Tuesday, November 12, 2019
  1. PENGERTIAN ADAT BATAK

Masyarakat Batak dalam perjalanan hidupnya, tidak terlepas dari Adat Batak. Dari semasa dalam kandungan dan sejak lahir sampai meninggal dunia, adat selalu mewarnai perjalanan hidupnya.

Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang terdiri dari enam suku cabang,   yaitu  Toba,  Simalungun,  Karo,  Pakpak,  Dairi, Mandailing, dan Angkola. Sebagian orang Batak menganut agama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan Parmalim) dan juga penganut kepercayaan animisme  (disebut Pelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.  Arti kata  “batak”  belum  dapat  dijelaskan secara pasti. Menurut J. Warneck, batak berarti ‘penunggang kuda yang  lincah’.  Sedangkan menurut Kamus Batak Indonesia yang ditulis oleh J. P. Sarumpaet, ”batak” berarti kukuh atau mantap.

Adat adalah  gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah.

Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang.

Selain itu adat merupakan norma hukum yang didukung rasa kemanusiaan yantg tinggi. Adat harus ditegakkan dan dijunjung tinggi seperti dalam peri bahasa : jongjong hau na so sitabaon, peak na so sigulingon artinya berdiri kayu jangan ditebang tumbang pun jangan digulingkan.

Di Indonesia kata “adat” baru digunakan pada sekitar akhir abad 19. Sebelumnya kata ini hanya dikenal pada masyarakat Melayu setelah pertemuan budayanya dengan agama Islam pada sekitar abad 16-an. Kata ini antara lain dapat dibaca pada Undang-undang Negeri Melayu

Dalam masyarakat Batak adat merupakan persatu-paduan kebudayaan kerohanian dan kemasyarakatan yang meliputi kehidupan, keagamaan, hukum, kemasyarakatan atau kekerabatan, bahasa, seni, tehnologi, dan sebagainya. Orang  Batak  percaya  bahwa  adat  yang  diturunkan  oleh  nenek-moyang  itu diilhami oleh Debata Mulajadi Nabolon. Menurut mitologi suku Batak, Debata Mulajadi  Nabolon  adalah  ilah  yang  tidak bermula dan tidak berakhir.  Dia adalah   awal   dari   semua   yang   ada.   Dia  dipercaya  sebagai Allah Yang Mahatinggi,  yang  menjadikan  langit,  bumi  dan segala isinya, yang secara terus-menerus memelihara hidup ini.

Dengan demikian sejak zaman berhala sesungguhnya orang Batak sudah mempercayai adanya Tuhan, dilihat dari perumpamaan yang mengatakan:

 

Disi si rungguk, disi sitata.

Disi hita juguk, disi do Namartua Debata.

(di mana ada rumput, di sana ada pisang;

di mana kita duduk, di sana ada Tuhan)

 

“Adat” lapatanna : ima hasomalan ni ngolu namarhapantunon(kehidupan bertatakrama).

“Adat Istiadat” ima ngolu hapantunon na nilinggoman ni uhum dohot paraturan namasa/namarlaku ditonga-tonga ni masyarakat.(Kehidupan bertatakrama yang dilindungi oleh hukum dan peraturan yang berlaku ditengah-tengah masyarakat)

Definisi/Pengertian Sebagai Kebudayaan:

“Wujud gagasan kebudayaan yang ada dalam masyarakat Adat Batak yang terdiri atas nilai nilai budaya, norma, hukum dan aturan-aturan di dalam masyarakat yang turun temurun yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi sistem Paradaton.

Definisi/Pengertian Sebagai Tata Cara Tradisi Lama.

Adat batak adalah tatacara dan upacara yang diselenggarakan dan bersumber dari tradisi dari nenek/kakek moyang/ ompui i na jolo namartungkot sialagundi,  yang behubungan dengan meminta dan menerima serta memberikan berkat (pasu-pasu) , sesuai dengan kehidupan perikehidupan dan kepercayaan iman/agama (hombar tu panggulmit ni parngoluon dohot haporseaon) dari masyarakat Batak”.Sekarang harus kita maknai sesuai dengan iman kepercayaan kita. Misalnya bila kristen maka harus kita makna sesuai dengan kekristenan.

Definisi/Pengertian Umum.

Jadi kalau disebut ADAT BATAK, ia berlaku universal di dalam masyarakat batak atau diakui dan dianut semua masyarakat Batak dimanapun ia berada. Kata“maringkon” atau harus, yang sering kita dengar dalam setiap pembicaraan adat Batak berlaku disini dimanapun ia menyelenggrakan Adat. Umpamanya, kalau menyelenggrakan Adat Batak Na Gok , harus ada jambar , ini berlaku universal dimanapun acara adat itu dilakukan. Analoginya kira-kira seperti UUD, UU, PP yang berlaku di seluruh Indonesia.

 

PARADATON

Pengertian Paradaton adalah tata cara pelaksanaan Adat Batak yang disepakati dan berlaku atau dianut oleh satu , huta atau luat. Artinya kalau disebut Paradaton satu luat, katakan Luat A, paradaton itu hanya (harus) berlaku di Luat A itu saja, belum tentu berlaku di Luat B. Misalnya dalam pembagian jambar.

Kerancuan yang sering timbul dan bisa jadi bertele-tele atau bahkan menimbulkan perbedaan maka ditetapkan sidapot solup do na ro.

 

SOLUP

Solup, adalah kata lain dari Paradaton yang definisi dan pengertiannya sama. Dikatakan dengan SOLUP, karena pengertian paradaton itu menggunakan filosofi SOLUP, yaitu takaran beras dari bambu yang dimiliki setiap Huta, yang mungkin tidak sama isinya dengan solup dari huta lain, karena dibuat dari bambu alamiah, tidak seperti ukuran sekarang yang ditera. Karena perbedaan isi itu sudah menajadi aturan tradisi, bahwa jika seseorang meminjam beras dan di satu huta, maka SOLUP huta itulah yang digunakan mengukur (manuhat).

 

PENGERTIAN HUTA

Aslinya HUTA adalah satu daerah komunitas  masyarakat   adat batak yang satu marga atau yang mempunyai hubungan keluarga sehingga paradaton atau solup satu huta itu sama. Huta asli biasanya jelas batas-batasnya berupa parik atau pohon bambu duri yang pada mulanya dihuni satu marga tertentu. Tetapi dengan perkembangan keturunan, maka pihak marga tertentu (parboru) memperbolehkan menantunya tinggal di huta itu (sonduk hela) demikian juga dengan marga yang lain dengan alasan tertentu (maisolat), sehingga satu huta bisa didiami berbagai marga, tetapi masing-masing menganut atau tunduk kepada paradaton/solup di huta itu, bukan solup/paradaton daerah asalnya.Belakangan ini setiap huta sudah punya satu “tumba” wadah ukuran kapasitas 2 liter yang digunakan untuk manuhat (mengukur) jumlah beras manang eme yang akan di bawa tu ulaon jadi dos nangkokna dos tuatna.

 

DONGANSAHUTA.

Dari pengertian huta diatas maka  dongan sahuta adalah masyarakat adat batak yang tinggal di satu daerah yang sama solup atau paradatonnya. Itulah sebabnya  salah satu  fungsi dongan sahuta dalam setiap acara paradaton di huta itu, harus dapat menilai dan memberi pendapat kepada suhut, sesuai dengan paradaton/solup di huta itu, tidak hanya manolopi/menyetujui apa yang disepakati para pihak. Dongan sahuta harus dapat menegaskan “on do na somal hu ulahon hami di huta on” jika ada pihak yang memaksakan kehendak. Tetapi jika ada permintaan yang sifatnya mangelek dari para pihak dapat dipertimbangkan, artinya jika tidak  jauh menyimpang atau tidak menabrak tatanan paradaton/solup di huta itu.

Oleh karenanya ditano parserahan on(perantauan) seyoyganya punguan parsahutaon membuat suatu kesepakatan/konsensus tentang paradaton na di pamasa di hutai i sehingga apabila ada ulaon dan dimintakan pendapat ke dongan sahuta maka jawabannya akan sama antara satu dengan yang lain dan di lain kesempatan atau ulaon yang lain perlakuannya sama. Dan di lain pihak dongan sahuta tidak hanya manolopi tetapi memberi masukan.

 

HUKUM TRADISI SIDAPOT SOLUP NA RO

Hukum tardisi sidapot solup do naro dipakai sebagai filosofi paradaton yaitu: Di huta/kampung mana acara adat diselenggrakan paradaton huta itulah yang dipakai sebagai rujukan. Dalam bahasa hukum tardisi umpasa disebut: “disi tano di inganhon di si solup niparsuhathon” atau biasa disebut “sidapot solup do na ro”.

Walaupun hukum tradisional sidapot solup do na ro, bukan berarti ia kaku atau harga mati. Dalam pembicaraan adat permintaan dalam arti mangelek salah satu pihak sangat dimungkinkan, tergantung kewajaran alasan atau argumen yang diajukan atau seberapa jauh permintaan itu menyimpang dari paradaton/solup di huta itu yang masih dapat ditolerir dan tidak memaksa atau maringkon.

“Aek godang tu aek laut, dos ni roha do sibahen na saut” merupakan kata kunci dalam hal ini. Dalam mengajukan  argumen atau alasan inilah nampak kualitas atau penguasaan paradaton dari seorang “raja parhata”  elek, santun dan terkadang membuat pihak lain tertawa dan mengiyakan permintaannya( tidak ngotot-ngototan). Dalam pembicaraan seperti ini pulalah peranan dongan sahuta menopang dan mengingatkan  suhut  mengenai paradaton di huta itu. Biasanya dan sebaiknya hal-hal seperti ini sudah dibicarakan informal sebelum acara panghataion, tidak dengan memaksakan kehendak yang sering dilakukan jika posisinya sebagai hula-hula.

 

SUHINI AMPANG NAOPAT ( Kaki di empat Sudut Bakul )

Pada diri setiap manusia sebenarnya memiliki nilai-nilai yang berlaku universal seperti halnya; Kasih, Damai, Harapan dan Sukacita. Ke-empat nilai ini harus sekaligus ada secara seimbang padasetiap hati manusia agar manusia itu bisa menjadi manusia yang baik. Keseimbangan yang harus terjaga baik dan selalu dipertahankan jika tidak maka manusia itu tidak pula bisa mencapaiyang terbaik dalam kehidupannya.

Dalam budaya Batak ada suatu peralatan yang sangat kental terlihat perananannya yaitu Ampang atau bakul. Dikatakan kental karena dari segi kegunaannya, alat tersebut sangat serba bermanfaat untuk menjadi tempat atau wadah. Namun yang sangat menarik karena mempunyai arti lain sebagai perlambang yang mefokuskan pada arti ke-empat sudut yang ada pada ampang atau bakul tersebut.

Dalam agama hal ini jelas ada diajarkan khususnya agama Kristen yang mendahulukan kasih diatas segala-galanya. Dalam adat batak maka setiap ritual perkawinan adat batak maka hal ini mutlak dijunjung. Pelaksanaannya jelas terlihat saat melakukan acara “ marsibuha-buhai “ yaitu pada saat pihak laki-laki datang ketempat pihak wanita sebelum melaksanakan acara pemberkatan di Gereja Pada saat itu dari pihak laki-laki akan datang dengan membawa “ampang“ atau bakul yang pada hakekatnya berisi dan harus dimaknai sebagai bawaan yang berisikan :

  1. Kasih / Holong
  2. Damai / Dame
  3. Suka Cita / Lasniroha
  4. Harapan / Harapan

Dalam mythos dan keindahan sprituil budaya Batak telah memiliki dan mengartikan ke-4 nilai universal diatas dalam acara “marsibuha-buhai”tersebut sebagai berikut ;

Kasih yang dilambangkan oleh nasi putih yang hangat dan enak/indahan na las

Damai dilambangkan oleh dedaunan yang terangkai/bulung ni jajabi

Suka Cita dilambangkan pada ulos sebagai hasil karya manusia/ pertenunan

Harapan yang dilambangkan dalam lauk-pauk yang diatur sedemikian rupa

Untuk seorang pria Batak mendapatkan kharisma maupun harga diri yang baik ditengah-tengah komunitasnya hanyalah karena dukungan dari kaum borunya. Sementara itu hanya kaum borunya itulah yang membuatnya bisa berharga secara kacamata adat. Jika pihak borunya/namborunya tadi yang ditugasi menjunjung ampang/bakul dimaksud, hal itu untuk memberi arti atau pertanda bahwa pihak laki-laki yang akan dikawinkan ini masih mempunyai nilai-nilai adat yang luhur dan masih baik serta tidak cacat adat. Sehingga masih pantas sipihak namboru menjunjung kehormatan tersebut untuk dibawa dan dipertunjukkan kepada pihak perempuan yang akan dikawini.

Suhi ni ampang na opat/empat sudut bakul yang sama, dengan tegas ada diatur dan berada pada pihak si wanita/hula-hula sebagai pranata sekaligus saksi perkawinan adat yang diselenggarakan. Para saksi atau pranata tersebut atau lembaga adat yang bertindak sebagai pihak yang menyerahkan perempuan atau pihak pemberi berkat atau disebut sebagai tutup ni ampang dan dikenal dengan istilah:

  1. Sijalo Bara yaitu saksi perkawinan yang sekaligus juga berhak menerima upah saksi dan hal itu diperankan oleh abang atau adik dari Ayah pengantin perempuan.
  2. Simolohonyaitu saksi perkawinan yang berhak menerima upah saksi dan diperankan oleh saudara laki-laki pengantin perempuan yang sudah berkeluarga.
  3. Paribanyaitu saksi perkawinan yang juga berhak atas upah saksi dan diperankan oleh kakak dari penganten perempuan yang sudah berkeluarga .
  4. Tulang yaitu saksi perkawinan yang berhak atas upah saksi dan diperankan oleh saudara laki-laki dari Ibu penganten perempuan.

Sementara itu didalam pihak laki-laki yang akan dinikahkan tersebut terdapat pula suhi ni ampang na opat/empat sudut bakul yang sama yang merupakan saksi-saksi perkawinan atau bertindak sebagaipihak penerima per-empuan sekaligus pihak penerima berkat dan disebut sebagai berikut:

  1. Pansamotyaitu orang tua pihak laki-laki dan berhak untuk menerima atas ulos pansamot.
  2. Pamaraiyaitu abang atau adik dari ayah silaki-laki yang menikah dan berhak untuk menerima atas ulos pamarai.
  3. Simanggokhonyaitu abang dari laki-laki yang dinikahkan dan berhak untuk menerima atas ulos simanggokhon.
  4. Si-Hunti Ampangyaitu kakak perempuan atau “ito” ataupun“namboru” dari silaki-laki yang menikah dan berhak menerima ulos si- Hunti Ampang.

Ke-empat pihak diatas baik yang ada dipihak perempuan maupun yang ada dipihak laki-laki yang akan menikah tersebut , jelas-jelas menjadi saksi perkawinan dan bertanggung-jawab secara moriil kepada perkawinan yang dipersaksikannya. Dalam perkawinan itu mau tidak mau , telah membuat mereka turut untuk menjaga keutuhannya serta menjadi bagian yang harus turut campur lebih dahulu jika perkawinan itu kelak mendapat permasalahan.

Dalam arti yang benar “marsibuha-buhai” adalah suatu lembaga pranikah dalam perkawinan adat batak. Lembaga pranikah yang mana harus dijalankan sebagai sarana saling mengenal secara berhadapan-hadapan antara pihak laki dan kerbatnya maupun pihak perempuan bersama kerabatnya.

Sangatlah tepat jika seorang pria dengan seorang wanita yang akan menikah secara budaya adat batak, terlebih dahulu diperkenalkan kepada pranata yang diatur oleh suhi ni ampang naopat . Dengan demikian mereka yang akan menikah tersebutsudah mengenal dengan baik/familiar terhadap saksi-saksi perkawinannya dan mempunyai relasi komunikasi maupun emosional yang sudah terbina. Sayang perkawinan dikalangan orang batak saat ini menjadi terfokus hanya untuk mengikuti syarat protokoler dan formil praktis saja atau hanya mengurusi pemeran pranata suhi ni ampang saja tidak lagi hakekat yang terkandung dalam suhi ni ampang tersebut.

Akibat adanya hubungan perkawinan adat maka menimbulkan hubungan pranata-pranata yang baru yaitu:

Hula-hula sebagai sebutan bagi pranata yang menyerahkan siperempuan.

Boru sebagai sebutan bagi penerima siperempuan.

Dongan Sabutuha sebutan bagi pranata yang semarga/marga yang sama.

Didalam perkembangan rumah tangga dari pria dan perempuan yang baru menikah tersebut selanjutnya dan terutama setelah mempunyai keturunan/anak akan muncul sebutan baru dari anaknya yaitu:

Oppung artinya orang agung, yakni sebutan cucu kepada kakek neneknya.

Tulang sebutan untuk paman artinya pihak yang telah menyerahkan tulang rusuk bagi pria yang menikahkarena si pria yang menikah telah mendapatkan pengganti tulang rusuknya yaitu istri yang dinikahnya tersebut.

Amangboru/Namboru artinya sebutan dari garis perempuan pada kaumnya yang sudah cukup mampu untuk dituakan, semisalnya telah menikah ataupun cukup dewasa.

Ungkapan yang mengatakan “adat do ugari, sini-hathon ni Mulajadi, siradoton manipat ari, siulaon di siulubalang ari“ merupakan suatu pernyataan yang diterima dan diakui oleh seluruh masyarakat Batak.Artinya adat adalah hukum dan aturan yang harus dipelihara sepanjang hari dan dilaksanakan sepanjang hidup. Adat diterima sebagai suatu kewajiban agar perjalanan hidup pribadi, keluarga serta masyarakat berjalan dengan tenteram, tertib dan sejahtera.

