Sejarah PSSSI & B Jakarta & Sekitarnya

SEKILAS MENGENAI SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA DOHOT BORUNA DI JAKARTA

Seperti syair lagu yang dikarang oleh Gr. Konrad Simanjuntak , diibaratkan Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina seperti rumput yang kecil yang menjadi subur dan berserak.

Sekitar tahun 1930an mulai bereksodus dari bonapasogit keturunan dari Simanjuntak Sitolu sada Ina ke Jakarta (dulu Batavia). Belum telalu banyak pada saat itu yang hijrah ke Batavia karena sulitnya transportasi dikarenakan jarak yang sangat jauh (kurang lebih 2000 Km).

Kalau dibagi periode kedatangan orang Batak dan tentunya Keturunan Simanjuntak sitolu sada Ina dari Bonapasogit ke Batavia ini  adalah :

  1. Sebelum Kemerdekaan 1945
  2. Setelah Kemerdekaan 1945
  3. Setelah Pengakuan Kedaulatan RI 1950

 

I. Sebelum Kemerdekaan 1945

Pada Periode ini hanya para pelajar yabg datang ke Batavia untuk bekerja di Kantor Pemerintahan Belanda, menjadi rentara atau melanjutkan sekolah. Transportasi pada saat itu adlah kapal laut yang pemberangkatannya dari Belawan atau sibolga. Biaya transport sangat mahal saat itu.

Pada tahun 1938 menurut M S Simanjuntak (Op. Parulian) Sitombuk 13 pada saat baru tiba di Jakarta belum begitu banyak Keturunan dari Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Hanya pada saat kebaktian Minggu dapat berkumpul dan bertemu dengan Orang Batak. Belum terlalu diperjelas panggilan kepada sesame orang Batak pada waktu itu , bila usianya di atas kita maka kita panggil amang atau inang, dan seusia maka kita panggil ampara, lae atau ito.  Untuk memperbanyak komunitas maka pada saat itu bergabung dalam Keturunan Tuan Somanimbil.

Inilah daftar Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina pada periode ini :

  1. Elias Simanjuntak (M)/br. Lumban Tobing, pegawai Keuangan
    Mertua dari Drs. Kostan Siagian MA
  2. Hendrik Simanjuntak/br. Hutagaol (H) pegawai kadaster (Agraria)
    Mertua Napitupulu Jl. Merbabu Guntur
  3. Darisim Simanjuntak/br. Hutabarat (M) pegawai Biro Pusat statistic
    Mertua Drs. SGB Tampubolon
  4. P Simanjuntak/br. Silitonga (M), Angkatan Laut Komandan Kapal Perang Gajah mada
  5. K Sihite/br. Simanjuntak (H). pedagang
  6. P Silalahi/br. Simanjuntak (H), Arsitek, Kontraktor
  7. V Lebanus Siamnjuntak/br. Siagian (M), pegawai Bank Factory
  8. M S Simanjuntak/br. Tambunan (S), Guru (RRI)
  9. J Badogil Simanjuntak/br. Lumban Tobing (M),pegawai departemen keuangan (Pegadaian)
  10. Dr. I P Simanjuntak/br. Siahaan (M), Guru Besar

 

Banyak juga para Pemuda yang bersekolah , inilah yang bisa tercatat:

  1. Dinar br. Simanjuntak (M) menikah Drs, K Siagian MA
  2. Basaria br. Siamnjuntak (M) menikah Prof. MR. Dr. J C T Simorangkir
  3. Cornel Simanjuntak (S), Komponis
  4. Joseph Simanjuntak (S)
  5. Bistok Simanjuntak (M), Direktur SMA YPK, pengusaha Optik
  6. Firman Simanjuntak (M)
  7. Alfred Simanjuntak (M), Pimpinan Toko Buku Gunung Mulia

 

II. Setelah Kemerdekaan 1945

Setelah Kemerdekaan 1945 terlebih setelah Clash ke 2 tahun 1947 semakin banyak Orang Batak datang ke Jakarta. Pada masa ini jadwal pemberangkatan Kapal laut dari Belawan  sudah teratur. Dari militer terutama veteran dan pegawai negeri yang mutasi ke Jakarta. Banyak juga dari antara mereka yang datang hanya untuk jalan-jalan untuk melihat situasi akhirnya jadi menetap di Jakarta Belum begitu banyak Keturunan Simanjuntak sitolu Sada Ina di periode ini dan Keturunan Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan raja Hutabulu belum begitu paham mengenai Ruhut-ruhut paradaton dan pelaksanaan adat dilaksanakan sambil belajar walaupun ada kekurangan tetap mengerti dan memahami segala kekurangan .

Pada tahun 1948 didirikanlah Punguan Simanjuntak dohot Boruna , dan inilah Kepengurusannya:

  1. Ketua :   M S Simanjuntak (S) par RRI
  2. Wakil Ketua :   J Badogil Simanjuntak (M)
  3. Sekretaris :   K Sihite (H)
  4. Bendahara :   Peter Silalahi (H)

Belum ada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Punguan dan dilaksanakan musyawarah untuk mufakat. Punguan belum bernama Parsadaan Simanjuntak Sitolu sada Ina Dohot Boruna.

