembah bayang-bayang maut’, tapi imannya bangkit dan kuat. Di laut lepas, dekat tempat dimana anak-anaknya tewas, ayah menulis hymne yang menenangkan banyak orang.”

Ini adalah sebuah lagu yang penuh kekuatan, kedamaian dan pengharapan.

Comments

No comments found!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Tentang Website Kami

Website PSSSIB.org ini didedikasikan untuk seluruh warga Batak dengan marga Simanjuntak yang merupakan keturunan Raja Marsundung Simanjuntak dan bersatu dalam Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina beserta seluruh Borunya.

Website ini adalah media komunikasi, edukasi dan interaksi seluruh anggota Parsadaan dengan tujuan meningkatkan rasa kasih & persaudaraan di semua keluarga besar Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna se Jakarta & Sekitarnya

Login
Remember me
Lost your Password?
Password Reset
Login