Penghargaan demikian tinggi atas nilai-nilai yang baik dalam adat istiadat Batak membuat manusia Batak takut melanggarnya, takut tidak menjadi bagian manusia yang baik, takut dicap sebagai manusia tidak beradat. Sesuatu yang harus diartikan dalam konteks peradaban modern sekarang yang telah mengenal berbagai agama , namun tetap mempunyai penghargaan yang tinggi selaku manusia yang beradat, karena nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat batak senyatanya banyak yang sejalan danbernilai sama dengan yang diatur oleh nilai-nilai agama.

 

ADAT NA GOK/“MEMBAYAR ADAT”

Dikatakan Perkawinan Adat Nagok, jika acara itu sudah dihadiri dan direstui/ditolopi Suhi ni Ampang Na Opat (Dalihan Na Tolu + Raja) dari masing-masing pihak suhut. Bagi orang yang sudah menyelenggarakan adat nagok, disebut juga ia sudah membayar adatnya. Dan bagi yang belum menyelenggarakan adat na gok disebut “belum diadati” yaitu jika ia mangalua (kawin lari) kawin tanpa persetujuan kedua belah pihak ataupun maiturun jika mereka kawin dengan persetujuan masinga-masing pihak tetapi acara adat na gok belum dapat diselenggarakan saat itu.

Orang yang belum diadati, tidak berhak menyelenggarakan adat (memberi  atau menerima adat) baik adat kematian maupun adat semasih hidup. Misalnya seseorang tidak bisa menyelenggarakana adat perkawinan anaknya jika ia sendiri belum diadati. Demikian juga sehari-hari, ia tidak bisa mangulosi dan juga berbicara/jurubicara acara adat atau raja parhata dalam satu acara adat. Aturan ini sangat logis, karena bagaimana seorang menyelenggrakan adat sementara ia sendiri belum membayar/masih utang adat.

Dalam beberapa peristiwa seseorang terpaksa buru-buru mangadati ketika ia mau mengawinkan anak atau boru (undangan sudah jalan) dan mereka belum mangadati.Hal ini sesungguhnya tidak dapat di benarkan dan“sada hailaan” do on. Kenapa selama ini dia “belum bayar utangnya”.

Sekarang ini ada pergeseran, dang mangadati be angka na umposo alani alasan ekonomis dan praktis bahkan mereka berprinsip untuk apa menghamburkan uang sebanyak itu sementara setelah menikah tingal di kontrakan kecil dan tidak punya perlengkapan rumah tangga, jika memang punya dana sebanyak itu lebih baik beli rumah kecil sederhana berikut perlengkapannya. Pendapat ini ada benarnya dan dan dapat kita terima namun bukan berarti menjadi alasan untuk tidak mangadati karena ada solusinya.

Ai adat do nametmet adat do na balga. Manggarar adat (adat na gok) tidak harus di gedung dan menghabiskan dana puluhan hingga ratus juta. Di rumah pun dilaksanakan hal itu sah asal dihadiri dan direstui/ditolopi Suhi ni Ampang Na Opat (Dalihan Na Tolu + Raja) dari masing-masing pihak.

 

DALIHAN NATOLU

Satu  identitas  khusus  yang  meliputi seluruh orang Batak   ̶  yang tak dipunyai oleh suku lain di Indonesia  ̶   ialah pembagian masyarakat atas tiga golongan fungsional, yang disebut  dengan  istilah  Dalihan Na Tolu. Tiga  golongan fungsional tersebut adalah: dongan sabutuha , boru dan  Hula-hula,  mewakili (represent)  dunia bawah, tengah dan atas.  Ketiganya  bersama-sama  membentuk  sebuah  komunitas masyarakat (microcosmic). Sistem sosial Dalihan Na Tolu juga merupakan refleksi dari Debata Na Tolu.  Batara Guru, penguasa benua bawah, diwakili hula-hula, memakai simbol ulos. Soripada, penguasa Benua Tengah, diwakili dongan sabutuha, memakai simbol pustaha, berisi aturan-aturan yang mengatur tata-tertib dan kerjasama keseluruhan kosmos. Balabulan, penguasa Benua Atas, diwakili oleh boru, memakai simbol piso. Masing-masing unsur tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda, namun saling melengkapi satu sama lain.

Pengertian Dalihan Na Tolu secara literal adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu.  Pada zamannya,  kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu,  dalam bahasa Batak disebut dalihan.  Falsafah Dalihan Na Tolu dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.  Tungku merupakan  bagian peralatan rumah yang sangat vital karena digunakan  untuk  memasak  makanan  dan  minuman  yang  terkait  dengan  kebutuhan untuk hidup keluarga.  Dalam prakteknya, kalau memasak di atas Dalihan Na Tolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk yang ukurannya tidak sama persis. Maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal agar posisinya dapat sejajar.  Dalam  bahasa Batak, benda itu disebut sihal-sihal. Maka kemudian muncul istilah falsafah dalihan na tolu paopat sihal-sihal.

Dalihan Na Tolu dalam pengelompokan masyarakat bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula-hula, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu dan ada saatnya menjadi Boru. Prinsip Dalihan Na Tolu tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. (Sebagai contoh : Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur (berperan sebagai Boru) harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat (Berperan sebagai Hula-hula). Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan sistem demokrasi Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai-nilai yang universal.

Dalihan Na Tolu diuraikan dalam tiga tatanan adat :  Manat mardongan tubu, Elek marboru dan Somba marhula-hula.  Itulah  tatanan adat Batak  yang cukup  adil  dan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial sejak lahir sampai meninggal dunia.  Ketiga-tiganya saling berhubungan menurut pola tertentu, sehingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Setiap orang Batak akan menduduki  semua posisi dalam konteksnya masing-masing.  Ada  saatnya  menjadi hula-hula, di saat lain bisa menjadi boru atau dongan tubu.  Semua  posisi ini memiliki kewajiban dan hak masing-masing yang harus dijalankan dengan senang hati, bahkan sebelum diminta.

 

  1. Manat mar-Dongan Tubu

Dongan tubu (dongan sabutuha) adalah saudara semarga atau  sekelompok masyarakat dalam satu rumpun marga, yaitu orang-orang  seketurunan menurut garis bapak; para turunan laki-laki dari satu leluhur.  Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk.Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga.Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat, mereka menyatukan diri. Misalnya, Tuan Somanimbil menjadi  Siahaan, Simanjuntak, dan Hutagaol. Atau Toga Sihombing, terdiri dari Silaban, Lumbantoruan, Nababan dan Hutasoit.

Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan pertumpahan darah. Itulah sebabnya orang Batak diperintahkan untuk manat mardongan tubu, yang artinya: menaruh hormat dan bersikap hati-hati kepada saudara semarga agar tidak menyakiti hatinya. Untuk merencanakan suatu adat (pesta kawin atau kematian), orang Batak selalu membicarakannya terlebih dahulu dengan saudara semarga. Hal itu berguna untuk menghindarkan  kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat.

Apabila dalam suatu adat Batak terdapat pelecehan atau sikap meremehkan teman semarganya, biasanya akan berakhir dengan perdebatan sengit bahkan sampai pada perkelahian. Masalah warisan juga sering menjadi penyebab pertikaian di kalangan na mardongan tubu. Hal itu dapat dipahami, karena suatu keluarga yang bersaudara antara abang dan adik tidak terdapat batas-batas. Karena dekatnya hubungan na mardongan tubu, dapat selalu memanggil nama, khususnya kepada tingkat di bawahnya. Misalnya panggilan “ho” (kau), “ampara” (saudara),  “amani aha” (bapa si …),  dan lain-lain, panggilan yang sangat akrab. Namun harus diingat, dalam keakraban itulah terdapat peluang-peluang sakit hati yang menimbulkan pertikaian atau perkelahian.

Sebuah nasihat untuk mengingatkan orang Batak: Molo naeng ho sangap manat ma ho mardongan sabutuha. Maksudnya adalah: “Jika kamu ingin  dihormati  maka  bersikap hormatlah kepada saudara semarga”. Atau dengan kata lain, “berikanlah hormat kepada orang yang menghormatimu”.   Sebutlah “amang” (bapa) kepada saudara semarga yang setingkat dengan ayah; “hahang” (abang) kepada saudara yang lebih tua; “anggia” (adik) kepada   saudara yang lebih muda.Jangan meninggikan diri kepada saudara semarga meskipun lebih kaya atau memiliki pangkat lebih tinggi.  Jika nasihat ini diikuti maka dengan sendirinya akan mendapatkan kehormatan di antara saudara semarga, bahkan kehormatan di tengah-tengah masyarakat.

 

  1. Elek Marboru

Yang termasuk Boru adalah:

  1. Anak perempuan
  2. Saudara perempuan dari laki-laki
  3. Kelompok Marga dari menantu laki-laki (hela)

Elek marboru adalah suatu sikap lemah lembut terhadap pihak “boru” agar dengan cara itu mereka mampu secara ikhlas mendukung pelaksanaan   acara adat. Sebuah nasihat Batak berbunyi demikian: Molo naeng ho mamora elek ma ho marboru. Artinya: “Jika kamu ingin memperoleh kekayaan, bersikap lembutlah kepada boru”. Bersikap lembut ini memiliki arti luas yang dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Tidak boleh memperlakukan boru dengan sikap yang tidak pantas.
  2. Tidak boleh menyuruh atau memerintah boru dengan paksa di segala waktu dan segala hal.
  3. Tidak boleh membentak-bentak boru
  4. Tidak boleh menolak keinginan boru. Jika terpaksa harus menolak karena tidak tersedia apa yang diharapkan boru, maka tidak boleh memarahinya tapi  harus  menyampaikan  dengan kata-kata yang halus.
  5. Harus lemah-lembut dalam berkata-kata dan bersikap santun saat menyuruh atau mengharapkan sesuatu dari boru.
  6. Harus bersikap baik dan menyapa dengan halus setiap saat.

Konsep hamoraon dalam kultur Batak cenderung bersifat materialistik. Ajaran adat Dalihan Na Tolu dapat berjalan efektif, jika pelaksanaannya berorientasi pada ajaran hidup kekerabatan Batak yang bersifat “family atmosphere”, artinya kekayaan materi itu tidak bersifat individualistis dan selalu dikaitkan dengan kepentingan keluarga dekat. Jika orang Batak (hula-hula) bersikap lemah-lembut dan santun kepada borunya, pasti boru berserta suami dan keluarganya  akan  selalu  mengasihi,  mencari,  dan  tidak  akan tega melihat kerepotan Hula-hula.  Mendapatkan kasih sayang dan pelayanan dari boru itulah yang dimaksud dengan kekayaan (hamoraon) yang sesungguhnya.

 

  1. Somba marhula-hula

Hula-hula adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu (marga dari pihak perempuan). Yang termasuk dalam golongan hula-hula:

  1. Simatua, yakni mertua (orang tua istri) beserta abang dan adiknya, serta saudara-saudaranya semarga.
  2. Tulang atau Simatua ni Ama, yakni mertua ayah beserta saudara-saudaranya semarga
  3. Bona Tulang atau Simatua ni Ompung, yakni mertua dari Ompung beserta saudara-saudaranya semarga.
  4. Bona ni ari yakni mertua dari ayah ompung beserta saudara-saudaranya semarga. Bona ni ari  merupakan lapisan hula-hula tingkat teratas.
  5. Hula-hula pangalapan  boru,  yakni  mertua  dari  putra-putri  seseorang, yang telah berumah tangga beserta saudara-saudaranya semarga.

Pihak hula-hula menempati kedudukan yang terhormat dalam masyarakat Batak. Penghormatan  tersebut  harus  selalu  ditunjukkan  dalam sikap, perkataan dan perbuatan. Orang Batak harus somba mar hula-hula, yang berarti harus bersikap hormat, tunduk serta patuh terhadap hula-hula.  Keputusan hula-hula  dalam musyawarah adat,  sulit ditentang.  Dalam adat  Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki.Pihak perempuan pantas dihormati karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada suatu marga.Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung (kakek) dan seterusnya.

Hula-hula diibaratkan sebagai sumber air kehidupan, karena dianggap merupakan pangalapan pasu-pasu dohot pangalapan tua, yakni merupakan sumber berkat dan kebahagiaan, terutama berkat berupa keturunan putra dan putri. Pihak boru tidak akan berani melawan hula-hulanya karena diyakini perbuatan itu akan dikutuk oleh sahala hula-hula, sehingga dia tidak akan memperoleh keturunan, sengsara, jatuh sakit, panen gagal, kemalangan dan   sebagainya.

Sahala adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang.Sahala mencakup kewibawaan, kekayaan harta benda dan turunan, keberanian, kegagahan, kecerdasan, kecerdikan, kemahiran bicara, keluhuran budi, rasa keadilan, kesaktian dalam ilmu gaib,  pengetahuan yang luas,  dan lain sebagainya. Sahala is the quality, natural disposition as well as the destiny of man. Boru memandang hula-hula sebagai orang yang dikaruniai dengan sahala. Sahala ini dapat memencarkan pengaruh yang berfaedah dan menyelamatkan bagi boru, tetapi dalam pada itu, kekuasaannya menciptakan rasa takut dan hormat kepadanya. Sekelompok kecil warga Batak masihmenerapkan ajaran Dalihan Na Tolu bersifat spiritisme, yaitu kepercayaan akan adanya kuasa arwah (roh) nenek moyang, karena adanya sahala tersebut.

Kualitas hasangapon (kedudukan terhormat) suatu keluarga tidak lepas dari penerapan ajaran Dalihan Na Tolu, yaitu suatu proses adat melalui upaya mendapatkan doa berkat dari hula-hula. Doa berkat itu umumnya diyakini suku Batak memberikan berkat hamoraon (kekayaan) dan hagabeon (keturunan),  suatu keyakinan yang sulit dijelaskan tetapi nyata dalam kehidupan setiap warga Batak, di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja yang menerapkan ajaran adat Dalihan Na Tolu.Molo naeng ho gabe, somba/hormat ma ho marhula-hula. Artinya: “Kalau kamu mau mendapat keturunan, hormatlah kepada Hula-hula”.

Terdapat juga umpasa (ungkapan): Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak adalah ubi yang dianggap   sebagai salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo). Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar,  seakan-akan busuk dan isinya berair.  Pernyataan itu mengandung makna: “Pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah”.

Di dalam satu wilayah, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula. Apabila dalam suatu keluarga terdapat penderitaan atau kesusahan hidup. Ada pemikiran, semasa hidup pendahulu dari generasi yang sengsara atau menderita itu   terdapat   sikap-sikap   yang  tidak  menghormati  hula-hula,  sehingga  pernyataan siraraon do gadongna dianggap menjadi bala dalam kehidupannya. Untuk menghilangkan bala itu, diadakanlah upacara adat mamboan sipanganon untuk memohon ampun apabila ada kesalahan-kesalahan generasi terdahulu  kepada pihak hula-hula.

 

UNSUR KELENGKAPANDALAM ULAON ADAT

Ketika akan melaksanakan ulaon terlebih dahulu dibicarakan antar marhaha-maranggi (hasuhuton) , Selanjutnya diberitahukan kepada horong ni boru untuk manghobasi ulaon i, Setelah itu meminta panuturion dari horong ni hula-hula. Untuk terwujudnya suatu ulaon Adat maka  Dalihan Natolu  mempunyai peranan penting. Dalam suatu ulaon adat maka ada beberapa pihak yang terlibat dan beberapa hal yang perlu dipasahat kepada hula-hula dan yang diberikan hula-hula untuk terpenuhinya dalihan na tolu yaitu :

 

  1. HASUHUTON

Pada dasarnya Kearifan Habatakon sudah lengkap untuk mengantisipasi kehidupan masyarakatnya sampai ke akhir jaman. Hanya saja ada diantara kearifan itu yang sempat kehilangan makna tergilas oleh masa dan keadaan dan sudah sangat layak untuk ditemukan dan digali kembali.

Keluarga Inti. Dalam mengawali sebuah perhelatan (pesta adat) maka hubungan kekerabatan terkecil sudah harus berkumpul untuk membicarakannya. Dalam pembicaraan ini dan harus hadir 4 unsur kekeluargaan terdekat yaitu:

  1. Suhut Sihabolonanadalah Yang akan melaksanakan ulaon adat.
  2. Namarhahamaranggi adalahKakak beradik kandung dari yang akan melaksanakan ulaon adat.
  3. Saboltokadalah Kakak beradik dari tingkat bapak atau kakek yang akan melaksanakan ulaon adat.
  4. Boruadalah Marga yang mengambil pihak perempuan dari yang akan melaksanakan ulaon adat

Dongan Tubu. Semua saudara semarga terutama yang paling dekat hubungan kekeluarganya sudah harus diikut sertakan dalam pelaksanaan sebuah ulaon adat.
Boru. Semua marga terdekat yang telah memperistri saudara perempuan dari yang melaksanakan ulaon adat.
Raja/Raja Huta/ Ale-ale. Menjadi satu kelompok yang diikutsertakan dalam pelaksanaan sebuah ulaon adat. Raja pada jaman dahulu (Sebelum Indonesia Merdeka) disebut juga sebagai Bius atau Raja Bius, ikut berperan untuk memberikan masukan untuk hal-hal yang baik yang akan dilaksanakan dalam sebuah perhelatan. Sementara Raja Huta yang hanya ada dalam satu kampong juga diikutkan dan sekarang ini yang lazimnya berlaku di daerah perantauan dimana masyarakatnya tidak lagi homogen tetapi masih berhubungan erat dalam bentuk kekerabatan. Dan Ale-ale biasanya sebagai tempat curhat untuk mendukung semangat baik secara moral maupun material untuk mendukung pelaksanaan sebuah hajatan.

 

  1. PROTOKOL

Di setiap ulaon unjuk  biasanya selalu ada yg bertugas menjadi Protokol.

