Tuesday, November 12, 2019

  Mengutip lagu Godbless :

“Lebih baik di sini…

 Rumah kita sendiri…

Segala nikmat dan anugerah yang kusaa…

SEMUANYA ADA DI SINI….RUMAH KITA”


Rumah Adat Batak Toba

Dalam arti umum, rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah adalah tempat tinggal manusia. Dalam arti khusus, rumah mengacu pada konsep-konsep sosial-kemasyarakatan yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, hidup, makan, tidur, beraktivitas, dan lain-lain.
Sebagai bangunan, rumah berbentuk ruangan yang dibatasi oleh dinding dan atap. Rumah memiliki jalan masuk berupa pintu dengan tambahan berjendela. Lantai rumah biasanya berupa tanah, ubin, babut, keramik, atau bahan material lainnya.
Aktivitas yang paling sering dilakukan di dalam rumah adalah beristirahat dan tidur. Selebihnya, rumah berfungsi sebagai tempat beraktivitas antara anggota keluarga atau teman, baik di dalam maupun di luar rumah pekarangan.
Rumah dapat berfungsi sebagai tempat untuk menikmati kehidupan yang nyaman, tempat untuk beristirahat, tempat berkumpulnya keluarga, dan tempat untuk menunjukkan tingkat sosial dalam masyarakat.

Rumah Adat Batak :

Ribuan jumlah suku bangsa di Indonesia membuat negeri ini memiliki kekayaan adat dan budaya yang sangat melimpah. Popularitas Indonesia di mata dunia adalah sebagai adalah satu negara yang memiliki ragam budaya yang tidak dimiliki oleh negara lain. Keragaman budaya itulah yang membuat Indonesia memiliki keunikan tersendiri dan sangat patut untuk kita banggakan.
Data terakhir yang diperoleh dari sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menujukan bahwa Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Mereka tersebar di 34 provinsi yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku bangsa tersebut memiliki adat dan budayanya tersendiri yang direpresentasikan dalam berbagai bentuk seperti bahasa, tarian, nyanyian, makanan hingga rumah adat. Setiap produk budaya yang berasal dari suatu suku bangsa tertentu tentunya memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya.
Rumah adat merupakan hunian yang diciptakan, dibangun, dan ditinggali oleh suatu suku bangsa dari daerah tertentu. Setiap rumah adat memiliki desain, gaya arsitektur, fungsi bahkan nilai filosofis yang beraneka ragam dan ditentukan oleh adat dan budaya dari suku bangsa tertentu. Suku Batak adalah salah satu suku bangsa terbesar yang berasal dari wilayah Sumatera Utara.
Sama seperti beberapa suku bangsa di Indonesia, Suku Batak juga memiliki rumah adatnya tersendiri yang terdiri dari beberapa jenis yang ditentukan oleh beberapa sub suku yang dimiliki oleh Suku Batak.
Sejarah dan penjelasan mendalam mengenai Rumah Adat Batak beserta desain gambar rumah yang sangat menawan untuk referensi utama anda! Sebagai suku salah satu suku terbesar Indonesia yang menempati mayoritas wilayah di Sumatera Utara, banyak juga yang menyebut Rumah Adat Batak sebagai Rumah Adat Sumatera Utara. Rumah Adat Batak yang paling populer bernama Rumah Adat Bolon dan tiga jenis rumah adat lainnya adalah Rumah Adat Batak Toba.

Filosofi Rumah Adat Batak
Rumah Adat Batak bukan hanya didirikan untuk tempat tinggal, namun juga memiliki filosofi yang merupakan pedoman hidup. Beragam nilai-nilai luhur yang ada di rumah tradisional ini. Filosofinya adalah sebagai pedoman hidup dalam pergaulan antar Individu.
Selain itu, filosofi lainnya adalah sebagai bentuk cagar budaya yang menjadi sarana pelestarian budaya. Bertujuan agar dapat diwariskan kepada generasi-generasi penerus. Selain memiliki filosofi, rumah adat batak juga memiliki makna. Berikut adalah makna dari rumah adat ini.