 

III. Setelah Pengakuan Kedaulatan RI 1950

Karena di Jakarta kehidupan lebih baik  dibandingkan dengan Bonapasogit maka semakin banyak pula yang bereksodus ke Jakarta ini. Kalau dulu hanya pelajar dan karena pindah tugas maka di periode ini banyak pula yang sudah berkeluarga mengadu nasib mencari kehidupan yang lebih layak di Jakarta ini. Semakin banyak Gereja yang dibangun dan tentunya Punguan Marga semakin banyak pula yang dibentuk.

Setelah periode Kepengurusan Kol. Parange Simanjuntak maka mulai bernama Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina setelah didirikannya Tugu Sobosihon br. Sihotang di Hutabulu yang dipestakan  tanggal 19-22 September 1963.

Daftar Nama Ketua Umum PSSSI & B Sepanjang Masa

PERIODENAMAHORONGTAHUN
1M. S. SimanjuntakS. 131948 – 1950
2J. Badogil SimanjuntakM. 131950 – 1955
3Daulat SimanjuntakS. 141955 – 1958
4Abidan SimanjuntakH. 141958 – 1960
5Kol. Parange SimanjuntakM. 141960 – 1965
6Prof. I. P. SimanjuntakM. 141965 – 1970
7Kol. Gumpar SimanjuntakM. 151977 – 1983
8Kol. Washington SimanjuntakH. 141977 – 1983
9OBR SimanjuntakS. 151983 – 1988
10Dr. Hesman SimanjuntakM. 141988 – 1991
11Drs. T. Parlindungan SimanjuntakH. 141991 – 1994
12Sahala SimanjuntakS. 141994 – 2000
13Wilson SimanjuntakM. 162000 – 2004
14Dr. Tunggul SimanjuntakH. 152004 – 2008
15Ir. Bona SimanjuntakS. 152008 – 2012
16Dr. Nelson Simanjuntak, SH, M.SiM. 152012 – 2016
17Laksamana Pertama(Purn) Songkal VH SimanjuntakH. 162016 – 2020

 

AD-ART-PSSSI-Jakarta-Sekitarnya

Karena Semakin banyaknya Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina maka untuk memudahkan komunikasi dan menjalin kesatuan dan persatuan maka dibentuklah pembagian Wilayah.

Sejak tahun 1977, Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina sudah mulai menerapkan prinsip-prinsip Organisasi “Modern”. Anggotanya pun semakin banyak. Pembukaan di Perumahan Nasional (Perumnas) dan kawasan-kawasan industri seperti di daerah Bekasi, Depok, dan Tangerang, menyebabkan marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina semakin tersebar di wilayah Jabodetabek. Pada tahun 1977 Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina di Bogor mulai berdiri sendiri, lepas dari PSSSI & B Jakarta Raya dan Sekitarnya. Parsadaan pun sudah mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Pengurus “dipilih” secara bergiliran sesuai konsensus. Artinya Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dipimpin secara bergiliran dari ketiga unsur Simanjuntak Sitolu Sada Ina yakni Mardaup, Sitombuk, dan Hutabulu.

Pada Pra-Musek 9 Oktober 2016 Wilayah Tangerang  memisahkan diri dari PSSSI & B Jakarta Raya dan Sekitarnya.Sampai saat ini PSSSI & B Jakarta Raya dan Sekitarnya terdiri dari :

  1. Wilayah Jakarta Pusat
  2. Wilayah Jakarta Timur
  3. Wilayah Jakarta Selatan
  4. Wilayah Jakarta Barat
  5. Wilayah Jakarta Utara
  6. Wilayah Cibinong
  7. Wilayah Depok
  8. Wilayah Bekasi

Ketua Wilayah

NONAMAHORONGKETUA WILAYAH
1Efendy Simanjuntak/Br. PanjaitanH. 14JAKARTA PUSAT
2St. Togar Simanjuntak/Br. LumbantobingM. 16JAKARTA BARAT
3Manaris Simanjuntak/Br. SiraitS. 15JAKARTA UTARA
4Yudha Simanjuntak/Br. PurbaH. 16JAKARTA TIMUR
5St. Yos Osmar M. Simanjuntak/Br. SiagianS. 14JAKARTA SELATAN
6Jerry Simanjuntak/Br. PanjaitanH. 15DEPOK
7Darwin SimanjuntakS. 16CIBINONG
8Ir. Walman Simanjuntak/Br. PardedeS. 13BEKASI

Seiring dengan pembentukan Wilayah maka dibentuklah sektor-sektor untuk lebih memudahkan komunikasi di kepengurusan PSSSI & B Jakarta Raya dan Sekitarnya.

JUMLAH SEKTOR PSSSI & B JAYA DSK  PERIODE 2016 – 2020

NOWILAYAHJUMLAH SEKTOR
1JAKARTA PUSAT5
2JAKARTA BARAT12
3JAKARTA UTARA12
4JAKARTA TIMUR36
5JAKARTA SELATAN15
6DEPOK9
7CIBINONG6
8BEKASI42
T O T A L138

 

Horas tondi madingin, Pir tondi matogu, Manghorasi ma Tuhan Debata.

Tugu Sobosihon br Sihotang