Tugas (ulaon) Protokol:

  1. Koordinasi/komunikasi dengan kedua belah pihak hasuhuton.
  2. Mengatur (patotahon) tempat duduk bagi semua undangan.
  3. Mengundang masuk ke dalam gedung (manjou haroro ni) tutur (hula-hula & tulang).
  4. Menyampaikan (manghatahon) tudu-tudu ni sipanganon(paranak) atau pasahat dengke(parboru).
  5. Mengatur / menentukan yang akan memimpin doa dan yang akan manghatahon sira ni sipanganon.
  6. Mangatur namanjahahon daftar dengke na jinalo sian hula-hula dohot angka dengke siuk sian namarhaha maranggi.
  7. Menyampaikan(passahathon) tu Panamboli/Parsinabung asa marbagi jambar.
  8. Manggorahon paidua ni suhut laho manggora di nalaho manjalo tumpak. (baca tulisan tugas ni paidua suhut).
  9. Manangkasi parhundul ni hula-hula dohot tulang sebelum memulai panghataion(persiapan marhata sinamot).
  10. Mangalusi dohot manungkun protokol ni parboru/paranak.
  11. Pasahathon panghataion tu Parsinabung/Panamboli

 

  1. PARSINABUNG

Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut adalah juru bicara adat yang dipilih melalui kesepakatan berjenjang mulai dari lingkar terdekat ahli bait atau punya hajatan (baca: Hasuhuton) hingga ke tingkat paling atas dalam satu ompu ataupun satu kelompok marga Batak.
Proses kesepakatan berjenjang untuk memilih Parsinabung atau Parsaut di dalam Batak disebut Marsirenggetan atau Marsiarisan na Mardongan Tubu sebagai implementasi Manat Mardongan Tubu yakni hati-hati, waspada, saling hormat-menghormati, seia sekata, sehati sepikir, serasa dan sepenanggungan seperti bunyi umpama,” Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, si sada anak, si sada boru, si sada adat, si sada ulaon, si sada tano, si sada las ni roha, si sada arsak ni roha, dan lain sebagainya.
Parsinabung atau Parsaut adalah sebuah bentuk demokrasi langsung yang dilakukan melalui musyawarah menuju mufakat bertingkat berjenjang, mulai dari paidua ni suhut, oppu martinodohon, maroppu-oppu, dan/atau tingkatan marga yang disebut panamboli pada suatu ulaon adat Batak.

Tingkatan Panamboli inilah biasanya menjadi Parsinabung atau Parsaut pada satu pesta atau ulaon adat Batak. Kedudukan Parsinabung atau Parsaut pada suatu pesta atau ulaon adat adalah juru bicara tunggal memiliki otoritas memandu, mengarahkan, mengatur seluruh lalu lintas prosesi adat, baik Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai laki-laki (baca: paranak) maupun Parsinabung atau Parsaut pihak mempelai perempuan (baca: parboru).

Seluruh prosesi ulaon adat dipandu, diarahkan, serta diatur oleh Parsinabung atau Parsaut sebagai juru bicara tunggal atas nama satu oppu dan/atau satu marga, sehingga bila prosesi pesta atau ulaon adat telah diserahkan kepada Parsinabung atau Parsaut maka keluarga, kerabat pihak paranak maupun pihak parboru sangat tidak elegan lagi bila masih mencampuri pembicaraan (baca: manjullukhon hatana) ketika Parsinabung atau Parsaut sedang berbicara.
Posisi strategis Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut pada sebuah pesta atau ulaon adat sama seperti seorang moderator sebuah seminar ilmiah yang mengatur, memandu, mengarahkan lalu lintas seminar agar berjalan dengan baik dan lancar.
Demikian halnya, seorang Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut bertugas, berperan mengatur, memandu, mengarahkan seluruh mekanisme prosesi pesta atau ulaon adat sejak dari pelimpahan hak dan tanggung jawab Parsinabung, Parsinabul atau Parsaut melalui proses Marsirenggetan atau Marsiarisan na mardongan tubu memegang tanggung jawab penuh dengan otoritas legalitas hukum adat yang dibangun melalui musyawarah bertingkat berjenjang dari lingkaran terdekat ke lingkaran terluar dari suatu struktur komunitas Batak.

Umpama Batak mengatakan,”Molo sandunuk dangkana, sandunuk do rantingna. Molo hasuhuton hahana, angina ma parsautna, dohot sabalikna”. Artinya, jika si abangan hasuhuton maka adiknya lah Parsinabung atau Parsaut yang mengatur, mengarahkan, memandu ataupun juru bicara pesta atau ulaon adat tersebut.
Karena Parsinabung atau Parsaut diangkat dan/atau ditunjuk melalui musyawarah bertingkat dan berjenjang (baca: Marsirenggetan manang Marsiarisan) maka kedudukan atau posisi seorang Parsinabung atau Parsaut adalah mewakili seluruh hasuhuton, paidua ni suhut, maroppu-oppu, ataupun satu marga tertentu maka seorang Parsinabung atau Parsaut bertindak atas nama seluruh komunitas tersebut. Sehingga seorang Parsinabung atau Parsaut sering mengatakan, ”sada si lompa gadong, dua si lompa puli. Tung sada pe sidok hata, sude ma hita dapotan uli”. Artinya, jika satu orangpun berbicara (baca: Parsinabung atau Parsaut) maka seluruh komunitas mendapat berkat atau kebahagiaan.
Sebagai juru bicara tunggal memiliki otoritas seorang Parsinabung atau Parsaut harus mampu memerankan diri perekat (baca: mangarangkum) seluruh pihak-pihak yang terlibat pada suatu pesta atau ulaon adat dengan selalu berikhtiar atau beraksioma, ”Marsilanlan uruk-uruk, marsilanlan aek toba, na metmet ndang marungut-ungut, na matua pe tongtong marlas ni roha”. Artinya, Parsinabung atau parsaut harus mampu serta berupaya keras untuk menciptakan kenyamanan, keamanan, kebahagiaan, suka cita pihak-pihak yang terlibat di dalam pesta atau ulaon adat dengan demikian tidak ada yang bersungut-sungut atau merengkel mulai dari anak-anak hingga para orang tua.

 

  1. PANAMBOLI

Panamboli adalah bagian rusuk muka setentang leher pada Jambar Juhut. Pada acara ulaon adat maka Panamboli adalah Sibagi Jambar.

 

  1. TANDOK BORAS SIPIRNITONDI

Tandok adalah alat hantaran atau wadah yang terbuat dari anyaman bayon (pandan).

Bagi orang Batak, tandok sangatlah penting dan digunakan saat upacara adat dan seremonial lainnya.

Pada umumnya wadah ini untuk tempat beras/ padi yang dihantar/ dijungjung sebagai persembahan. Pada umumnya kaum ibulah yang mengusung tandok disemua acara adat dan seremonial lainnya. Selain tempat beras/ padi, juga digunakan untuk tempat nasi biasanya suku Karo disebut Sumpit. Ukurannya sangat bervariasi dari sekitar 30 cm, 1 meter sampai 3 meter, yang disebut juga tandok raksasa.

Dalam upacara Batak, tandok akan dijungjung di atas kepala oleh kaum ibu sambil manortor (menari). Biasanya tandok akan diusung dalam acara adat seperti, Pesta Mangadati, Mangongkal Holi, Upacara Adat tu na monding, Tardidi, dll.

 

Bagi suku Batak boras (beras) tidak hanya untuk kebutuhan jasmani (makan) belaka.

Boras dalam suku Batak mempunyai makna yang luar biasa serta memiliki nilai historis

yang tinggi. Kata Boras Sipir Ni Tondi seperti judul di atas misalnya, sangat kuat artinya.

Terjemahan langsung dari judul di atas. Pertama, boras berarti beras.

Kedua, sipir yang kata dasarnya adalah “pir” artinya keras dan kuat.

Ketiga, “ni” adalah kata penghubung pada bahasa Batak.

Keempat, Tondi artinya adalah roh dalam diri manusia.
“Boras Sipir Ni Tondi”, artinya beras penguat roh dalam diri manusia.

Suku Batak memang banyak menyimpan budaya yang sangat luar biasa.

Dan penulis merasakan kekayaan budaya yang kaya itu harus dijaga dan dilestarikan.

Boras sipir ni tondi dikatakan luar biasa karena ada nilai sejarah yang terkandung.

Dan jika saya tuturkan logika berpikir Suku Batak ketika dahulu sangat luar biasa dan  pantas diapresiasi.
Boras sipir ni tondi biasanya digunakan dalam acara adat Batak, baik dalam adat na gok (pesta besar) maupun pada adat di jabu (keluarga).  Dalam ulaon  pasti biasanya pihak parboru atau hula-hula membawa boras (beras) dalam tandok. Uduran (rombongan) parboru atau hula-hula dalam adat batak sebagai pengganti tumpak (amplop) memang membawa beras dan Ulos bagi Hula-hula takasan atau Tulang (saudara laki-laki ibu).

Kita juga akan saksikan dalam acara Adat Batak setiap Hula-hula atau Tulang atau orang tua setelah menyematkan ulos akan mengambil boras yang sudah di sediakan untuk diberikan di atas kepala yang dipestakan (yang mangadati) kalau dalam pesta pernikahan. Apabila pesta dukacita (ulaon na habot ni roha) diberikan kepada mereka (keluarga) yang berdukacita. Dan setelah diberikan di atas kepala maka akan dikatakan, horas..horas…horas…dan semua peserta pesta sama-sama mengucapkan kata horas sebanyak tiga kali.

Pada saat memberikan boras sipir ni tondi, biasanya yang memberikan adalah mereka yang dituakan. Dan sama pemberiannya diberikan diatas kepala sambil mengatakan “sai mulak ma tondim tu daging mu” (semoga roh mu kembali ke dalam tubuh jasmanimu). Demikianlah pentingnya peranan boras sipir ni tondi bagi suku Batak. Dan ritual ini menjadi penting dan cukup bermakna.

Sejarah Boras Gabe Sipir Ni Tondi

Menurut ceritanya dari oppu si jolo-jolo tubu (para pendahulu) boras dibaen gabe sipir ni tondi (beras di buat menjadi sipir ni tondi) karena proses menjadi nasi sehingga bisa dimakan sangat panjang dan banyak memakan tenaga.

Kita coba mulai dari bagaimana beras mulai dari ditanam. Untuk menghasilkan bibit yang baik biasanya para pendahulu suku Batak menjemur pada yang akan dijadikan bibit lebih lama sehingga kering betul. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan bibit unggul. Dan tidak lupa pula padi yang akan menjadi bibit harus pilihan. Setelah itu barulah padi yang sudah kering benar di tabur ditempat khusus sebelum ditanam ke sawah.

Kemudian setelah padi menjadi besar dan siap dipanen juga akan memakan waktu yang tidak sedikit. Padi yang siap panen pada masa itu harus menunggu kurang lebih 8 bulan. Hal ini tentu saja menjadi penantian yang panjang untuk menghasilkan padi dibandingkan saat ini, yang waktu panen setelah penanaman hanya memakan waktu 3 bulan (90 hari).

Padi yang setelah dipanen juga harus di pisahkan dari batangnya. Dan pemisahan ini juga harus dilakukan dengan istilah sistem membanting. Artinya cara kerjanya akan memakan tenaga yang begitu besar. Lagi-lagi saya harus membandingkan dengan masa sekarang ini. yang bisa lebih cepat denagn bantuan teknologi mesin. Barulah setelah proses ini padi dijemur sampai kering benar.

Proses selanjutnya yang patut dicermati adalah bagaimana padi menjadi beras. Proses ini juga memakan waktu yang sangat unik dan luar biasa. Pada bagian ini padi yang sudah kering supaya menjadi beras harus melalui proses didege-dege (dipijak-pijak) dengan tujuan supaya kulit padi bisa terkelupas. Kemudian dilanjutkan dengan manduda (ditumbuk) menggunakan alat khusus yang di kenal suku Batak dengan losung. Losong terbuat dari kayu yang di beri lubang ditengahnya dan mempunyai alat penumbuk berupa balok yang panjangnya kurang lebih 2 meter dan memiliki diameter sekitar 5-10cm atau sebesar tangan orang dewasa.

Artinya padi yang telah dijemur kering akan ditumbuk menggunakan losung sedikit demi sedikit. Dan ini terus dilakukan untuk menghasilkan boras (beras). Tentu saja ini membutuhkan kesabaran dan ketekunan karena ini pasti memakan waktu dan tenaga yang banyak. Dengan kerja keras dan ketukunan barulah di dapatkan butir-butir beras setelah padi yang ditumbuk diayak (untuk memisahkan kulit padi). Setelah itu dipiar untuk memisahkan butiran beras yang bagus denagn monis (pecahan beras yang kecil-kecil).
Jadi menurut perkiraan mulai dari proses pembibitan sampai menjadi beras memakan waktu satu tahun. Maka pada masa itu untuk menyimpan padi sebagai cadangan makanan setiap keluarga dirumah mempunyai lumbung padi di rumah masing-masing atau yang dikenal dalam bahasa Batak padung, dan satu lagi tempat penyimpanan pada dikenal dengan nama oppon.Beras yang begitu keras itu menjadi lembut, empuk dan enak untuk dimakan dari proses yang sangat luar biasa dan penuh perjuangan.

 

  1. TUDU-TUDU SIPANGANON

Tudu-tudu sipanganon yang arti harafiahnya penanda perjamuan (bila dalam keadaan lengkap disebut na margoar atau bagian-bagian hewan yang diberi nama sesuai dengan yang berhak menerimanya dalam parjambaran atau pembagian daging hewan) adalah bagian-bagian tertentu hewan sembelihan yang diletakkan di tengah-tengah sebagai simbol penghormatan hasuhutankepada undangannya khususnya hula-hula. Maksudnya: untuk menjamu hula-hula pihak tuan rumah tidak membeli daging kiloan (rambingan) tetapi rela mengorbankan nyawa satu ekor hewan. Sebagai balasannya hula-hula akan memberikan ikan (dengke) dan beras. (Dahulu disebut boras sipir ni tondi atau beras penguat roh, sekarang bagi komunitas Batak-Kristen harusnya disebutboras parbue atau beras buah kehidupan).

Sering kita saksikan pada jaman sekarang sewaktu menyerahkan tudu-tudu sipanganon atau penanda perjamuan pihak keluarga akan beramai-ramai memegang piringnya dan kalau mereka terlalu banyak jumlahnya akan saling memegang bahu, seolah-olah ada sesuatu yang hendak dialirkan. Padahal kesaksian orang tua-tua pada jaman dahulu tidak begitu. Tudu-tudu sipanganon cukup diletakkan di tengah-tengah ruangan di hadapan undangan terhormat.

Bagi kita orang Kristen lebih baik tudu-tudu sipanganon diletakkan di tengah tengah ruang agar tidak menimbulkan salah tafsir seolah-olah makanan itu memilikikekuatan magisatau menjadi medium penyaluran berkat. Sebab tudu-tudu sipanganon itu hanyalah simbolpenghormatan kepada undangan bahwa jamuan dilakukan dengan khidmad dan sepenuh hati. Tidak ada

 

  1. DEKKE

Dekke  atau ikan mas  adalah wujud nyatanya. Yakni sebuah hidangan khas Batak yang menjadi simbol berkat kehidupan.Ikan mas yang diberikan haruslah dalam jumlah ganjil, yaitu satu, tiga, lima, tujuh. Masing-masing jumlah ini memiliki arti sesuai dengan ketentuan adat Batak. Artinya yaitu:

  1. Satu ekor diperuntukkan bagi pasangan yang baru menikah
  2. Tiga ekor bagi pasangan suami- istri yang mendapatkan anak
  3. Lima ekor bagi orang tua yang sudah mempunyai cucu
  4. Tujuh ekor diperuntukkan bagi pemimpin bangsa Batak saja. Dan jarang dipergunakan dikarenakan jumlah ini dianggap sudah melewati batas masa kehidupan seseorang.

Jika anak lahir, terutama jika yang lahir adalah anak pertama. Sesuai hukum adat Batak, pihak hula-hula (kelompok marga dari si ibu) harus menyediakan pasu-pasu yang dimanifestasikan dalam bentuk dekke. Tiga ekor ikan Mas yang diberikan melambangkan bahwa telah bertambah satu orang anggota dalam keluarga tersebut. Satu untuk si Bapak, satu bagi ibunya, dan satu lagi untuk anak yang baru lahir tersebut.

Bagi pasangan yang baru menikah, jumlah ikan yang diberikan orang tua sigadis hanya satu ekor ikan mas yang mana ini melambangkan harapan bahwa kedua orang yang mengikat diri dalam jalinan pernikahan tersebut telah menjadi satu. Ikan mas yang diberikan ini sekaligus melambangkan berkat-berkat dari orang tua yang melepas si gadis karena ia telah menjadi bagian dari keluarga suaminya. Ikan mas yang diberikan adalah ikan betina yang bertelur.

Hal ini diwajibkan bagi pasangan suami-istri yang baru menikah sebagai pertanda bahwa orang tua si perempuan berharap agar borunya (anak perempuan) dapat memiliki keturunan.

Penyajian dekke ini pada dasarnya tidak boleh sembarangan dikarenakan banyaknya makna yang terkandung didalamnya. Dekke yang akan disajikan haruslah tetap dalam kondisi utuh, mulai dari kepala hingga ekor. Sisiknya pun tidak boleh dibuang. Ini melambangkan gambaran utuh kehidupan manusia. Ikan tidak boleh dipotong-potong karena orang yang menerimanya tidak akan memperoleh keturunan, memotong-motong ikan ini sama artinya dengan mengharapkan orang yang menerimanya tidak memperoleh keturunan.

Selain itu dekke  ini harus disajikan dalam posisi berenang dengan kepala menghadap ke orang yang menerimanya. Bila jumlahnya lebih dari satu, maka semua ikan harus dibariskan sejajar. Dalam bahasa Batak disebut dekke si mundur, keluarga yang menerima ikan ini diharapkan dapat berjalan sejajar atau beriringan menuju arah dan tujuan yang sama. Sehingga bila ada permasalahan dan rintangan yang menghalangi dapat diselesaikan secara bersama oleh setiap anggota keluarga.