Makna Rumah Adat Batak

Rumah Adat batak memiliki makna yang luas, bukan hanya keindahan dan keunikannya saja. berikut adalah makna lengkap dari rumah anda yang dibuat Suku Batak ini.
Makna Lukisan Dan Hiasan Rumah Adat Batak
Rumah Adat Batak biasanya ditempati lima sampai enam keluarga. Di dalam rumah ini Anda bisa melihat banyak hiasan dan ukiran yang khas Batak. Salah satunya adalah ornamen Gorga.
Ornamen Gorga dilambangkan sebagai tanda penolak bala seperti bahaya, penyakit, dan lainnya. Ornamen tersebut biasanya dibubuhkan pada dinding rumah bagian luar dan memiliki tiga bentuk, ular, cicak, dan kerbau.
• Gorga yang berbentuk cicak diartikan bahwa orang batak dapat hidup di mana saja dan bisa beradaptasi. Meskipun sedang merantau jauh, diharapkan orang Batak dapat memelihara rasa persaudaraan.
• Gorga yang berbentuk ular, ada kaitannya dengan kepercayaan suku Batak yang percaya jika rumah di masuki ular maka penghuninya akan mendapatkan berkah.
• Gorga yang berbentuk kerbau adalah sebagai ucapan terima kasih kepada kerbau yang telah membantu manusia dalam kehidupan

Makna Bagian-Bagian Rumah
Pembangunan rumah adat ini dilakukan dengan gotong royong. Bahan yang digunakan adalah dengan kayu pilihan terbaik. Para tukang kayu saat memilih kayu adalah dengan mengetuknya, dipercaya kayu yang berbunyi nyaring itulah kayu yang baik.
Pondasi yang digunakan adalah berbentuk segi empat dengan dipadukan dinding dan tiang yang kuat. Maknanya adalah kerja sama atau gotong royong saat memikul beban yang berat. Bagian atas rumah adat ini ditopang dengan tiang yang sering disebut ninggor. Ninggor ini berbentuk lurus tan tinggi yang bermakna kejujuran.
Pada bagian depan terdapat arop-aropan yang memiliki makna sebagai harapan dapat hidup layak. kemudian yang berfungsi untuk menahan atap atau disebut songsong boltak mempunyai makna jika ada tuan rumah yang dirasa tidak baik maka hendaknya dipendam di hati saja.
Masyarakat biasanya membersihkan rumah dengan menyapu seluruh kotoran dan membuangnya ke lubang yang disebut telaga yang berada di dekat dapur masak. Hal ini dihubungkan mempunyai makna untuk membuang jauh-jauh segala keburukan dan kesalahan dari dalam rumah.
Di rumah adat batak tersebut terdapat semacam panggung kecil yang berfungsi sebagai tempat menyimpan padi yang mempunyai makna sebagai harapan untuk kelancaran. Panggung kecil ini berbentuk menyerupai balkon. Selain memiliki makna yang kental, Rumah Adat Batak juga memiliki 3 bagian rumah adat batak, yaitu:

Bagian-Bagian Rumah Adat Batak Toba
Menurut tingkatannya, rumah adat batak dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Semua bagian memiliki anggota sendiri-sendiri. Pada bagian bawah atau sering disebut Tombara terdiri dari batu pondasi, pasak yang menusuk riang serta tangga atau balatuk.
Pada bagian tengah atau sering disebut Tonga yang terdiri dari dinding depan, samping dan belakang. Sedangkan pada bagian atas atau biasa disebut Ginjang terdiri dari atap. Di bawah atap adalah urur dan di atas urur membentang lais.
Bagian bawah rumah adat ini memiliki fungsi sebagai tempat hewan ternak seperti kerbau, dll. bagian tengah adalah hunian manusia dan pada bagian atas sebagai penyimpanan benda-benda keramat. Berikut adalah bagian lengkap dari rumah adat batak
1. Bagian Atap
Bagian atap rumah ini mengambil ide dari punggung kerbau yang bentuknya melengkung. Dengan mengambil konsep ini, rumah adat batak terlihat aerodinamis dalam melawan angin kencang dari danau.
Atap rumah terbuat dari ijuk. Ijuk ini adalah bahan yang mudah untuk didapatkan di daerah tersebut, maka orang batak menggunakannya sebagai bahan atap. Suku Batak menganggap atap adalah sesuatu yang suci, maka dari itu mereka membuat atap digunakan untuk menyimpan benda-benda keramat atau pusaka mereka.
2. Badan Rumah
Sesuai dengan namanya, badan rumah berarti badan dan terletak di bagian tengah. Dalam mitologi batak menyebutnya dunia tengah. Dunia tengah ini memiliki makna sebagai tempat aktivitas manusia seperti bersenda gurau, tidur, masak, dll. Badan rumah ini dilengkapi suku adat dengan hiasan berupa ipon-ipon. Ipon-ipon ini dipercaya dapat menolak bala.
3. Pondasi Rumah
Pondasi yang digunakan rumah adat ini menggunakan pondasi tipe cincin. Artinya batu sebagai tumpuan dari kolom kayu yang ada di atasnya. Tiang yang berdiameter sekitar 42-50 cm berdiri diatas batu ojahan yang strukturnya fleksibel. Sehingga rumah adat batak dapat tahan terhadap gempa.
Tiang pada rumah adat batak yang berjumlah 18 memiliki filosofi kebersamaan dan kekokohan. Pondasi tipe umpak digunakan Suku Batak karena pada waktu tersebut masih banyaknya jumlah batu ojahan dan kayu gelonggong dalam skala besar. Pada waktu itu juga belum ditemukannya bahan perekat seperti semen.
4. Dinding Rumah
Suku batak membuat rumah adat ini penuh dengan perhitungan. Rumah adat batak dibuat dinding miring agar angin dari luar mudah masuk ke dalam. Tali yang digunakan untuk mengikat dinding disebut ret-ret yang terbuat dari bahan ijuk dan rotan. Tali pengikat tadi berbentuk pola seperti cicak yang memiliki 2 kepada dan saling bertolak belakang.
Suku Batak menggunakan pola ini bukan tanpa makna, tetapi pola yang berbentuk cicak memiliki makna dikiaskan sebagai penjaga rumah dan dua kepalang saling bertolak belakang ini memiliki makna semua penghuni rumah memiliki peran yang sama dan harus menghormati.
5. Pintu Masuk Rumah
Tidak ketinggalan bagian dari rumah adat batak ini adalah bagian pintu. Suku batak membuat pintu ini terlihat lebih menarik dengan dikelilingi ukiran, lukisan dan tulisan. Pintu utama rumah adat ini menjorok ke dalam dengan lebar 80 cm dan tinggi kurang lebih 1,5 m.
Rumah Adat batak juga memiliki keindahan yang khas, terletak pada atap rumah yang berbentuk lancip di bagian depan maupun belakang. Bagian depan rumah ini sengaja dibuat lebih panjang daripada bagian belakang bukan tanpa makna.
Mereka mempunyai kepercayaan bahwa dengan bentuk atap yang lancip serta memanjang memiliki arti turut mendoakan keturunan dari pemilik rumah agar memiliki masa depan yang lebih baik.

Arsitektur Batak
Mengacu kepada yang berhubungan dengan tradisi dan desain arsitektural dari berbagai suku Batak di Sumatra Utara, Indonesia. Terdapat enam kelompok suku Batak yang berbicara dalam bahasa tersendiri namun berhubungan: Angkola, Mandailing di sebelah selatan, Batak Toba, di sebelah utara Pakpak/Dairi, Simalungun, dan Karo. Sementara kelompok suku bangsa ini sekarang adalah umat Muslim atau Kristiani, unsur-unsur agama Batak kuno tetap ada, terutama di antara suku Karo.
Bale (“balai pertemuan”), rumah, dan sopo (“lumbung padi”) adalah tiga tipe bangunan utama yang umum dalam kelompok suku Batak yang berbeda. Rumah ini secara tradisional merupakan sebuah rumah besar tempat sekelompok keluarga hidup secara bersama-sama. Pada siang hari, bagian interiornya merupakan ruang aktivitas bersama, dan pada malam hari, kain atau tirai tenunan memberi privasi kepada masing-masing keluarga. Kebanyakan orang Batak sekarang tinggal di rumah-rumah modern, dan banyak rumah tradisional ditelantarkan atau dalam kondisi perbaikan yang buruk.
Arsitektur dan tata letak desa dari enam kelompok suku Batak juga menunjukkan perbedaan yang signifikan. Rumah Batak Toba, misalnya, berbentuk perahu dengan atap pelana berukir yang rumit dan tonjolan atap yang menjulang. Rumah-rumah Batak Karo berdiri dalam deretan. Keduanya dibangun di atas tumpukan dan berasal dari model Dong-Son kuno.