 

  1. TUMPAK

Arti harafiah tumpak adalah sumbangan bentuk uang, tetapi melihat keberadaan masing-masing dalam acara adat. Mungkin istilah yang lebih tepat adalah tanda kasih.Sebagai tanda kasih, siapakah yang memberikan tumpak dan kepada siapa ? Semuanya itu tergantung ulaon (acara) adat nya.Yang memberikan tumpak adalah undangan Suhut Paranak (undangan pihak keluarga mempelai pria). Termasuk di antara undangan Suhut Paranak adalah: Dongan tubu, Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale.Setelah selesai santap makan, Protokol Paranak memohon ijin kepada Protokol Parboru agar di beri waktu untuk menerima undangan yang akan pasahat tumpak. Biasanya Pamarai pihak paranak bertugas menyampaikan “mangido pagurupion” (silahkan baca tulisan tugas Pamarai, Simanggokhon &  Paidua Ni Suhut Paranak). Undangan menyerahkan TUMPAK dengan datang panggung ke tempat SUHUT duduk sembari memasukkan amplop (ampau) ke dalam Ampang/Jual (wadah tempat manjalo tumpak) yang disediakan dihadapan Suhut Paranak, Namun ada juga yang langsung di salamkan ke Suhut Paranak.

Ulaon Sari Matua , Saur Matua, Maulibulung

Yang memberikan tumpak adalah : Dongan tubu, Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale.

Setelah Paidua ni Suhut manggora, maka : Dongan tubu, Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale menyerahkan TUMPAK dengan datang ke tempat SUHUT (anak almarhum) berdiri sembari memasukkan amplop (ampau) ke dalam Ampang/Jual (wadah tempat manjalo tumpak) yang disediakan di hadapan Putra tertua almarhum.

Note:

Di ulaon mamoholi, tardidi dan malua (lepas sidi) biasanya Boru, Bere – Ibebere termasuk Ale-ale menyalamkan amplop berisi uang.

Amplop berisi sejumlah uang tersebut tidak masuk kategori tumpak namun sebagai :

Ulaon Disebut Diserahkan ke
Mamoholi / Tardidi Pasibadak/Pasibaju Ibunya Bayi
Malua / Lepas Sidi Si Palas roha ni namalua Yang lepas sidi

Dongan tubu  dan Dongan sahuta pun sudah lebih sering menyalamkan amplop. (mungkin melihat sisi praktisnya, padahal seharusnya Dongan tubu dan Dongan sahuta membawa Parbue Pir / beras).

 

  1. UMPAMA DAN UMPASA BATAK

Berbagai umpama dan umpasa batak  dibukukan dalam pustaha (kitab dari kulit kayu). Umpama dan Umpasa Batak  sejak berabad-abad yang lalu memegang peranan penting dalam kehidupan orang batak ; baik dalam hal adat maupun kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki fungsi:

  1. Nasihat
  2. Doa
  3. Pengakuan
  4. Hukum adat
  5. Menggambarkan sifat manusia
  6. Untuk menyindir perilaku seseorang
  7. Pedoman berdemokrasi

Begitu penting dan dalamnya makna umpama dan umpasa batak toba sehingga di setiap acara adat, pasti ada paling tidak salah satu di antara umpama atau umpasa yang diucapkan.  Dan bila umpasa yang diucapkan adalah suatu harapan yang juga menjadi harapan dari para hadirin, maka semua akan berkata “ima tutu”  (semoga demikian). Akan tetapi umpama dan umpasa batak memiliki perbedaan yang nyata.  Bagimana membedakannya?

Bila dibandingkan dengan sastra Indonesia pada umumnya, maka umpama adalah seperti peribahasa, sedangkan umpasa adalah seperti pantun. Sebagaimana layaknya peribahasa, umpama tidak memiliki sampiran, langsung ke tujuan.Contohnya: Jolo dinilat bibir asa nidok hata (Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbeicara). Sedangkan umpasa sebagaimana layaknya pantun, pasti memiliki sampiran. Contohnya: Napuran huta napuran Sipoholon (sampiran). Na so olo marguru ima jolma na londongon (isi). (makna secara bebas: orang yang tidak mau belajar adalah orang yang bodoh.

Umpama: Umpama adalah perumpamaan atau peribaratan. Semua kata bisa dipakai, kecuali kata-kata kotor dan porno. Misalnya:

  1. Ingkon songon poting, lam marisi lam so marsoara

(Makna: Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang, harus semakin hati-hati berbicara)

  1. Jempek do pat ni gabus

(Makna: sehebat apapun seseorang menutupi kebohongannya, cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga)

  1. Jolo dinilat bibir asa nidok hata

(Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbeicara)

  1. Lambiakmi ma galmit

(Makna: Bila orang tua mengeluhkan kelakuan anaknya yang kurang baik, sadarilah bahwa itu karena kekurangan orang tua dalam mendidik anaknya itu)

  1. Molo litok aek di toruan, tingkiron ma tu julu

(Makna: bila ingin menyelesaikan suatu permasalahan, carilah dahulu apa penyebabnya)

  1. Songon parlange ni si bagur, tio tu jolo, litok di pudi

(seperti katak berenang, jernih ke depan, keruh di belakang)

Makna: Seperti katak yang berenang, terlihat jernih di bagian depan, tetapi di bagianbelakang menjadi keruh.Ungkapan ini bermakna: Seseorang yang suka meninggalkan persoalan/ kekacauan di tempat yang ditinggalkannya.

Umpasa: pantun yang sarat dengan keinginan untuk mencapai sesuatu atau Doa Restu. Tidak asal enak di telinga atau menggelitik rasa humor semata. Setiap baris bahkan setiap kata mengandung makna mendalam dan saling terkait satu sama lain.

  1. Niarit tarugi bahen tusuk ni pora-pora. Molo naeng jumpangan uli ingkon olo do loja (Makna secara bebas: Kalau ingin hidup enak harus mau bekerja keras dulu)
  2. Niluluan tandok hapo dapot parindahanan. Tolap papangan mandok alai ndang tuk jamaon ni tangan (makna secara bebas: berbicara itu mudah tapi melakukannya adalah sulit)
  3. Urat ni nangka ma tu urat ni hotang. Tudia hamu mangalangka di si ma dapotan (makna secara bebas: ke mana kamu pergi, semoga di situ dapat keberuntungan)
  4. Salimbakbak salimbukbuk solot di pea-pea. Sahali pe margabus matua tano ndang porsea (makna secara bebas: sekali saja ketahuan berbohong, seumur hidup orang tidak akan percaya)

 

PARSITUAK NA TONGGI Dan PISO-PISO

Parsituak natonggi adalah penyelesaian acara adat somba-somba yang berupa uang  kepada semua Hula-hula. Diberikan sebelum acara Mangampu  sian suhut.

Philosofi pasituak natonggi : Ala antar dao (adong do jarak dang sahuta) hutani paranak tu parboru, jadi di pardalanan mulak atik jolo minum tuak nasida annon di lapo. (misalna sambil paimahon motor/angkot).

Piso-piso adalah penyelesaian acara adat somba-somba yang berupa uang kepada semua Hula-hula yang memberikan Ulos. Umpamanya : Ulos Saput. Ulos Sampetua dan yang memberikan Ulos Holong.

 

MANGAMPU

Inti ni mangampu ima mandok mauliate tu sude tutur na ro suang songoni angka na denggan naung pinasahat ni nasida dohot hata nauli pasu-pasu marhite tangiang nasida. Dang pala adong dohonon hata tu bona ni hasuhuton.

 

ULOS

Filosofi Ulos

Perlambang kehangatan yang sudah mengakar di dalam budaya batak. Dalam setiap kegiatan seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu di ikut sertakan.

Menurut pemikiran moyang orang batak, salah satu unsur yang memberikan kehidupan bagi tubuh manusia adalah “kehangatan”. Mengingat orang-orang batak dahulu memilih hidup di dataran yang tinggi sehingga memiliki temperatur yang dingin.

Demikian juga dengan huta/kampung yang ada di daerah tapanuli umumnya di kelilingi dengan pepohonan bambu. Dimana memiliki kegunaan bukan hanya sebagai pagar untuk menjaga serangan musuh saja, namun juga menahan terjangan angin yang dapat membuat tubuh menggigil kedinginan.

Ada 3 hal yang di yakini moyang orang batak yang memberi kehidupan bagi tubuh manusia, yaitu : Darah, Nafas dan Kehangatan. Sehingga “rasa hangat” menjadi suatu kebutuhan yang setiap saat di dambakan.

Ada 3 “sumber kehangatan” yang di yakini moyang orang batak yaitu : matahari, api dan ulos. Matahari terbit dan terbenam dengan sendirinya setiap saat. Api dapat di nyalakan setiap saat, namun tidak praktis untuk di gunakan menghangatkan tubuh, misalnya besarnya api harus di jaga setiap saat sehingga tidur pun terganggu. Namun tidak begitu halnya dengan Ulos yang sangat praktis digunakan di mana saja dan kapan saja.

Ulos pun menjadi barang yang penting dan di butuhkan semua orang kapan saja dan di mana saja. Hingga akhirnya karena ulos memiliki nilai yang tinggi di tengah-tengah masyarakat batak.

Dibuatlah aturan penggunaan ulos yang di tuangkan dalam aturan adat, antara lain :

  • Ulos hanya di berikan kepada kerabat yang di bawah kita. Misalnya Natoras tu ianakhon (orang tua kepada anak).
  • Ulos yang di berikan haruslah sesuai dengan kerabat yang akan di beri ulos. Misalnya Ragihotang di berikan untuk ulos kepada hela (menantu laki-laki).

Sedangkan menurut penggunaanya  antara lain :

  • Siabithonon (dipakai ke tubuh menjadi baju atau sarung) digunakan ulos ragidup, sibolang, runjat, jobit dan lainnya.
  • Sihadanghononhon (diletakan di bahu) di gunakan ulos Sirara, sumbat, bolean, mangiring dan lainnya.
  • Sitalitalihononhon (pengikat kepala) di gunakan ulos tumtuman, mangiring, padang rusa dan lain-lain.

Saat ini kita tidak membutuhkan ulos sebagai penghangat tubuh di saat tidur ataupun saat beraktifitas, karena ada berbagai alat dan bahan yang lebih maju untuk memberi kehangatan bagi tubuh pada saat berada pada udara yang sangat dingin. Tetapi Ulos sudah menjadi perlambang kehangatan yang sudah mengakar di dalam budaya batak.

Namun ini juga menjadi tantangan bagi budaya batak di masa depan, karena cara pandang dan penghargaan anak-anak muda masa depan sangat berbeda dengan para orang tua yang sempat merasakan berharganya nilai ulos dalam kekerabatan. Akankah anak-anak kita memandang ulos seperti memandang “kain pada umumnya”, bahkan lebih parahnya setelah kain tersebut di gunakan dalam acara adat yang melelahkan kemudian ulos tersebut tersimpan rapat dalam lemari saja.

Sangat berbeda “rasanya” dengan dengan menggunakan setelan jas yang modis dan ingin menggunakannya lagi dan lagi begitu setiap saat.

Jangan-jangan yang terbayang dalam pikiran mereka saat melihat ulos yang tergolek dalam lemari adalah acara adat yang melelahkan, njelimet adatnya, pusing karena gak tau bahasa batak, malu karena gak pinter martutur (menempatkan diri dalam pertalian darah atau keturunan).

Akan sangat banyak tantangan masa depan yang akan menghimpit “niat maradat” bagi generasi muda masa depan. Seperti masalah ke uangan, penggunaan waktu, perkembangan pola pikir praktis, berkurangnya “rajaparhata” (orang yang mengetahui adat dan dapat memandu kegiatan adat dari awal hingga akhir). Sekali lagi ini tantangan yang harus kita antisipasi sebagai “halak hita”.

 

JENIS-JENIS ULOS

 

  1. Ulos JUGIA

Ulos ini disebut juga “Ulos na so ra pipot” atau pinunsaan. Ulos ini biasa dipakai oleh Bapak-bapak. Pada waktu terakhir ini, banyak kita lihat bahwa ulos ini disamperkan kepada orangtua pengantin laki-laki yang disebut sebagai Ulos Pansamot. Ulos Pansamot ini ada juga yang memberikan dari jenis ulos Sibolang maupun dari jenis ulos Ragihotang sesuai dengan kemampuan yang tersedia.

Jenis Ulos Jugia ini menurut keyakinan Orang Batak tidak dapat dipakai sembarang orang, kecuali oleh orang yang sudah Saur Matua, yaitu semua anak laki-laki dan perempuan sudah kawin dari semua anaknya itu telah mempunyai cucu. Hanya orang yang demikianlah yangdisebut “Na Gabe” yang berhak memakai ulos ini.

Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau masih ada yang belum inendapat keturunan, walaupun telah mempunyai cucu-cucu dari anak laki-laki dan perempuan lainnya yang telah kawin, belum bisa digolongkan sama dengan tingkatan Saur Matua.

Beratnya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos ini merupakan benda langka hingga banyak orang Batak yang tidak mengenalnya. Ulos ini sering merupakan barang warisan orangtua kepada anaknya dan nilainya sama dengan sitompi (emas yang dipakai oleh isteri raja-raja pada waktu pesta).

 

  1. Ulos RAGIDUP

Ulos ini setingkat di bawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan Ulos Ragiduplah yang paling tinggi nilainya oleh sebab memang dilihat dari bentuk (motifnya), lebarnya cara penenunannya yang sangat rapi dan teratur, sangat nyata perbedaannya dari ulos-ulos yang lain. Dan memang cara penenunan ulos Ragidup ini sangat sulit, harus teliti sekali, dan hanya dipercayakan pada penenun yang telah cukup banyak mempunyai pengalaman dalam tenun-menenun.

Ulos Ragidup sebenamya terdiri dari 5 (lima), bagian yang ditenun secara terpisah-pisah baru kemudian disatukan (diihot) dengan rapi hingga .jadi bentuk satu Ulos. Ada dua sisi Ulos ini sebelah kiri dan sebelah kanan disebut ambi. Bagian tengah ada 3 bagian, di pinggir atas dan pinggir bawah yang disebut “Kepala Ulos”, yang hampir mirip bentuknya, tetapi tidak sama benar, disebut namanya “Tinorpa”, dan bagian tengahnya merupakan “Badan Ulos”, yang disebut “Tor”.

Penenunan ke lima bagian tersebut dilakukan dengan sangat cermat sekali. Oleh sebab semua motifnya memberikan arti tersendiri.

Oleh sebab itu pada waktu memesan Ulos Ragidup yang berkepentingan perlu menjelaskan maksud penggunaan ulos tersebut atau bilamana hendak membeli yang sudah ada, maka motif-motif ulos tersebut diperiksa secara teliti.

Dahulu kala untuk mempersiapkan penenunan Ulos Ragidup ini sering dilakukan cara gotong-royong oleh 5 orang, masing-masing satu bagian seperti dijelaskan di atas dengan tetap mengindahkan keahlian dan keterampilan 5 orang penenun tersebut.

Ulos Ragidup dapat dipakai untuk berbagai keperluan, baik untuk acara dukacita maupun pada acara sukacita, juga dapat dipakai oieh Raja-raja Adat, orang berada, maupun oleh Rakyat biasa, selama memenuhi beberapa pedoman, misalnya diberikan sebagai Ulos Pargomgom, ada juga diberikan sebagai Ulos Pansamot pada acara pesta perkawinan, atau diberikan sebagai Ulos Panggabei pada waktu orangtua meninggal dunia yang telah mencapai satu tingkat hagabeon tertentu, hal-hal mana akan diterangkan lebih jauh nanti.

Dalam satu pesta perkawinan ada juga Suhut Sihabolonan yang menyandang Ulos Ragidup, dengan demikian para tamu dapat terus mengenal dan membedakannya dari hasuhuton lainnya yang juga memakai Ulos, tetapi bukan lagi Ulos Ragidup tetapi misalnya Ulos Sibolang, Ragi Hotang dan lain-lain. Seperti kita ketahui dalam setiap upacara adat misalnya pada pesta perkawinan maka landasannya adalah Dalihan Natolu. Maka dalam acara adat tersebut yang menjadi hasuhuton adalah Suhut Sihabolonan bersama-sama Dongan Tubunya sebab dalam kekeluargaan Suku Batak, kelompok satu marga (Dongan Tubu) adalah “Sisada raga, somba”, terhadap kelompok marga lain. Namun demikian ada pepatah Batak yang mengatakan:

Martanda do Juhut
Marbona sangkalan
Marnata do suhut
Marnampuna Ugasan

Yang dapat diartikan, walaupun pesta itu adalah untuk kepentingan dan atas nama bersama, dimana semua Dongan Tubu berhak tampil dan bersuara dan juga ikut sebagai pengundang, malahan yang menonjol dalam pengurusan dan sebagai Raja Parhata (Parsinabul) adalah dari Dongan Tubu, akan tetapi kedudukannya dari Suhut Sihabolonan tetap dihargai dan dalam hal-hal tertentu tetap mempunyai hak untuk memberi kata akhir.Oleh sebab itu dengan memakai Ulos Ragidup dapat dengan jelas diketahui oleh para hadirin yang menjadi Suhut Sihabolonan.

 

  1. Ulos RAGI HOTANG

Dahulu pada jaman Nenek Moyang kita pernah pula Ulos ini diberikan kepada sepasang penganten yang disebut sebagai Ulos Hela. Dengan pemberian Ulos ini dimaksudkan agar ikatan lahir dan batin kedua penganten dapat teguh seperti ikatan rotan (hotang).

Tetapi belakangan ini telah banyak, kita lihat bahwa Ulos ini dipergunakan adalah sebagai Ulos Holong. Sehingga ramai-ramailah kerabat keluarga yang menyampaikannya kepada kedua pengantin pada acara pesta perkawinan tersebut.

Pada acara-acara pesta yang lain pun Ulos ini telah banyak dipergunakan umpama, pesta baptisan anak-anak, pesta anak sidi (manghatindangkon haporseaon) disampaikan kepada Boru, Bere, Ibebere dan cucu sebagai tanda turut merasa gembira dan mengucapkan doa syukuran terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk upacara penyambutan tamu-tamu untuk ini muda-muda kita dapat dipersiapkan lengkap memakai Handehande dan Hobahoba dari jenis Ulos Ragi Hotang, sangatlah menarik dan semarak nampaknya. Juga Ulos ini dapat diberikan pada acara mangupaupa dan pesta lain pada acara gembira yaitu pesta-pesta gembira-ria.

 

  1. Ulos SADUM

Ulos ini penuh dengan warna-warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai dan dipergunakan untuk suasana sukacita dan banyak orang yang ingin memiliki.Pada akhir-akhir ini kita perhatikan sesuai dengan permintaan penganten pada acara pesta perkawinannya sudah banyak orangtua memberikan Ulos Sadum ini sebagai Ulos Hela.

Cara pemberiannya kepada kedua penganten ialah disampirkannya dari sebelah kanan pengantin laki-laki setinggi bahu terus sampai ke sebelah kiri pengantin perempuan. Ujung sebelah kanan dipegang oleh tangan kanan pengantin laki-laki dan ujung sebelah kiri dipegang dengan tangan kiri oleh pengantin perempuan lalu disatukan dimuka penganten itu seperti terikat. Dan seterusnya oleh Ibu Penganten perempuan tersebut disampirkanlah 1 (satu) helai kain sarung (mandar) ke atas pundak penganten lelaki Helanya itu.

Begitu indahnya Ulos Sadum itu sehingga sering dipakai Ulos kenang-kenangan diberi kepada pejabat-pejabat yang berkunjung ke Daerah. Baik tamu dalam negeri mapun tamu dari manca Negara. Mereka sangat bangga menerima Ulos yang disematkan di bahunya karena benar-benar merasakan bahwa pemberian ulos tersebut merupakan suatu penghormatan baginya.

 

  1. Ulos RUNJAT

Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang bepergian pada menghadiri pesta-pesta atau sebagai undangan. Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut tohonan Dalihan Natolu diluar hasuhuton Bolon, misalnya Tulang, Pariban, dan Pamarai.

Juga Ulos ini dapat diberikan pada waktu acara mangupaupa dan pesta-pesta lain. Kelima jenis ulos yang disebut di atas adalah merupakan Ulos simpanan, yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena Ulos ini jarang dipakai, hingga tidak perlu dicuci biasanya cukup dijemur pada siang hari.

 

  1. Ulos SIBOLANG

Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan pada acara untuk keperluan dukacita dan sukacita. Untuk keperluan dukacita biasanya dipilih dari jenis yang warna hitamnya menonjol, sedang bila dalam peristiwa sukacita dipilih dari jenis yang warna putihnya menonjol.

Dalam peristiwa dukacita Ulos ini paling banyak dipergunakan orang misalnya untuk Ulos Saurmatua, Ulos sampesampe, harus dipakai dari Ulos ini, tidak boleh dari jenis Ulos yang lain.

Dalam upacara perkawinan ulos ini biasa dipakai sebagai tutup ni ampang dan bisa disandang sebagai Handehande, tetapi harus dipilih dari jenis yang warna putihnya agak menonjol. Inilah yang disebut sibolang “Pamontari”. Karena Ulos ini dapat dipakai untuk beberapa keperluan adat maka ulos ini terlihat paling banyak dipakai dalam upacara adat, hingga dapat dikatakan “memasyarakat”.

Harganya juga relatif murah sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat banyak. Hanya saja ulos ini tidak biasa dipakai sebagai ulos pangupa atau ulos parompa.

 

  1. Ulos SURISURI GANJANG

Ulos ini dinamai Ulos surisuri Ganjang karena raginya berbentuk sisir memanjang. Ulos ini dapat diberikan sebagai ulos Hela kepada pengantin baru.Dahulu Ulos ini sebagai sampesampe/handehande. Pada waktu acara menari dalam hal memukul gendang, ulos ini dipergunakan oleh pihak Hula-hula untuk manggabei (mangolopi) pihak borunya. Karena itu Ulos ini sering juga disebut Ulos sabesabe.

Ada istimewanya ulos ini yaitu karena panjangnya melebihi Ulos biasa, hingga bisa dipakai sebagai sampesampe, bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan, sehingga kelihatan si pemakai layaknya memakai 2 buah ulos. Ada pula ulos ini dipakai sebagai ulos parompa sebagai simbol agar mencapai kesehatan dan mencapai umur yang panjang hendaknya.

 

  1. Ulos MANGIRING

Ulos ini mempunyai ragi yang saling iring mengiringi, melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Sering diberikan oleh seorang tua, sebagai ulos parompa kepada cucunya agar seiring dengan pemberian ulos ini kelak agar lahir adik-adiknya beriringan anak laki-laki dan anak perempuan sebagai temannya seiring dan sejalan.

Sebagai pakaian sehari-hari ulos ini dapat dipakai sebagai talitali (detar) untuk laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung.Pada waktu upacara mampe goar ulos ini dapat pula dipakai sebagai bulangbulang diberikan oleh pihak hula hula kepada menantunya.

 

  1. Ulos BINTANG MARATUR

Ragi ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang ini menggambarkan orang yang patuh rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal sinadongan (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang baik dalam hak hagabeon (banyak keturunan) anak laki-laki dan perempuan. Semuanya berada dalam tingkatan rata-rata sama.

Dalam hidup sehari-hari bahwa Hula-hula yang berkompeten menyampaikan “Ulos Mula Gabe” kepada borunya yang akan melahirkan anaknya yang pertama. Tujuan pemberian ulos ini adalah menunjukkan rasa kasih sayang orangtua kepada borunya, dalam rangka membangkitkan semangat hidup dan rasa percaya diri kepada borunya dalam persalinannya yang akan datang.

Untuk acara adat yang berkaitan dengan hal di atas biasa disampaikan oleh Hula-hula ulos yang diberi nama “Ulos Mula Gabe” ini dari jenis Ulos Bintang Maratur. Disertai doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmatNya dikaruniakan hendaknya kelahiran anak laki-laki dan perempuan secara teratur kepada borunya. Selanjutnya pada acara adat mampe goar untuk anak yang sulung itu harus diberi dari ulos jenis Bintang Maratur.

 

  1. Ulos SITOLUNTUHO

Ulos ini dapat dipakai sebagai Ulos Parompa yang diberikan kepada seorang cucu yang baru lahir. Ada pula yang memakai ulos ini sebagai ikat kepala yang disebut namanya tali tali dan oleh wanita ada pula yang memakainya untuk selendang atau hande-hande.

Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan yang dalam istilah adat Batak dikatakan sebagai Ulos Panoropi yang diberikan oleh pihak Hula-hula kepada pihak boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut, sitoluntuho karena raginya berjejer tiga merupakan tuho atau tugal yang biasa dipakai untuk melobang tanah untuk ditanami.

 

  1. Ulos JUNG KIT

Ulos jenis ini juga disebut ulos na nidongdang atau ulos purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut sehingga cantik kelihatannya.Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dari keluarga raja-raja merupakan hoba hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga dipakai pada waktu menerima pembesar atau pejabat-pejabat atau waktu pesta yang beragam-ragam.

Pada masa-masa terakhir ini permata yang disebut di atas telah jarang diperdagangkan, maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara “manjungkit” benang ulos tersebut. Maka disebut nama ulos ini ulos jungkit.

 

  1. Ulos LOBU-LOBU

Masih ada lagi jenis Ulos Batak yang lain, tetapi yang sudah jarang sekali kelihatan dan jarang dipakai dalam acara-acara adat biasa, misalnya Ulos Lobu Lobu yang mempunyai keperluan khusus untuk orang yang sering dirundung kemalangan. Oleh sebab itulah ulos ini jarang sekali sehingga banyak orang tidak mengenalnya lagi.

Ada keistimewaan ulos ini, yaitu sesudah selesai ditenun, rambu dari ulos ini tidak dipotong, dibiarkan saja demikian sebagaimana adanya. Tujuannya supaya baik dipakai sebagai kain sarung, dan bila dipakai sebagai ulos parompa agar anak yang digendong tak mudah jatuh dari gendongan tersebut.

Dinamai ulos lobu lobu (lobu = masuk) agar hal yang terbaik masuk ke dalam rumah pemakainya.

Aturan-aturan tentang pemberian Ulos:

Berbicara adat Batak maka Ulos membawa peranan besar, jadi dalam setiap upacara adat Batak maka Prinsip Dalihan Natolu berlaku dengan demikian Ulos sebagai sarana Hula-hula memberi pasupasunya kepada hasuhutan.

Pihak mana yang memberi Ulos dan kepada siapa diberi Ulos diantara suku Batak ada beberapa perbedaan, seperti didaerah Toba, Simalungun, dan Karo yang memberi Ulos adalah pihak Hula-hula kepada Boru. Sedangkan di Papak (Dairi), Tapanuli Selatan, pihak borulah yang memberikan ulos kepada Hulahula (Moranya), atau Kula-kula.Meskipun ada perbedaan ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna suatu ulos dalam upacara Adat.

Disamping Hula-hula yang dapat memberikan ulos ,juga Dongan tubu, dan pariban yang lebih tua bisa memberi ulos kepada orang yang Marulaon Jadi kesimpulannya yang dapat memberi ulos adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari sipenerima Ulos.

 

FUNGSI ULOS DI ULAON ADAT

 

  1. Saat Suka Cita
  1. Pada acara PESTA PERKAWINAN yang mutlak (mortohonan) suhi ni ampang ñaopat :

Pihak paranak (pengantin lelaki) yang terima ulos :

  • Ulos Pansamot : Orang tua pengantin
  • Ulos Paramaan : Abang / adik Orangtua Pengantin
  • Ulos Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin
  • Ulos Sihunti Ampang : Saudara (Ito) atau Namboru Pengantin
  1. Pada acaraMAMASUKI BAGAS

Ulos sipasahaton ni Hula-hula, Tulang, Tulang Rorobot jenis RAGI HOTANG

  1. Pada acaraTARDIDI

Ia ulos sipasahaton tu na tardidi i ma ulos mangiring

  1. Pada acaraMAMBOSURI

Ulos yang disampaikan Hula-hula adalah jenis ulos BINTANG MARATUR

 

  1. Saat Duka Cita
  1. Pada Acara Adat Meninggal Dunia, ulos yang diberikan:

Ulos Saput adalah dikembangkan di atas peti mayat di sana disebut Ulos Tutup Batang (Ulos Penutup Peti Mayat)

Ulos Tujung adalah satu ulos yang diberikan Hula-hula kepada yangditinggalkan yaitu Janda atau Duda

Ulos Sampetua diberikan kepada suami dan isteri yang berduka karena meninggalnya (suami atau istri) bagi yang tergolong kategori Saurmatua, Saurmatua Bulung. Ulos tersebut diberikan adalah semata-mata merupakan tanda berkabung. Cara penyampaiannya, tidak dikerudungkan di atas kepala yang berduka tetapi diletakkan di atas bahu bagi penerimanya cukup saja diuloshon.

 

JAMBAR

Mencari arti atau padanan kata jambar dalam Bahasa Indonesia, tak mudah. Secara harafiah bisa diartikan: bagian, hak, dalam tata peradatan.

Jambar adalah elemen penting dalam pelaksanaan adat yang berkaitan dengan keharmonisan hubungan sosial masyarakat adat. Ia menyangkut hak yang tak bisa ditawar dan barangsiapa mengabaikan akan dianggap tak beradat, bukan orang terhormat, yang mengundang cibir. Inti jambar menyangkut penghargaan atau penghormatan pada pihak lain. Ada 3 jenis JambarYaitu :

  • Jambar Hata
  • Jambar Juhut (Jagal)
  • Jambar Tor-tor

Jenis-jenis Jambar

  1. Jambar Hata

Tiap-tiap orang dalam komunitas Batak (kecuali anak-anak dan orang lanjut usia yang sudah pensiun dari adat/ naung manjalo sulang-sulang hariapan) diakui memiliki hak bicara (jambar hata). Sebab itu dalam tiap even pertemuan komunitas Batak tiap-tiap orang dan tiap-tiap kelompok/ horong harus diberikan kesempatan bicara (mandok hata) di depan publik. Jika karena alokasi waktu jambar hata harus direpresentasikan melalui kelompok/ horong (hula-hula, dongan tubu, boru dll) maka orang yang ditunjuk itu pun harus berbicara atas nama kelompok/ horong. Sebagai simbol dia harus memanggil anggota kelompoknya berdiri bersama-sama dengannya. Sekilas mungkin orang luar mengatakan bahwa acara mandok hata ini sangat bertele-tele dan tidak efisien.

Namun pada hakikatnya jambar hata ini menunjuk kepada pengakuan bahwa tiap-tiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya (baca: hak untuk didengarkan) di depan publik. Bukankah hal-hal ini sangat demokratis dan moderen?

Jambar hata ini intinya tidak terlepas dari unsur dalihan na tolu, yaitu manat mardongan tubu, elek marboru dan somba marhula-hula.

Sebagai contoh:

Ulaon dijabu

  1. Ketika akan melaksanakan ulaon terlebih dahulu dibicarakan antar marhaha-maranggi.
  2. Selanjutnya diberitahukan kepada horong ni boru untuk manghobasi ulaon i.
  3. Setelah itu meminta panuturion dari horong ni hula-hula.

 

  1. Jambar Juhut

Jambar yang merupakan implementasi sikap menghargai atau menghormati, diambil dari bagian penting seekor ternak yang dijadikan parjuhutni ulaon (daging yang disajikan dalam pesta kegembiraan semisal perkawinan, kelahiran anak, memasuki rumah) atau boan (bila upacara dukacita berupa sarimatua,saurmatua dan mauli bulung). Pembagian jambar, karenanya bukan hal sembarangan, ada aturan yang harus ditaati, kendati ada beberapa wilayah yang berbeda menentukan bagian mana yang harus diserahkan pada pihak yang menjadi unsur pokok dalam suatu perhelatan adat.

Selanjutnya jambar juhut menunjuk kepada pengakuan akan hak tiap-tiap orang untuk mendapat bagian dari hewan sembelihan dalam pesta. Lebih jauh.jambar juhut ini merupakan simbol bahwa tiap-tiap orang berhak mendapat bagian dari sumber-sumber daya (resources) kehidupan atau berkat yang diberikan Tuhan. Sebab itu bukan potongan daging (atau tulang) itu yang terpenting tetapi pengakuan akan keberadaan dan hak tiap-tiap orang. Sebab itu kita lihat dalam even pertemuan Batak bukan hanya hasil pembagian hewan itu yang penting tetapi terutama proses membagi-baginya (acara mambagi jambar).

Sebab proses pembagian jambar itu pun harus dilakukan secara terbuka (transparan) dan melalui perundingan dan kesepakatan dari semua pihak yang hadir. Jolo sineat hata asa sineat raut. Setiap kali potongan daging atau juhut diserahkan kepada yang berhak maka protokol (parhata) harus mempublikasikan (manggorahon) di depan publik. Selanjutnya setiap kali seseorang menerima jambar maka ia harus kembali mempublikasikannya lagi kepada masing-masing anggotanya bahwa jambar (hak) sudah mereka terima.

Jambar juhut ini menunjuk kepada gaya hidup berbagi (sharing) yang sangat relevan dengan kehidupan modernitas (demokrasi) dan kekristenan. Sumber daya kehidupan atau berkat Tuhan tidak boleh dinikmati sendirian tetapi harus dibagi-bagikan secara adil dalam suatu proses dialog yang sangat transparan.

Perlu pula diketahui bahwa masyarakat adat Batak tidak menganggap ternak yang dipotong dan disuguhkan dalam perhelatan sekadar menu. Bahkan ternak yang dijadikan sajian utama memiliki tingkatan: sigagat duhut, sitio soara, namarmiak.  Masing-masing memiliki derajat dan harus dipahami penggunaannya. Bila seorang bapak meninggal dunia dengan boan seekor sitio soara, umpamanya, maka saat istrinya meninggal dunia, boan-nya  tak boleh melebihi suaminya, misalnya, dibuat sigagat duhut. Demikian halnya bila anak perempuan dikawinkan, parjuhut-nya tak boleh lebih tinggi dari juhut yang ditampilkan saat hula-hula-nya menjalani pernikahan adat.

  1. Ulaon di jabu namarmiak-miak
  • Tu hula-hula                         : osang
  • Tu tulang                         : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst. : somba-somba.
  • Tu boru                         : namarsanggulan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : ihur-ihur

 

  1. Ulaon di Alaman (Unjuk) namarmiak-miak
  • Ulak ni tandok ni parboru : ihur-ihur (utuh)

(Selain ihur-ihur, semua dibagi dua sama rata untuk horong paranak dan parboru)

  • Tu hula-hula                         : osang
  • Tu tulang                         : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst. : somba-somba.
  • Tu boru : namarsanggulan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton: ihur-ihur

(dengan catatan yang dilaksanakan di ulaon adat/pesta unjuk pomparan Ompu Mallogon Simanjuntak tergantung situasi dan kondisi dengan adat mana kita marulaon).

  1. Ulaon Unjuk parjuhutna si gagat duhut
  • Namarhodong dipasahat ulak ni tandok ni parboru

(Selain itu, semua dibagi dua sama rata untuk horong paranak dan parboru)

  • Tu hula-hula                         : osang
  • Tu tulang                         : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst : somba-somba.
  • Tu boru : tanggalan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton: jambar yang tinggal dihasuhuton
  1. Ulaon Sari matua/Saur matua, namarmiak-miak
  • Tu hula-hula                         : osang
  • Tu tulang                         : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst : somba-somba.
  • Tu boru                                     : namarsanggulan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : ihur-ihur
  1. Ulaon Sari matua/Saur matua, parjuhutna sigagat duhut

(Jika Ama yang meninggal lebih dulu maka tulangnya yang memberikan ulos saput dan jambarnya namarhodong, sedangkan hula-hula yang memberikan ulos tujung/sampetua dan jambarnya ulu).