Rumah Adat Batak Toba Berdasarkan Ukurannya:

1. Rumah Bolon (Rumah Balai)

Rumah Bolon adalah menjadi salah satu jenis rumah adat Batak berdasarkan ukurannya dan menjadi yang terbesar diantara jenis rumah adat Batak Toba lainnya.
Dahulu, memiliki rumah Bolon ini adalah ajang pamer antar huta (kampung/desa). Hal ini terjadi karena pada umumnya, satu huta hanya memiliki satu rumah Bolon, sehingga setiap warga kampung berlomba-lomba untuk menunjukkan rumah siapa yang paling besar.
Rumah Bolon adalah simbol dari identitas masyarakat Batak yang tinggal di Sumatra Utara. Pada zaman dahulu kala, rumah Bolon adalah tempat tinggal dari 13 raja yang tinggal di Sumatra Utara. 13 Raja tersebut adalah Raja Ranjinman, Raja Nagaraja, Raja Batiran, Raja Bakkaraja, Raja Baringin, Raja Bonabatu, Raja Rajaulan, Raja Atian, Raja Hormabulan, Raja Raondop, Raja Rahalim, Raja Karel Tanjung, dan Raja Mogam.Ada beberapa jenis rumah Bolon dalam masyarakat Batak yaitu rumah Bolon Toba, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Mandailing, rumah Bolon Pakpak, rumah Bolon Angkola. Setiap rumah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Sayangnya, rumah Bolon saat ini jumlah tidak terlalu banyak sehingga beberapa jenis rumah Bolon bahkan sulit ditemukan. Saat ini, rumah bolon adalah salah satu objek wisata di Sumatra Utara. Rumah Bolon adalah salah satu budaya Indonesia yang harus dilestarikan.
FUNGSI BAGIAN RUANGAN RUMAH ADAT BOLON
Sama seperti rumah adat lainnya yang ada di Indonesia, Rumah Adat Batak ini juga memiliki pembagian ruangan tertentu untuk interiornya. Setiap bagian ruangan memiliki fungsinya masing-masing yang ditentukan oleh aturan adat Suku Batak itu sendiri. Di bawah ini adalah penjelasan dari pembagian ruangan yang ada di dalam Rumah Adat Bolon:
Ruang Jabu Bong – Ruangan ini berfungsi sebagai ruang khusus untuk kepala keluarga dan terletak di sudut kanan rumah.
Ruang Jabu Soding – Ruangan ini berfungsi sebagai ruang khusus untuk anak perempuan dan terletak di sudut kiri rumah yang berhadapan dengan Ruang Jabu Bong.
Ruang Jabu Suhat – Ruangan ini berfungsi sebagai ruang khusus untuk laki-laki yang sudah menikah dan terletak di depan sudut kiri rumah.
Ruang Tampar Piring – Ruangan ini berfungsi sebagai ruang untuk menyambut tamu dan terletak di sebelah Ruang Jabu Suhat.
Ruang Jabu Tonga Rona Ni Jabu Rona – Ruangan ini berfungsi sebagai tempat berkumpul keluarga dengan ukuran yang paling luas diantara ruangan lainnya.
Kolong – Ruangan ini adalah sebuah ruang kosong yang terletak di bawah rumah dan digunakan sebagai kandang hewan ternak atau menyimpan bahan makanan.
Salah satu keunikan yang dimiliki dalam sistem pembagian ruangan di dalam Rumah Adat Bolon adalah tidak adanya pembatas di antara setiap bagian ruangan. Oleh karena itu, aturan adat adalah acuan yang digunakan untuk menentukan batasan dan fungsi setiap ruangan yang harus ditaati oleh setiap penghuni rumah maupun tamu yang berkunjung.

NILAI FISOLOSOFI RUMAH BOLON
Nilai filosofi merupakan salah satu elemen yang selalu dimiliki oleh setiap rumah adat di Indonesia. Nilai-nilai tersebut ditentukan oleh adat budaya yang dianut dan diyakini oleh suku bangsa tertentu yang direpresentasikan dalam berbagai bentuk seperti gaya arsitektur dan dekorasi rumah. Di bawah ini adalah penjelasan dari nilai filosofi yang dimiliki oleh Rumah Adat Bolon:
BENTUK KERBAU BERDIRI
Konstruksi rumah panggung, bentuk rumah persegi panjang, dan desain atap yang tinggi pada Rumah Adat Batak ini membuatnya terlihat menyerupai seekor kerbau yang sedang berdiri. Seperti yang anda mungkin sudah ketahui, kerbau merupakan hewan ternak yang sangat dicintai oleh masyarakat suku batak. Oleh karena itu, rumah adatnya pun dibuat menyerupai hewan yang sangat mereka cintai.
UKIRAN BERGAMBAR HEWAN
Ukiran merupakan salah satu ornamen yang digunakan untuk mempercantik tampilan luar Rumah Adat Bolon. Penempatan ukiran ini biasanya terletak di atas pintu bagian depan. Masyarakat Suku Batak menyebut ukiran ini dengan sebutan Gorga. Bukan hanya sebagai penghias rumah, Gorga juga memiliki nilai filosofi tersendiri yang dibedakan berdasarkan objek yang dilukis, yaitu: Ukiran Bergambar Cicak – Makna dari lukisan cicak adalah sebagai lambang persaudaraan Suku Batak yang sangat kuat. Di manapun mereka berada, Suku Batak akan mampu bertahan dan terus menjalin persaudaraan tanpa terputus. Ukiran Bergambar Ular – Masyarakat Suku Batak pada zaman dahulu percaya bahwa ketika ular memasuki sebuah rumah itu merupak sebuah pertanda bahwa pemilik rumah akan mendapat berkah yang banyak. Oleh karena itu, ukiran dengan gambar ular menandakan berkah yang berlimpah. Ukiran Bergambar Kerbau – Bukan hanya bentuk rumah, namun Suku Batak juga melukis gambar kerbau pada ukiran rumahnya. Ukiran bergambar kerbau tersebut merupakan bentuk terima kasih kepada kerbau yang selalu bekerja keras dalam membantu manusia untuk bertani.
KEPALA KERBAU
Lagi-lagi hiasan dekorasi rumah yang diambil dari hewan kerbau yaitu tengkorak kepalanya. Tengkorak kepala kerbau biasa digunakan sebagai hiasan yang dipajang di depan rumah. Jumlah tengkorak kepala kerbau yang dipasang di depan rumah menandakan tingkat kemakmuran penghuni rumah. Semakin banyak jumlahnya, maka semakin makmur penghuni rumah yang tinggal di dalamnya.
WARNA ANYAMAN
Anyaman yang digunakan pada dekorasi atap Rumah Adat Batak ini diwarnai dengan beragam warna sesuai pilihan penghuni rumah. Warna tersebut menggambarkan kepribadian dari pemilik rumah. Warna-warna yang biasanya banyak digunakan adalah hitam, putih, dan merah.