  • Tu tulang, bona tulang, tulang rorobot, hula-hula ni namarhaha-maranggi, hula-hula anak manjae dan seterusnya : somba-somba.
  • Tu boru             : tanggalan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : jambar yang tinggal di hasuhuton.

(Jika Ina yang meninggal lebih dulu maka hula-hula pasahaton ulos saput dan ulos tujung dan jambarnya namarhodong dohot ulu).

  • Tu tulang, bona tulang, tulang rorobot, hula-hula ni namarhaha-maranggi, hula-hula anak manjae dan seterusnya : somba-somba.
  • Tu boru             : tanggalan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : jambar yang tinggal di hasuhuton.

 

SIGAGAT DUHUT

  • Uluna : kepala atas dan bawah (tanduknamarngingi dan osang)
  • Panamboli : potongan leher (sambolan)
  • Panambak/Sasap : pangkal paha depan
  • Ungkapan : pangkal rusuk depan
  • Gonting : pinggul/punggul
  • Upa Suhut / jambar yang tinggal : bagian belakang sampai ekor
  • Tanggalan Rungkung : leher (depan sampai dengan badan)
  • Tulan Bona : paha belakang
  • Tulan Tombuk : pangkal paha belakang
  • Somba-somba Siranga: rusuk-rusuk besar
  • Somba-somba Nagok : rusuk paling depan (gelapang)
  • Tulan : kaki di bawah dengkul
  • Ronsangan : tulang dada ( pertemuan rusuk)
  • Soit Nagodang : persendian
  • Bonian Tondi : pangkal rusuk iga
  • Sitoho-toho : sebagian dari osang bawah
  • Pohu : bagian-bagian kecil
  • Sohe/Tanggo-tanggo : cincangan

 

PENJELASAN BENTUK DAN LETAK PARJAMBARAN NAMARMIAK-MIAK (PINAHAN LOBU)

  1. Ulaon di Alaman (Unjuk) namarmiak-miak
  • Ulak ni tandok ni parboru : ihur-ihur (utuh)

(Selain ihur-ihur, semua dibagi dua sama rata untuk horong paranak dan parboru)

  • Tu hula-hula : osang
  • Tu tulang : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst. : somba-somba.
  • Tu boru : namarsanggulan
  • Tu dongan sahuta : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton: ihur-ihur

(dengan catatan yang dilaksanakan di ulaon adat/pesta unjuk pomparan Ompu Mallogon Simanjuntak tergantung situasi dan kondisi dengan adat mana kita marulaon).

 

  1. Ulaon Unjuk parjuhutna si gagat duhut
  • Namarhodong dipasahat ulak ni tandok ni parboru

(Selain itu, semua dibagi dua sama rata untuk horong paranak dan parboru)

  • Tu hula-hula : osang
  • Tu tulang : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst : somba-somba.
  • Tu boru : tanggalan
  • Tu dongan sahuta : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton: jambar yang tinggal dihasuhuton

 

  1. Ulaon Sari matua/Saur matua, namarmiak-miak
  • Tu hula-hula                         : osang
  • Tu tulang : na marngingi
  • Tu bona tulang, tulang rorobot, dst : somba-somba.
  • Tu boru : namarsanggulan
  • Tu dongan sahuta : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : ihur-ihur
  1. Ulaon Sari matua/Saur matua, parjuhutna sigagat duhut

(Jika Ama yang meninggal lebih dulu maka tulangnya yang memberikan ulos saput dan jambarnya namarhodong, sedangkan hula-hula yang memberikan ulos tujung/sampetua dan jambarnya ulu).

  • Tu tulang, bona tulang, tulang rorobot, hula-hula ni namarhaha-maranggi, hula-hula anak manjae dan seterusnya : somba-somba.
  • Tu boru : tanggalan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : jambar yang tinggal di hasuhuton.

(Jika Ina yang meninggal lebih dulu maka hula-hula pasahaton ulos saput dan ulos tujung dan jambarnya namarhodong dohot ulu).

  • Tu tulang, bona tulang, tulang rorobot, hula-hula ni namarhaha-maranggi, hula-hula anak manjae dan seterusnya : somba-somba.
  • Tu boru : tanggalan
  • Tu dongan sahuta                         : soit
  • Tu namarhaha-maranggi-hasuhuton : jambar yang tinggal di hasuhuton.

  1. Jambar tor-tor

Tor-tor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Walaupun secara fisik  tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tor-tor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara. Tor-tor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan.

Jika acara adat dibarengi dengan ogung sabangunan/gondang, berlaku unsur-unsur dalihan natolu.

 

  1. RUHUTRUHUT NI ACARA ADAT BATAK

 

  1. Acara Adat Batak Ulaon di Jabu (Sederhana)

 

  1. Mambosuri

Bilamana seorang wanita untuk pertama sekali mulai hamil, maka kira-kira padabulan ke 7 kehamilan itu disebutlah dalam keadaan tumagam haroan atau manggora pamuro atau denggan pamatang. Kata-kata tersebut adalah istilah halus dan terhormat untuk menyebut keadaan seorang Ibu sudah dalam hamil.

Setelah sudah dalam keadaan demikian. Orangtua si suami (mertua dari calon Ibu) akan memberitahukannya kepada Hula hulanya, orangtua si calon Ibu. Cara pemberitahuan hal itu cukup halus dan hormat dengan mempergunakan istilah tersebut di atas.

Di masyarakat Batak kedudukan Hula-hula lebih tinggi harkat kekerabatannya di bidang adat, karena Hula-hula adalah orangtua dari isteri yang berarti orangtua kita juga, yang harus dihormati. Itulah alasannya Hula-hula yang berkompeten pasahathon “ulos Mula Gabe” kepada borunya, yang akan melahirkan anaknya yang pertama. Tujuan pemberian ulos itu adalah semata-mata menunjukkan rasa kasih sayang orangtua kepada Borunya, dan sekaligus ingin membangkitkan semangat hidup dan kepercayaan diri borunya tersebut dalam menghadapi persalinannya yang akan datang.

Manfaat yang diperoleh dengan pasahathon ulos mula gabe itu. Baik ibu-ibu zaman dahulu maupun ibu-ibu zaman sekarang yang akan melahirkan anak pertama pada urnumnya mereka masih kuatir dan kurang percaya diri menghadapi persalinannya yang akan datang. Kekuatiran mereka itu dapat dimengerti dan masih merupakan hal yang wajar, karena baru kali inilah mereka akan melahirkan anak pertama kali. Dapat saja terjadi, bahwa seorang ibu yang hamil untuk anak pertama, yang tinggal di rumah mertuanya, ingin memakan sesuatu makanan kesukaannya atau ingin memiliki sesuatu barang tertentu, tetapi hanya dapat dipenuhi oleh orangtuanya sendiri. Jika keinginannya tersebut tidak kesampaian, itulah yang disebut “Tarhirim” atau “Hiranan” yang dapat menganggu kelancaran persalinannya kelak.

Mungkin akibat tempat tinggal yang berjauhan, si ibu yang sudah hamil tua untuk anaknya yang pertama, diliputi kerinduan yang sangat dalam karena selama sekian bulan setelah kawin, belum pernah ketemu dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudara yang lain. Jadi kedatangan Hula-hula dan rombongan menjenguk boru dan helanya, yang sekaligus pasahat Ulos mula gabe (ulos bintang maratur) merupakan jalan keluar dari hal-hal di atas yaitu: Disamping bawaan resmi menurut adat budaya Batak sudah pasti Hula-hula juga membawa makanan kesukaan borunya selama ini dan suatu barang tertentu yang diinginkannya.Dengan demikian sukacita anak itu makin bertambah sehingga semangat hidupnya kembali seperti semula.

Setelah borunya yang sudah hamil tua tersebut bertemu dengan orangtuanya sendiri, bapatua/inangtua, amanguda/inanguda, tulang/nantulang, namboru, kakak/adiknya timbul sukacita yang luar biasa dalam hidupnya. Rasa kuatir dan kurang percaya diri yang menghantui pikirannya selama ini hilang sama sekali. Didorong oleh rasa kerinduan kedatangan Hula-hula, beserta rombongannya, disambut oleh orangtua dan kerabat pria, sebagaimana layaknya menyambut Hula-hula menurut adat istiadat/ budaya Batak.

Hula hula dan rombongan yang datang pun yang menjenguk boru dan helanya dalam acara khusus seperti ini tidak terlepas dari adat dan budaya Batak, sudah pasti mempersiapkan bahan-bahan adatnya yang akan disampaikan kepada boru dan helanya. Orangtua/kerabat suami, telah mempersiapkan acara pasahat ulos mula gabe ini dengan persiapan-persiapan seperlunya dan seterusnya mengundang kerabat keluarga terdekat untuk hadir pada acara ini.

Karena acara ini akan dilaksanakan dalam nuansa ke-Kristenan dalam bentuk pengucapan syukur, karena orangtua itu sadar bahwa Tuhan Allah telah berkenaan memberkati kandungan menantunya. Sudah tentu diundang seorang Hamba Tuhan (Pendeta atau Sintua) yang menyirami acara ini lebih dahulu dengan Firman Tuhan.

Setelah selesai acara kebaktian pengucapan syukur, tibalah saatnya kepada acara pokok, yaitu menyampaikan “Ulos Mula Gabe”, oleh Hula-hula kepada Boru dan Helanya. Disampirkan ulos itu ke atas bahu boru dan helanya, juga dengan meletakkan beras sipir ni tondi ke atas kepala boru dan helanya itu.

Orang tua yang menyerahkan “Ulos Mula Gabe” ini tentu disertai Doa Restu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai berikut:

Di ginjang ma arirang

Di toru panggonggonan
Badanmuna na so jadi sirang
Tondimu ma masigomgoman

Bintang na rumiris

Ombun na sumorop
Anak pe riris
Boru pe torop

Sahat-sahat ni solu

Sai sahat ma tu bontean
Sahat Ulos Mula Gabe tu hamu
Sahat ma horas, sahat ma Tu panggabean,….. Boti ma.

 

Setelah selesai acara menyampaikan Ulos Mula gabe dilanjutkanlah acara makan bersama, maka Hula-hula memberi boru dan helanya makan khusus yang dibawanya, yaitu dengke sitiotio, dengke simudurudur dengan harapan dari orangtuanya kiranya Tuhan berkenan memberkati Boru dan Helanya, agar tiotio haroan (persalinan) yang akan datang dan agar mereka berdua selalu seia sekata dalam perjalanan hidup mereka (mudurudur). Acara makan bersama ini tentunya ditutup dengan Doa.

Menurut kebiasaan pemberian Ulos Mula Gabe ini dilakukan di parnangkok ni mata ni ari, artinya pada waktu matahari sedang naik, jadi sebelum jam 12.00 Wib siang. Falsafahnya adalah merupakan doa, agar nasib dan keadaan anak yang akan lahir juga semua keturunan dari sipenerima Ulos Mula Gabe itu kiranya semakin naik seperti matahari.

Dahulu kala yang ikut menyerahkan ulos tersebut hanya Suhut Bolon maksimal disertai 3-4 keluarga terdekat, dan yang menyambut kedatangannya pun Suhut Bolon Paranak cukup didampingi 3-4 keluarga terdekat. Jadi segera setelah pemberian ulos dapat dilanjutkan dengan acara makan bersama. Tetapi akhir-akhir ini yang ikut menghadiri acara demikian sudah cukup meluas, sampai 10-20 keluarga dari masing-masing pihak. Kalau semua keluarga bisa dapat hadir pada waktu yang ditentukan tidak menjadi masalah.

Tetapi sudah menjadi kenyataan akhir-akhir ini pada pelaksanaan acara adat semakin dibiasakan untuk datang terlambat, ada sampai 1-2 jam yang pengaruhnya ialah jamuan makan terpaksa juga diundurkan menunggu para undangan.

Namun keadaan demikian, sebaiknya tetap diusahakan agar penyerahan Ulos Mula Gabe, pada waktu Parnangkok ni mata ni ari jadi sebelum jam 12.00 wib siang, agar falsafah dan arti pemberian ulos itu tetap kelihatan dan dirasakan, tidak perlu menunggu sampai semua undangan hadir, sebab yang pokok adalah pemberian Ulos Mula Gabe. Masalah makan adalah soal kedua dapat dilanjutkan beberapa waktu kemudian.

Mengenai jenis Ulos Mula Gabe ada juga yang memberikan ulos Mangiring dengan harapan seiring dengan pemberian ulos ini diharapkan kelak agar hadir pula adik-adiknya sebagai temannya seiring dan sejalan. Ada pula yang memberikan Ulos Bintang Maratur yang menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Dengan harapan sebagai bintang yang teratur itu dapat hendaknya kelahiran anak laki-laki dan anak perempuan berjejer akan kelahirannya.

Dalam menentukan jenis Ulos Mula Gabe ini, si calon Ibu bisa juga menyampaikan keinginannya yang mana yang lebih disukai dan biasanya keinginan itu akan disetujui oleh Orangtua. Sebelum hasuhuton mangampu dipasahat kepada hula-hula parsituak na tonggi.

 

  1. Pasahat aek ni unte

Bilamana seorang Ibu melahirkan anak, disebutlah Ibu itu ditataring atau hodohan api, yaitu duduk/berada dekat satu perapian khusus dibuat untuk maksud itu, biasanya langsung di tempat bersalin di rumah atau sebutlah di kamar tidurnya oleh sebab dahulu tempat bersalin belum dikenal.

Perapian itu ialah satu tempat yang kecil, dimana bisa dipasang dibuatkan api dengan mempergunakan kayu api atau pun arang. Maksudnya duduk dekat perapian itu ialah agar si lbu, terutama si bayi yang baru lahir, tetap bisa panas di waktu keadaan dingin terutama di malam hari.

Di atas perapian itu sekaligus dipanaskan minuman terutama bahan sup untuk keperluan si lbu. Kegunaan minuman sup yang panas agar si Ibu selalu merasa dalam keadaan panas untk mempercepat pulihnya kesehatan dan kekuatan si Ibu juga penting untuk memperiancar ASI yang sangat diperlukan si bayi. Keadaan di tataring itu berlangsung lebih kurang 7 hari tergantung pada pulihnya kesehatan si Ibu.

Setelah kesehatan si Ibu, sudah pulih kembali dan si bayi pun sudah segar bugar tidak kurang suatu apa pun. Pada zaman dahulu ada melaksanakan suatu upacara yang dinamai “Martutu Aek”. Pada waktu itu si bayi dibawa oleh Ibunya atau neneknya untuk mandi di satu mata air atau pancuran yang terdekat atau pergi ke tepi pantai misalnya di Danau Toba-Samosir dengan diikuti oleh keluarga terdekat.

Sesudah itu rombongan pulang ke kampung dan selama di perjalanan itu mereka berulang-ulang mengucapkan: “Horas, Horas”. Upacara tadi disambung dengan suatu acara sukaria di rumah orangtua si anak yang berbahagia itu yang disebut acara Esekesek dengan ucapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kepada si Ibu dan kepada anak yang baru lahir. Biasa kita dengar acara ini disebut “Mangharoani”, artinya menyambut tibanya sang anak.

Dalam acara demikian biasanya pihak Hula-hula membawa sesuatu makanan khusus yang disebut juga “Mamboan Aek ni Unte” dilengkapi dengan makanan yang enak rasanya dengan masakan bumbu “Bangun-bangun” semuanya dengan maksud memperlancar air susu Ibu. Acara gembira-ria ini biasanya orangtua keluarga ini mengundang para Ibu-ibu sekitar lingkungan kampung itu untuk datang ramai-ramai menghadiri acara makan bersama ini.

Dahulu kala tidak lupa juga turut mengundang Sibaso (bidan) yang membantu si Ibu dalam melahirkan bayinya sekaligus untuk mengucapkan terima kasih.

 

  1. Tardidi/Baptis

SEKILAS PENGERTIAN TARDIDI (PANDIDION NA BADIA)

Dengan demikian kita telah di kuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemulian Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 4 :6)

Biasana di ulaon tardidi, tikki marhata sigabe-gabe (mandok hata) sering kita dengar beberapa orang mengatakan mangalap goar na sian bagas joro ni Tuhanta.

Apa sebenarnya pengertian mangalap goar tersebut?

Jaman pra-Kristen, sesudah beberapa minggu keluarga yang tubuan anak / sorang boru akan menentukan hari (maniti ari) untuk membawa anak yang baru lahir itu pertama kali ke mata air keramat atau homban (biasanya setiap kampung memiliki mata air keramat di tengah sawah) dipimpin oleh seorang dukun (datu). Inilah yang dinamakan upacara manutu aek.

Melalui ritus ini keluarga menyampaikan persembahan kepada dewa-dewa terutama Dewi Air Boru Saniang Naga yang merupakan representasi kuasa Mulajadi na Bolon dan roh-roh leluhur untuk menyucikan si bayi dan menjauhkannya dari kuasa-kuasa jahat. Juga sekaligus meminta agar semakin banyak bayi yang dilahirkan (gabe). Acara ini dilanjutkan denganmemberikan nama atau mambahen goar kepada si bayi, yang juga dengan meminta rekomendasi dukun (datu). Bila dukun mengatakan nama itu tidak berakibat baik kepada si anak, maka orangtuanya pun akan mengganti nama itu.

Bagi kita komunitas Kristen-Batak jelas acara manutu aek dan upacara mamampe goar (memberi nama) yang melibatkan dukun (datu) bertentangan dengan iman kristiani kita sebab itu harus ditinggalkan.