 

Bentuk
Rumah Bolon memilik bentuk persegi empat. Rumah Bolon mempunyai model seperti rumah panggung. Rumah ini memiliki tinggi dari tanah sekitar 1,75 meter dari tanah. Tingginya rumah Bolon menyebabkan penghuni rumah atau tamu yang hendak masuk ke dalam rumah harus menggunakan tangga. Tangga rumah Bolon terletak di tengah-tengah badan rumah. Hal ini mengakibatkan jika tamu atau penghuni rumah harus menunduk untuk berjalan ke tangga. Bagian dalam rumah Bolon adalah sebuah ruang kosong yang besar dan terbuka tanpa kamar.Rumah berbentuk persegi empat ini ditopang oleh tiang-tiang penyangga. Tiang-tiang ini menopang tiap sudut rumah termasuk juga lantai dari rumah Bolon. Rumah Bolon memiliki atap yang melengkung pada bagian depan dan belakang. Rumah Bolon memilik atap yang berbentuk seperti pelana kuda.

Ciri Khas
Lantai rumah Bolon terbuat dari papan dan atap rumah bolon terbuat dari ijuk atau daun rumbia. Bagian dalam rumah Bolon adalah ruangan besar yang tidak terbagi-bagi atas kamar. Namun, tidak berarti bahwa tidak ada pembagian ruang di dalam rumah Bolon. Ruangan terbagi atas tiga bagian yaitu jabu bona atau ruangan belakang di sudut sebelah kanan, ruangan jabu soding yang berada di sudut sebelah kiri yang berhadapan dengan jabu bona, ruangan jabu suhat yang berada di sudut kiri depan, ruangan tampar piring yang berada di sebelah jabu suhat, dan ruangan Jabu Tongatonga ni Jabu Bona. Ruangan jabu bona dikhususkan bagi keluarga kepala rumah. Ruangan jabu soding dikhususkan bagi anak perempuan pemilik ruma, tempat para istri tamu yang datang dan tempat diadakannya upacara adat. Ruangan jabu suhat dikhususkan bagi anak lelaki tertua yang telah menikah. Ruangan tampar piring adalah ruangan bagi tamu. ruangan Jabu Tongatonga ni Jabu Bona dikhususkan bagi keluarga besar. Sebagian besar dari rumah Bolon terbuat dari kayu. Rumah Bolon tidak menggunakan paku. Rumah Bolon hanya menggunakan tali untuk menyatukan bahan-bahan rumah. Tali ini diikatkan kepada kayu dengan kuat agar rangka rumah tidak longgar ataupun rubuh suatu saat. Pada badan rumah Bolon terdapat berbagai ukiran maupun gambar yang memiliki makna sesuai dengan kehidupan masyarakat Batak.
Pembagian Ruangan Rumah Bolon
1. Jabu Parsaktian
Jabu Parsaktian adalah ruangan tempat untuk penyimpanan barang.
Ruangan ini juga dipakai sebagai tempat untuk membicarakan hal-hal terkait adat

2. Jabu Bolon
Jabu Bolon adalah ruangan yang digunakan untuk berkumpul dengan keluarga besar.

Filosofi Rumah Adat Bolon
Dalam pembangunan Rumah Bolon dilaksanakan secara gotong royong.
Para pande atau tukang akan memilih kayu dengan cara memukul kayu tersebut dengan alat,menurutnya kayu yang baik adalah kayu yang berbunyi nyaring saat dipukul.
Pondasi rumah dibuat berbentuk segi empat, dipadukan dengan dinding dan tiang yang kuat.Tiang ini memiliki bentuk yang tinggi dan lurus sebagai lambang kejujuran yang dijunjung tinggi oleh masyarakat adat Batak.

Makna dari pondasi tersebut adalah saling bekerja sama saat memikul beban yang berat.
Untuk menopang bagian atas atau atap rumah adat Batak Toba yang dikenal dengan nama bungkulan, diperlukan sebuah tiang yang bernama ninggor.
Pada bagian depan atap ini ada pula songsong boltok yang memiliki fungsi untuk menopang atap agar tetap berada pada tempatnya.
Filosofi yang terkandung pada songsong boltok ini adalah meskipun ada pelayanan dari tuang rumah yang kurang berkenan di hati tamu yang datang, sebaiknya hal tersebut dipendam sendiri saja.
Masih pada bagian atap, ada juga yang disebut dengan arop-arop yang diyankini sebagai pengharapan masyarakat setempat untuk dapat hidup dengan layak dan diberikan berkat oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Bahkan, untuk membersihkan rumah saja, masyarakat adat Batak memiliki aturan tersendiri.
Kotoran yang dibersihkan dari dalam rumah harus disapu dan dibuang melalui sebuah lubang yang berada di dekat alat untuk memasak, yang disebut dengan nama talaga.
Mereka meyakini dengan cara itulah keburukan dari dalam rumah dapat hilang dan dilupakan.
Di dalam rumah terdapat panggung kecil yang mirip dengan balkon, yang berfungsi untuk menyimpan padi.
Maknanya adalah sebagai pengharapan untuk kelancaran rezeki.

 

2. Jabu Parbale-balean

Rumah adat Jabu Parbale-balean ini adalah kebalikan dari rumah Bolon dari segi ukurannya.Rumah adat jenis ini adalah rumah yang paling banyak jumlahnya dan mudah dijumpai di perkampungan suku Batak Toba. Karena ukurannya yang lebih kecil, maka bisa dipastikan biaya dan waktu pembangunannya akan relatif lebih cepat.

 

Rumah Adat Batak Toba Berdasarkan Gorga:

1. Rumah Sarimunggu
Rumah adat yang memiliki banyak hiasan dan atribut-atribut yang melekat pada rumahnya disebut dengan rumah adat Gorga.
Salah satu rumah adat Batak Toba yang memiliki Gorga yang paling lengkap adalah rumah Sarimunggu.
Rumah ini dikenal karena memiliki gorga yang paling lengkap.
Masyarakat adat Batak mengenal rumah ini dengan sebutan Jabu Batara Guru.
Pembuatan rumah dengan Gorga yang lengkap ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, hanya seniman terpilihlah yang bisa membuatnya.

2. Jabu Ereng
Jika rumah Sarimunggu memiliki gorga yang sangat lengkap, maka Jabu Ereng adalah kebalikannya.
Jabu Ereng atau lebih dikenal dengan nama Jabu Batara Siang adalah rumah yang tidak dihias sama sekali.
Alasan mengapa Jabu Ereng tidak dihias sama sekali adalah karena pemiliknya ingin menempatinya secepat mungkin.
Sehingga, meletakkan hiasan pada rumah adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
Filosofi Gorga Rumah Adat Batak Toba
Tidak hanya untuk menambah keindahan rumah, ternyata ukiran-ukiran gorga yang berwarna merah, hitam dan putih ini juga memiliki nilai-nilai dan simbol-simbol tertentu.
Warna merah melambangkan kekuatan dan keberanian.
Putih melambangkan ketulusan hati dan kejujuran.
Sedangkan hitam kebijaksanaan.
Ukiran cicak yang dapat ditemui di sebagian besar rumah adat Batak Toba yang bernama boraspati adalah lambang kemakmuran.
Ada juga ukiran payudara perempuan yang biasa ada di depan rumah, yang berarti kesuburan.
Kemudian, ada pula hiasan topeng yang memiliki ekspresi seram yang dikenal dengan nama Jaga Dompak.
Peletakkan topeng tersebut dipercaya dapat menolak roh-roh jahat yang berniat masuk ke rumah.
Terakhir, ada ukiran ulubalang yang juga berbentuk topeng, sebagai simbol penjaga seluruh penghuni rumah dari serangan-serangan yang sifat metafisis.

Sumber : dari berbagai Sumber

 

Comments

No comments found!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Tentang Website Kami

Website PSSSIB.org ini didedikasikan untuk seluruh warga Batak dengan marga Simanjuntak yang merupakan keturunan Raja Marsundung Simanjuntak dan bersatu dalam Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina beserta seluruh Borunya.

Website ini adalah media komunikasi, edukasi dan interaksi seluruh anggota Parsadaan dengan tujuan meningkatkan rasa kasih & persaudaraan di semua keluarga besar Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna se Jakarta & Sekitarnya

Login
Remember me
Lost your Password?
Password Reset
Login