Kita percaya hanya darah Kristus sajalah yang dapat membersihkan dan menyucikan kita dari dosa dan kejahatan, dan melindungi kita dari segala bahaya. Upacara manutu aek dan mangalap goar biasanya dilanjutkan dengan membawa si bayi ke pekan (maronan, mebang). Kita tahu pada jaman dahulu pekan atau pasar (onan) terjadi satu kali seminggu. Onan adalah simbol pusat kehidupan dan keramaian, sekaligus simbol kedamaian. Ke sanalah orangtua si bayi membawa anak yang baru lahir itu. Orangtua si bayi sengaja membeli lepat (lapet) atau pisang di pasar dan membagi-bagikan kepada orang yang dikenalnya sebagai tanda syukur dan sukacitanya. Sebaliknya kerabat yang menjumpainya juga membekali si bayi dengan oleh-oleh kecil. Bagi kita komunitas Batak-Kristen moderen yang paling penting adalah menangkap makna atau nilai yang terkandung di dalam tradisi maronan atau mebang ini yaitu: memperkenalkan dan membawa anak masuk kepada realitas atau dunia sekitarnya.

 

  1. Malua/Naik Sidi (Lepas Sidi/Malua sian pangkangkungi)

Di dalam masyarakat atau gereja Kristen–Protestan ritus inisiasi disebut “sidi” (sempurna atau sah–bahasa Indonesia) atau “malua” (lepas–bahasa Batak), yaitu ketika seseorang berdiri di hadapan jemaat dan melafalkan pengakuannya terhadap doktrin gereja tentang Allah, Kristus Yesus, Roh Kudus, Gereja, Kebangkitan Daging atau Orang Mati dan Hidup Yang Kekal.

Seseorang dapat dikatakan Lepas Sidi apabila ia telah menjalani Katekisasi. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Katekisasi adalah masa sebelum seorang umat Kristiani atau Katolik menerima baptisan. Pada masa ini, seorang umat mendapat bimbingan-bimbingan yang mendasar mengenaiKekristenan oleh pemimpin agamanya (biasanya seorang Pendeta atauPastor). Lamanya seorang umat menjalani masa ini tergantung pada peraturan gereja dimana ia berkatekisasi.

Biasanya sebelum berangkat ke Gereja untuk lepas sidi “Katekisan” berdoa bersama orang tua dan selanjutnya berangkat bersama ke gereja untuk pelepasan sidi.

Dung sidung sian gareja, di patupa natorasna do ulaon sipalas roha ni na sidi i.
Sabotulna ndang apala masuk adat i.

Ala ulaon las ni roha do on, dumenggan ma jumolo dipukka dohot partangiangan (ibadah singkat). Dung sidung partangiangan singkat jala pungu hundul sude angka tutur udutan ma tu ulaon namangihut.

Urutan ni acara :

Dung hira ro sude angka najinou diatur ma parhundul.

Mangupa Na Malua

Pasahat Ulos Holong tu na lepas sidi :

Suhut pasahat tudu-tudu ni sipanganon

Marsipanganon

Marbagi Parjambaron

Dung sidung marbagi parjambaron udut ma muse dohot marhata sigabe gabe

pasahat pasituak natonggi udut ma pangampuhontongka pasingothon jala podaan parbagas (suhut tangkas) diloloan natorop. Molo naeng adong sidohonon (si pasingot) annon ma dung mulak tutur manang haduan di titi ma ari.

 

Hasuhoton Mangampu

Urutan Pangampuion :

  1. parjolo ma boru
  2. paidua ni suhut
  3. Suhut sihabolonan
  1. Mamasuki/Mangompoi Jabu

 

Dalam Kehidupan Orang Suku Batak sehari-hari memang selalu dipenuhi dengan Tata Cara yang berbau Adat atau Kegiatan yang dimulai dari Masa Lampau yang di turunkan oleh Leluhur Orang Suku Batak dan sampai kini masih terus di Pertahankan.

Ketika Orang Suku Batak ingin Berencana Membangun,Proses Membangun Rumah sampai setelah Rumah Selesai di Kerjakan atau sudah bisa untuk di Masuki,di Diami atau menjadi Tempat Berkumpulnya 1 Keluarga dari Orang Suku Batak tersebut.

Sebelum Membangun Rumah Baru atau ketika ingin Berencana Membangun Rumah Baru,dalam Adat Orang Suku Batak Hal ini harus diberitahukan kepada Hula-hula untuk Meminta Doa Restu.

Dalam Memasuki Rumah Baru oleh Suku Batak memiliki Tingkatan masing-masing,Berikut penjelasan Tingkatan tersebut :

  1. Manuruk Bagas
  2. Boido sada keluarga mangulahon ulaon manuruk jabu marpiga-piga hali. Misalna dipukka ibana muse sada bagas/jabu nabarujala pinda tusi.
  3. Somalna parjuhuti na dang sigagat duhut alai namarmiak-miak (pinahan lobu) na bolon.
  4. Dang adong ulaon “mompo” tar dos songon na mangan sibuha-buhai di tingki ulaon pamuli boru.
  5. Keluarga nadiundang angka tutur manang tondong terbatas do cukup yang dekat saja.
  1. Mangompoi Jabu

 

Holan sahali do boi sada keluarga mangulahon ulaon mangompoi jabu jala jabu naung ni ompoan si tongka dogadison jala i nama jabu sahat tu na Sari Matua / Saur Matua.

Somalna parjuhut i na sigagat duhut (lombu/horbo).

Di manogot ni ulaon i mardalan do ulaon na margoar “mompo” tar dos songon na mangan sibuha-buhai di tingki ulaon pesta unjuk, jala na dohot di ulaon manogot i holan angka pamili na sumolhot jala di tingki on ma di ulosi hula-hulana boru na marpesta i.

Keluarga nadiundang mangompoi jabu nunga luas dari segi undangan, molo tu tingkat ni hula-hula, Tulang sampe tu Bona ni ari.

Kepada anak yang memasuki rumah baru. Memiliki rumah baru (milik Sendiri) adalah merupakan suatu kebanggaan terbesar bagi masyarakat Batak. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru di anggap sebagai salah satu bentuk keberhasilan atau prestasi tersendiri yang tak ternilai harganya. Tingginya penghargaan kepada orang yang telah berhasil membangun dan memiliki rumah baru adalah karena keberhasilan tersebut di anggap merupakan suatu berkat dari Tuhan yang maha Esa yang di sertai dengan adanya usaha dan kerja keras yang bersangkutan di dalam menjalani kehidupan.

Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru adalah merupakan situasi yang sangat menggembirakan, oleh karena itu ulos (ragi hotang) ini akan diberikan kepada orang yang sedang berada dalam suasana bergembira. Orang batak yang tinggal dan menetap di berbagai puak/horja di sekitar Tapanuli telah memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda pula. Walaupun konsep dan pemahaman tentang adat itu secara umum adalah sama, namun pada hal-hal tertentu ada kalanya memiliki perbedaan dalam hal pemaknaan terhadap nilai dan konsep adat yang ada sejak turun-temurun.

  1. Acara Adat Batak di Alaman (Besar)
  1. Perkawinan dalam adat Batak

Proses perkawinan dalam adat kebudayaan Batak menganut hukum eksogami (perkawinan di luar kelompok suku tertentu). Ini terlihat dalam kenyataan bahwa dalam masyarakat Batak : orang tidak mengambil isteri dari kalangan kelompok marga sendiri (namariboto), perempuan meninggalkan kelompoknya dan pindah ke kelompok suami, dan bersifat patrilineal, dengan tujuan untuk melestarikan galur suami di dalam garis lelaki. Hak tanah, milik, nama, dan jabatan hanya dapat diwarisi oleh garis laki-laki.

Berdasarkan jenisnya ritus atau tata cara yang digunakan, perkawinan adat Batak dibagi menjadi 2 (dua) tingkatan:

  1. Pesta Unjuk: ritus perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan semua prosedur adat Batak Dalihan Na Tolu. Inilah yang disebut sebagai tata upacara ritus perkawinan biasa (unjuk);
  2. Mangadati/Pasahat sulang-sulang ni pahoppu: ritus perkawinan yang dilakukan di luar adat Batak Dalihan Na Tolu, sehingga pasangan bersangkutan mangalua dan ritusnya diadakan setelah memiliki anak.

 

Tahapan Perkawinan Adat Batak

Ini adalah tahapan dari perkawaninan adat batak :

a.     Mangarisik adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata).Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

b.     Marhori-hori Dinding/marhusip adalah pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

Marhusip artinya membicarakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh pihak  paranak sesuai dengan ketentuan adat setempat (ruhut adat di huta i) dan sesuai dengan keinginan parboru (pihak perempuan);

Pada tahap ini tidak pernah dibicarakan mas kawin (sinamot). Yang dibicarakan hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan marhata sinamot dan ketentuan lainnya; dan Pihak yang disuruh marhusip ialah masing-masing satu orang dongan-tubu, boru-tubu, dan dongan-sahuta.

SINAMOT NI BORU selalu dibicarakan namun yang menerima adalah parboru. Apa demikian yang sebenarnya?

Dalam tradisi batak saat ini yang terbayang adalah, berapa banyak duit yang akan diterima pihak orang tua perempuan (PARBORU). Mereka melakukan kalkulasi, beli pakaian dan perhiasan, beli ulos, beli ikan (dengke) ongkos (khususnya yang dibona pasogit). Semuanya itu dikatakan SINAMOT NI BORU.

Pada tradisi batak lama, setiap perempuan yang hendak dikawinkan harus dijamin hidupnya kelak setelah menjadi “pardihuta” bagi suaminya dihadapan mertuanya. Jaminan itu dibahas berapa besar dari harta calon mertuanya itu yang menjadi bagiannya. Ini disebut MANGGOLI, ada batasan yang jelas yang kelak menjadi PANJAEAN.

Harta benda itu terdiri dari, ruma, sopo, emas, gong, sawah, ternak yang terdiri dari kerbau, sapi dan kuda. Inilah yang disebut SINAMOT. Sinamot itu adalah harta benda yang menopang kehidupan dan kesejahteraan.

MANGGOKI SINAMOT, tujuannya agar kelak tidak terjadi konflik antara keturunan paranak. Inilah yang kemudian ditinjau kembali oleh pihak orangtua perempuan saat dilakukan TINGKIR TATARING, ketika orangtua laki-laki melakukan acara PAJAEHON (memandirikan) pasangan itu.

Saat manggohi sinamot, raja parhata dengan tegas melakukan permintaan kejelasan akan sinamot ni boru ini, menguraikan beberapa bagian dari jenis harta yang lajim dalam pembagian hak waris.

Contoh dari kedua keluarga yang memiliki harta benda yang lengkap.

Pihak paranak menjawab permintaan pihak parboru ;

“Nauli Rajanami, ianggo sinamot ni borumu, rade ma sada ruma, saparinaan horbo, sandangka mas, dua turpuk hauma saba, jala bagianna ma porlak sisoding. Ba mamuhai tataringna ba rade ma 200 ampang eme”.

Yang menjadi bagian mereka kelak ada satu rumah, sepasang kerbau, seuntai emas, dua petak sawah dan kebun. Untuk memulai kemandirian mereka akan diberikan 200 kaleng padi. Disini dijelaskan bila mereka tidak memiliki gong, lembu dan kuda.

Setelah ini disepakati, barulah pihak parboru menanyakan “adat marama”. Ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada orangtua yang membesarkan, membimbing dan merawat hingga dewasa. Ini dikaitkan dengan istilah “pagopas panoguna” memperkuat upaya menarik hati. Tapi dalam bahasa adat lajim disebut “somba maruhum”.

Dalam tradisi lama dengan contoh diatas, paranak menjanjikan satu ekor kerbau sebagai SOMBA NI UHUM. Kerbau ini diantarkan ke kampung halaman PARBORU pada waktu yang ditentukan.

NAPOSO bersiap membuka pintu gerbang kampung dan mereka kemudian disebut SIUNGKAP BAHAL. Saudara PARBORU bersiapsiap membuka pintu kandang “BARA” inilah yang kemudian disebut PAMARAI.Pamarai dalam kaitan ini tidak dapat disamakan dengan pengertian MANGABARAI memikul beban di pundak.

 

PAUSEANG

Dalam anak TUBU BORU SORANG keterangan pauseang ini sudah lebih jelas. Ini merupakan penegasan bahwa bila parboru menuntut hak waris anaknya yang disebut PANJAEAN, dia juga berkewajiban untuk memberikan hak waris kepada putrinya yang disebut PAUSEANG.

 

LEGISLASI HAK WARIS

Setelah cukup waktunya menurut PARANAK maka dilakukan acara PAJAEHON. Mereka menjadi keluarga baru yang mandiri, akan mengelola semua SINAMOT yang sudah dijanjikan sebelumnya. Manjae bisa saja tetap dalam satu rumah tapi jelas pemisahannya dengan istilah MARHUDON PANJAEAN MARTALAGA OLAT-OLAT.

Dalam acara ini langkah parboru disebut TINGKIR TATARING. Pada saat itu parboru dapat menyaksikan semua SINAMOT NI BORU itu dalam bentuk nyata. Bila kerbau, dapat sentuh, sawah dapat dipijak, kebun juga disaksikan dengan mata sendiri. Emas juga diperlihatkan dan ditimbang.

Ini mempertegas bahwa tidak ada lagi silang sengketa kelak diantara menantunya bersaudara, karena sudah disaksikan sendiri dengan pengetua dan kerabat dekat kedua belah pihak.

Setelah itu, pihak paranak melakukan kunjungan ke kampung halaman parboru. Mereka disebut MEBAT, artinya mangebati kampung halaman hulahula. Disini dimanfaatkan untuk mempertegas PAUSEANG yang telah dijanjikan parboru. Pihak paranak berhak mengunjungi sawah yang dijanjikan itu.

Pada kesempatan itu juga dapat dibicarakan (jika mungkin) agar menantunya “marpauseang dihutana”. Ini bila tempat kedua belah pihak sangat berjauhan, hingga sangat merugikan kalau harus “marhauma tandang” mengolah sawah itu karena faktor waktu tempuh yang jauh. Harga jual, (bukan harga “dondon” gadai) sawah itu dialihkan membeli sawah di kampung halaman paranak.

Bila acara UNJUK pelaksanaan perkawinan adalah DIALAP JUAL berada dihadapan parboru, maka kunjungan ke tempat parboru ini disebut MEBAT. Pada acara ALAP JUAL inilah pihak parboru secara total terpenuhi haknya dalam adat dan disebut NANIAMBANGAN. Bila acara UNJUK dilaksanakan di hadapan paranak disebut DITARUHON JUAL, Pada acara TARUHON JUAL inilah pihak parboru tidak terpenuhi haknya dalam adat karena mungkin tatacara adat dan parjambaron tidak sesua dengan mereka. Mereka harus tunduk dalam hukum adat MARSOLUP DI HUNDULAN. Apa tata cara adat dan parjambaron di pihak paranak itulah yang mereka terima. Maka kunjungan ke tempat parboru ini disebut PAULAK UNE.

Semua kekurangan dan yang tidak terpenuhi saat UNJUK, maka inilah saatnya memenuhi. Ini sangat bertentangan dengan pemahaman para pakar budaya batak saat ini yang mengatakan PAULAK UNE itu sebagai solusi mengembalikan pengantin wanita yang tidak perawan. Mereka mengartikan PAULAK UNE itu dengan mengembalikan “manusia” dengan baik. Ini tidak ada dalam kamus kebudayaan batak. Kata SIRANG memang ada dalam masyarakat batak dulu tapi prosesnya adalah PAGO SIRANG, bukan paulak une. Pago sirang ada aturan mainnya yang dapat kita bahas di lain kesempatan.

Tidak semua masyarakat batak memiliki harta yang lengkap dan melimpah. Kadangkala dalam pembahasan (harta benda) SINAMOT itu tidak dapat memberikan janji. Pihak paranak hanya mampu menghaturkan sembah permohonan kepada pihak parboru. Tenggang rasa sudah sejak lama berlangsung. Bila pihak parboru lebih unggul dalam harta benda dari pihak paranak maka berlaku adat “tongka masipamaluan” jangan mempermalukan karena kelak mereka akan menjadi keluarga. “Napuran santampuk” sebagai wujud dari sembah penghormatan kepada parboru pun disepakati.

Pihak parboru akan menanggung beban yang lebih besar. Walau proses yang tejadi adalah ALAP JUAL namun dalam hal pembahasan Sinamot dan Somba ni UHUM tidak ada hal yang memenuhi sehingga ada penghalusan istilah dengan SITOMBOL.

Ini hanya sebutan, bukan bagian pembahasan dalam adat manggoli sinamot. Istilah SITOMBOL dan RAMBU PINUDUN sebenarnya adalah menutupi kekurangan akibat kemiskinan.

Fakta saat ini, tidak ada lagi pemaknaan manggoli SINAMOT sebagai penjaminan hak perempuan di depan keluarga suaminya. Melulu membahas materi yang akan diterima PARBORU. Kesannya seperti MAHAR dan ada yang menyatakan seperti itu.Pergeseran pemahaman itu berangsur sejak pihak paranak menyatakan bahwa, kerbau, sawah, emas semuanya sudah dijual untuk menyekolahkan anaknya dan itulah (ilmu pengetahuan, pekerjaan) kelak menjadi PANJAEAN bagi mereka.

Semakin jauh makna Sinamot ditinggalkan karena ada tradisi “langsung” saja. Tawar menawar pun terjadi, hitung hitung pos pengeluaran parboru; ulos yang akan diberi, dengke yang akan dimasak, ongkos rombongan yang diundang. Kesannya SINAMOT NI BORU tapi orang tua perempuan yang menghabiskannya. Di sela keruwetan pelaksanaan acara adat, ibu pengantin perempuan berkelana menemui semua undangannya dan menyalamkan uang ribuan dengan ucapan “godang do jujalo tuhor ni borunta” atau sesuai dengan hubungan kekeluargaan. Dia menyatakan telah menjual anaknya.

Bila kedua belah pihak memang tidak memiliki harta benda untuk melaksanakan tata kelola adat perkawinan seperti lajimnya dilakukan orang berada, maka SINAMOT tidak lagi dibahas. Mereka memperkecil skop pelaksanaan adat itu. Bahkan tidak ada UNJUK (acara yang biasanya dilakukan di halaman terbuka) tapi dilakukan di dalam rumah. Acara ini disebut MANURUN. Paranak dan parboru berunding menanggulangi biaya.

Apakah dari keluarga yang sangat miskin dapat melakukan perkawinan?

Bila acara MANURUN yang paling sederhana tidak dapat dilakukan maka MANGEMBALHON GAJUT adalah jalan keluarnya. Hanya pengantin yang diberi ulos oleh parboru dan tulangnya bersama kerabat terdekat saja. Kadang tidak ada acara makan dan parjambaron. Kemudian ibu dari pengantin perempuan memberitahukan kepada para kerabat jauh waktu ketemu di onan perihal perkawinan yang sudah berlangsung itu.

Proses perkawinan itu sah menurut adat, dan tidak boleh ada klaim seperti yang sering terdengar saat ini “dang maradat dope”. Yang menikah dengan cara mangembalhon gajut tidak berhutang lagi untuk melakukan pesta adat yang lebih besar walau kemudian menjadi kaya raya.

Bila kemudian dia berniat memberi penghormatan kepada hula-hulanya karena sudah memiliki harta, tidak lagi disebut “mangadati”. Dia hanya memilki kesempatan dengan cara PAEBATHON PAHOMPU.

Konflik pelaksanaan adat perkawinan saat ini berkembang karena tidak ada yang mau mengalah, tidak ada dasar pemikiran makna tradisi itu. Cenderung berlomba meriah tanpa mengukur kemampuan yang ada, “Paihutihut gaja marhonong”. Bila acara dilakukan dengan sederhana, ada pula yang menyindir,

 

“Pesta apa ini?”.

Banyak yang berkehendak untuk menyederhanakan tapi jarang yang mampu memulai. Adat perkawinan saat ini melelahkan karena lebih banyak asesori yang tidak penting daripada pemaknaan. Yang sederhana seperti MANURUN dan MANGEMBALHON GAJUT sudah dianggap tidak adat ladi. GOK NI ADAT dimaknai bila parboru menerima SINAMOT NI BORU dan ada acara yang meriah. Inilah yang dikategorikan para leluhur NATUNGGING DO NATEAL SONGON HUDON NA SO HINARPEAN

 

MARTONGGO RAJA atau MARIA RAJA

Maronggo Raja/Mar-Ria Raja adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :

  • Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis
  • Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
  • Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

Catatan:

Istilah ini tergantung Jenis Ulaon (Taruhon Jual/Dialap Jual pada acara Pernikahan) apabila yang yang “bolahan amak” pelaksananya maka disebut Martonggo Raja sebaliknya pihak yang “tidak bolahan amak” disebut Mar-ria Raja.

 

MANJALO PASU-PASU PARBAGASON (Pemberkatan Pernikahan)

Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja/Pamasu-masuon). Setelah Pamasu-masuon selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk.

Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen).Pesta Unjuk adalah suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.

 

DIALAP JUAL

Jual adalah sejenis tandok pandan yang dianyam sebagai tempat menyimpan benih padi/ lopok. Parboru (orangtua mempelai wanita) ketika akan menikahkan puterinya akan membekalinya dengan benih padi dari sawahnya untuk dibawa dan dikembangkan kelak bersama suaminya. Padi adalah simbol kehidupan. Dalam alam pikiran Batak (jaman dulu), pihak hula-hula adalah pengantara berkat kehidupan yang dimintakan kepada Debata Mula Jadi na bolon. Dekat dengan pengertian Jual, adalah ampang. Ampang adalah wadah anyaman rotan yang agak bulat, dengan kerangka/pilar empat. Ampang tersebut berbentuk oval, dengan bagian bawah lebih kecil dari bagian atas yang terbuka. Ampang pada umumnya berfungsi sebagai tempat beras. Umpasa Batak yang dekat dengan itu adalah “Bagas na marampang na marjual, na marsangap na martua”. Artinya suatu rumah yang dilengkapi dan berisi bekal padi yang sustainabel melanjutkan keturunan, dan juga melimpah beras untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Dalam adat dialap jual, maka pihak paranak akan datang di pagi hari ke rumah parboru menjemput calon mempelai wanita, untuk selanjutnya diiringkan ke Gereja menerima pemberkatan nikah. Setelah pemberkatan akan dilanjutkan dengan acara unjuk/ pesta adat  di gedung yang telah disiapkan pihak parboru. Acara di pagi hari tersebut, dikenal dengan marsibuha-buhai, yaitu mamuhai (mengawali) prosesi adat. Paranak membawa makanan adat (biasanya pinahan lobu/ pinallo) yang ditaruh di dalam Ampang, serta dijunjung (dihunti) oleh boru tubu/ terdekat dari orang tua mempelai pria.  Dari sinilah datangnya pengertian bahwa dalam unsur suhi ni ampang na opat, yang menerima hak/jambar ulos sihunti ampang adalah boru tubu/hela dari orangtua pengantin laki-laki.

 

DITARUHON JUAL

Akan halnya TARUHON JUAL, pihak Parboru lah yang datang mengantarkan (MANARUHON) BORU ke rumah pihak Paranak. Karena acara adat dilaksanakan adalah setelah upacara pemberkatan nikah di gereja, maka adat dan prosesi TARUHON JUAL dapat dilaksanakan di Gedung. Rombongan Parboru akan masuk gedung bersama dengan mempelai wanitanya dengan membawa JUAL yang berisi padi/ beras, untuk disambut Paranak. Juru bicara/ parsinabung Parboru akan berkata: “Sesuai dengan kesepakatan adat kita sebelumnya, dengan ini KAMI MENGANTARKAN BORU KAMI sebagai PARUMAEN/ Paniaran MUNA bersama dengan (LAOS MANGIHUTMA) JUALna” Pihak PARANAK selanjutnya akan menerima mempelai wanita dan JUAL tersebut menjadi di rombongan mereka. Sambutannya adalah lebih kurang: “Terima kasih kepada rombongan hula-hula yang kami muliakan. Dengan ini kami terima Paniaran kami, boru muna, bersama dengan JUALnya “  Atau apabila prosesi Taruhon Jual tersebut dilakukan di pagi hari, maka MARSIBUHA-BUHAI itu adalah di tempat/ rumah tinggal Paranak. Parboru yang harus datang ke sana mengantarkan borunya bersama dengan JUAL nya. Selanjutnya mereka dapat bersama-sama mengiringkan ke Gereja untuk pemberkatan nikah.

 

DAULAT NI SI PANGANON

Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si  Panganon). Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru.

 

PAULAK UNE

Paulak Une yaitu setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan). Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya  memulai hidup baru.

 

MANJAE

Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

 

MANINGKIR TANGGA

Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru).

Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

 

HABOT NI ROHA (duka cita)

Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus, terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut diklasifikasi berdasar usia dan status si mati. Untuk yang mati ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakuan adat (langsung dikubur tanpa peti mati). Tetapi bila mati ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), keseluruhan kematian tersebut mendapat perlakuan adat : mayatnya ditutupi selembar ulos (kain tenunan khas masyarakat Batak) sebelum dikuburkan.

Ulos penutup mayat untuk mate poso-poso berasal dari orang tuanya, sedangkan untuk matedakdanak dan matebulungulos dari tulang (saudara laki-laki ibu) si orang mati.

Upacara adat kematian semakin sarat mendapat perlakuan adat apabila orang yang mati:

  1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-alanganmate punu),
  2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar),
  3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon),
  4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate sari matua), dan
  5. Telah bercucu tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua).

Mate Saurmatua menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara, karena mati saat semua anaknya telah berumah tangga. Memang masih ada tingkat kematian tertinggi diatasnya, yaitu mate saur matua bulung (mati ketika semua anak-anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan) (Sinaga,1999:37–42). Namun keduanya dianggap sama sebagai konsep kematian ideal (meninggal dengan tidak memiliki tanggungan anak lagi).

Ulos Tujung adalah satu ulos yang diberikan Hula-hula kepada yang ditinggalkan yaitu Janda atau Duda. Falsafah pemberian ulos ini adalah suatu pengakuan resmi dari kedudukannya seorang yang menjadi Janda atau Duda berada dalam satu keadaan duka yang terberat dalam hidup seseorang, ditinggalkan untuk selama-tamanya oleh teman sehidup semati.

Sekaligus berupa pemyataan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya dari pihak Hula hula. Ulos Tujung biasa kita lihat diberikan dari jenis Ulos Sibolang, yang memberikan Ulos Tujung harus orangtua langsung dari si isteri jikalau tidak bisa hadir atau sudah meninggal oleh abang/adik kandung si isteri pokoknya dari keluarga terdekat dari Hula hula itu. Biasanya Ulos Tujung diberikan pada hari pertama yang meninggal itu, tetapi ada juga yang memberikan pada pagi hari penguburan.

Cara pemberian Ulos Tujung ialah menyampirkan dari sebelah kanan melewati di atas kepala sampai ke sebelah kiri, biasanya sampai menutupi muka yang bersangkutan. Cara pemberian seperti di atas adalah terutama bila yang meninggal itu masih ada tanggung jawab terhadap anak-anaknya, masih sekolah atau belum kawin. Sifat meninggal demikian disebut “Mate Mangkar”. Sambil memberikan Ulos Tujung yang biasanya terjadi dengan penuh haru, ungkapan berikut misalnya dapat diucapkan :

“Hamu Ito (bila suami yang meninggal)

“Hamu Hela (bila si isteri yang meninggal)

Ruhut ni adatta do molo masa sitaonon arsak ni roha na ampe tu pargellengon na songon on, mangihuthon adat pasahatonnami ma Ulos on, huhilala rohanami do dokdok ni panghilalaan muna siala sitaonon on. Jadi dohononnami ma, saluhut angka na masa tangkas do i diida jala diboto Tuhanta, jadi gogo ma hamu martangiang anggiat tibu dilehon Tuhanta apulapulna na sumurung i tu hamu.

Asa marbenget ni roha jala margogo hamu satongkin di parungkilon na ampe tu hamu di tingki on jala asa dipadao Tuhanta i ma arsak ni roha dohot pandeleon sian hamu. Tu Tuhanta i ma arsak ni roha dohat pandeleon sian hamu. Tu Tuhanta i ma pasahat hamu arsak ni rohamuna on, ai Ibana do pangapul na lumobi.

Ingot hamu ma :

Hotang binebe bebe, Hotang pinulos pulos

Unang hamu mandele, Ai godang do tudostudos,….Boti ma.

Ulos Sampetua diberikan kepada suami dan isteri yang berduka karena meninggalnya (suami atau istri) bagi yang tergolong kategori Saurmatua, Saurmatua Bulung. Ulos tersebut diberikan adalah semata-mata merupakan tanda berkabung. Cara penyampaiannya, tidak dikerudungkan di atas kepala yang berduka tetapi diletakkan di atas bahu bagi penerimanya cukup saja diuloshon.

Dengan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Batak Toba:

Hamu Namboru (atau Amangboru) naung ganjang do umur ni Amangboru (manang Namboru) dilehon Tuhanta sahat tu na Saurmatua, Saurmatua Bulung jala torop pinompar ni anak dohot pinompar ni boru sahat gabe marnini jala marnono. Ndang tama be hita didondoni arsak ni roha, alai saluhutna i taboan ma dibagasan tangiang huhut mandok mauliate tu Tuhanta siala godang ni denggan basana na tajalo di ngolunta. On pe pasahatonnami do tu hamu Ulos Sampe Tua mardongan tangiang nami, sai boi dope dilehon Tuhanta i gumanjang umur muna dibagasan hahipason dohot las ni roha pairingiring angka pomparanmi.

Bagi yang menerima ulos Sampatua pada dasarnya tidak dibenarkan lagi kawin, kecuali ada pertimbangan yang sangat urgent.

Penerima Ulos Sampetua tidak ada lagi dilakukan acara pembukaan. Karena pemberian ulos ini adalah bermakna ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatnya kepada suami atau istri yang meninggal telah mencapai usia lanjut dan menikmati hagabeon telah dikaruniai Tuhan beranak cucu atau cicit.

Ulos Saput adalah dikembangkan di atas peti mayat di sana disebut Ulos Tutup Batang (Ulos Penutup Peti Mayat). Ulos ini nantinya akan diambil oleh boru dari Suhut Bolon. Bilamana bapaknya yang meninggal dunia yang berhak mengambil Ulos Tutup Batang itu adalah Boru siangkangan. Dan sekiranya Ibunya yang meninggal dunia itu, yang berhak mengambil Ulos Tutup Batang itu ialah Boru Siampudan.

Jadi tata cara penyerahan ulos ini hanya diherbangkan di atas peti mayat tersebut dengan tentu disertai ucapan-ucapan pepatah-petitih Batak Toba oleh Tulang sebagai kata-kata penghiburan kepada keluarga berenya yang berdukacita. Biasanya ulos yang dipakai sebagai ulos adat yang diberi nama ulos Saput dan ulos Tujung adalah dari jenis Sibolang.

Pada tahun-tahun terakhir ini telah kita lihat bahwa acara pembukaan tujung itu biasa dilakukan pada malam harinya setelah kembali dari tempat penguburan. Yang mengadakan acara pembukaan tujung itu ialah pihak Huiahula yang dulunya pihak yang menyampaikan ulos tersebut kepada Borunya. Untuk pelaksanaannya acara ini telah disiapkan lebih dahulu bahan-bahan yang diperlukan untuk itu yaitu air putih dalam baskom, air putih bersih satu gelas, sekedarnya beras di dalam sebuah piring.

Dimana Janda atau Duda yang bersangkutan sudah duduk dengan memakai Ulos Tujung di atas kepalanya didampingi oleh anak-anaknya. Hula-hula datang mendekat dengan bahan-bahan yang telah disiapkan.

Mula-mula dibukalah Ulos Tujung dari kepala yang bersangkutan dan dilepaskan dari badannya dan biasa terus dilipat dan diletakkan di samping sambil mengucapkan kata-kata berikut:

Hamu Borunami/Helanami. Dapot ma tingkina ungkaponnami tujung on sian Simanjujung muna. Sai bungka jala ungkap ma ari na tiur di hamu. Sai lam tu neangna ma panghilalaanmuna asa lam sumuang gogomu tu joloan ni ari on, marhitehite asi ni Tuhanta.Ihut tusi dibuat ma aek na di baskon i, dung i disuaphon ma 2 hali tu bohi ni na sinuapan i huhut ma didok:

Husuapi ma hamu dohot aek sitiotio on, asa tio ma parnidaonmuna asa minar nang panailimuna. Diapusi Tuhanta ma iluilu sian simalolongmuna asa tangkas tiur ari idaonmuna, laho mandalani ngolumuna tu joloan on. Sai dapot ma di hamu songon nidok ni umpasa:

Sai bagot na madungdung ma tu pilopilo na marajar

Sai salpu ma na lungun. Sai ro ma na jagar.

Dung i, dipainumhon aek sitiotio na di galas i. Huhut didokinum hamu ma aek sitiotio on,

Asa sai tio ma pardalananmuna tio parhorasan dohot panggabean

tu joloan on ditumpak asi ni roha ni Tuhanta.

Pangujungina dijomput ma boras na sian bagasan piring i diampehon tu ulu ni Boru/Hela i, huhut dihatahon umpasa:
Tinapu ma bulung siarum
Bahen uram ni pora-pora
Tibu ma na hansit i malum

Soluk ma silas ni roha

Eme Sitamba Tua

Parlinggoman si Siborok

Tuhanta ma silehon tua

Hipas hipas ma hamu diparorot

Udut tusi dijomput ma muse boras i diampehon tu simanjujung ni angka ianakhonna i sude. Dung i rap mandok ma Horas 3 kali (Horas….Horas….Horas).

Demikianlah tata cara adat berkaitan dengan memberi dan membuka tujung. Seterusnya dilanjutkanlah acara itu dengan makan bersama. Biasanya Hula hula telah siap membawa Indahan apulapul dan menyampaikan dengke sitiotio, dengke sahat agar keluarga Borunya itu dapat hendaknya terhibur dan sahat tarapul pada masa-masa yang akan datang.
Makna dari “Buka Tujung” ialah bahwa sejak Tujung dibuka maka Janda atau Duda yang bersangkutan sudah bebas, bolehlah bebas bekerja, mengerjakan pekerjaannya yang biasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga untuk mengurus anak-anak sekolah yang masih memerlukan bimbingan dan pengurusan seperlunya.

Bilamana yang dibuka Tujung itu adalah si suami (isterinya yang meninggal) maka di dalam buka tujung itu terselip satu makna dari pihak Hula-hulanya bilamana ketemu jodoh sudah diikhlaskan untuk kawin lagi.

 

Jakarta, 11 Oktober 2016

Dipapungu-pungu oleh Tim Penulis:

Laksa Simanjuntak (Ompu Pauli) S-15

Alden Simanjuntak (A. Audrey) S-16

Sopar Simanjuntak (A. Romanna) S-15

 

 

Comments

No comments found!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Tentang Website Kami

Website PSSSIB.org ini didedikasikan untuk seluruh warga Batak dengan marga Simanjuntak yang merupakan keturunan Raja Marsundung Simanjuntak dan bersatu dalam Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina beserta seluruh Borunya.

Website ini adalah media komunikasi, edukasi dan interaksi seluruh anggota Parsadaan dengan tujuan meningkatkan rasa kasih & persaudaraan di semua keluarga besar Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna se Jakarta & Sekitarnya

Login
Remember me
Lost your Password?
Password Reset
Login