Tuesday, November 12, 2019

MAKAM ” SOBOSIHON boru SIHOTANG ”
isteri pengganti dari
” RAJA MARSUNDUNG ”

 

Simanjuntak Mardaup-Sitombuk-Hutabulu akan memestakan Makam dari nenek perempuan mereka yaitu Sobosihon boru Sihotang istri-pengganti (Panoroni) dari Raja Marsundung. Raja Marsundung, ialah ayah bersama dari yang bermarga Simanjuntak, baik Parsuratan maupun Mardaup-Sitombuk-Hutabulu. Sobosihon br. Sihotang itulah ibu yang melahirkan Mardaup-Sitombuk- Hutabulu. Sedang ibu yang melahirkan Parsuratan adalah boru Hasibuan.

Yang pertama dikawini Raja Marsundung ialah boru Hasibuan. Setelah boru Hasibuan meninggal, kawin pulalah Raja Marsundung dengan Sobosihon br. Sihotang. Oleh karena itu, Sobosihon br. Sihotang adalah isteri-pengganti dari boru Hasibuan. Dan boru Hasibuan adalah istri yang diganti. Jelaslah, isteri yang dua ini bukan yang dimadu (marimbang).

Agak lebih jelas diterangkan yang tersebut belakangan ini, oleh karena bagi suku Batak umumnya, kedudukan dua isteri yang dimadu (marimbang), hukumnya berbeda dengan dua isteri yang diganti dan isteri pengganti (Panoroni).

Simanjuntak Mardaup-Sitombuk-Hutabulu memestakan Makam nenek-perempuan mereka. Sedang Makam nenek-laki-laki mereka yaitu Raja Marsundung, suami dari Sobosihon br. Sihotang, belum lagi mereka bangun kembali.

Sampai sekarang ini hanya kuburan nenek perempuan mereka bersama kuburan dari tiga ayah yang mereka bangun kembali yaitu Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu beserta kuburan dari tiga ibu mereka yaitu boru Sihotang isteri ? Raja Mardaup, boru Aruan isteri Raja Sitombuk dan boru Sihotang isteri Raja Hutabulu. Jadi belum turut kuburan nenek laki-laki mereka yaitu Raja Marsundung. Karena belum mereka bangun kembali, maka buat kali ini belum turut Makam Raja Marsundung mereka pestakan.

Membangun Makam dari nenek perempuan dengan tidak serentak dengan Makam dari nenek laki-laki, sebagai suami dari nenek perempuan tadi, sebegitu jauh yang dapat kita ketahui, inilah pernah kejadian di Tanah Batak. Yang umum kejadian, adalah Makam nenek perempuan berdamping-dampingan dengan Makam nenek laki-laki, suami dari nenek perempuan tadi. Atau boleh dikatakan  bahwa Makam nenek perempuan yang seharusnya menyertai Makam suaminya yaitu nenek laki-laki. Tidak demikian halnya dengan Makam Sobosihon br. Sihotang ini. Oleh karena mana, tidak heran, bila dari kalangan umum timbul pertanyaan-pertanyaan, lebih-lebih dari yang belum memahami sejarah dari Sobosihon br. Sihotang.

Sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan diatas inilah maka perlu diberikan penjelasan, apa gerangan sebab diberdirikan Makam dari Sobosihon boru Sihotang dengan tiada bersama-sama dengan Makam bagi Raja Marsundung. ?

Sebelum diberikan jawab atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tadi diatas ini, dianggap sangat perlu, menurut hemat kami, terlebih menekankan disini kata-kata ini: Kalaupun pada ketika ini Makam dari boru Sihotang belum didampingi oleh Makam dari Raja Marsundung, kiranya janganlah sampai ada yang menafeirkan hal tersebut, Mardaup-Sitombuk-Hutabulu seolah-olah tidak menghormati nenek laki-laki mereka sebagaimana mereka telah menghormati nenek-perempuan mereka.

Atau pun yang mengatakan, bahwa lebih tinggi martabat nenek perempuan daripada martabat nenek laki-laki bagi  pandangan Mardaup-Sitombuk-Hutabulu.

Jangan sampai ada yang menafsirkan demikian, karena bukan demikian duduk persoalan yang sebenamya.

Kalau begitu, apakah yang menjadi sebab maka tidak diberdirikan Makam Raja Marsundung serentak dengan Makam Sobosihon br. Sihotang ? Kita akan memahaminya nanti bila teiah memperhatikan setiap penjelasan yang menyusul dibawah ini.

Tetapi sebelum diberikan penjejasan dimaksud diatas ini, perlu pula terlebih dulu ditekankan disini, bahwa bagaimana suku Batak dan bangsa Indonesia umumnya menghormati nenek mereka, demikian pulalah Mardaup-Sitombuk-Hutabulu menghormati Raja Marsundung. Dan suku Batak umumnya menghormati orang tuanya berserta neneknya sebagai “Wakil Tuhan yang dilihat mata sendiri!. Demikian pulalah Mardaup-Sitombuk-Hutabulu menganggap Raja Marsundung sebagai wakil Tuhan yang dapat dilihat dengan mata.    .

Dan kebetulan pula berdasarkan rasa hormat Mardaup-Sitombuk-Hutabulu kepada roh dari Raja Marsundung, maka mereka belum membangun satu Makam baginya pada keadaan yang seperti sekarang ini masih suasananya. Tentang ini juga nanti akan dapat kita masing-masing rasakan bila sudah membaca penjelasan yang akan kami berikan berikut dibawah ini.

Mengenai silsilah dari marga Simanjuntak secara sambil lalu ada juga disinggung dalam buku ’’Sejarah Perkembangan Marga-Marga Batak” karangan Amani- hut N. Siahaan/H. Pardede (Cetakan Keempat) halaman 40.

Ditulis dalam buku itu, bahwa Simanjuntak terbagi dua yaitu “Parhorbojolo dan “Parhobopudi”. Disebut dalam buku itu, terbagi duanya Simanjuntak adalah akibat dari pada perselisihan antara abang-adik dari hal mempergunakan tenaga seekor kerbau kepunyaan bersama.

Tetapi bagaimana sejarahnya maka sampai terbagi dua Simanjuntak jadi “Parhobojolo” dan “Parhorbopudi” tidak dibahas lebih luas dalam buku “Sejarah Perkembangan Marga-Marga Batak” tersebut. Hanya disinggung saja. Sedang disini nanti bakal diberikan penjelasan tentang sebab-musabab dan perselisihan tersebut, supaya lebih dipahami oleh setiap kita.

Kiranya masih perlu kembali kami menekankan disitu, bahwa kalaupuu disini kami hendak menguraikan agak lebih luas tentang perselisihan mengenai kerbau tersebut, sekali-kali tidak ada maksud disitu, selain dari pada supaya kita masing-masing mendapatkan pengertian yang sebenamya. Tidak lebih dari itu maksud.

Artinya, bukan ibarat manggarut kurap supaya bertambah menyeri sakit gatalnya. Bukan itu maksud. Lagi diulang menekankan disini, bahwa bukan pula hendak membangkit-bangkit kesedihan hati ataupun mengungkap-ungkap penderitaan, maksud kalaupun disini dibangkit soal perselisihan tersebut, mengandung tiga maksud utama, yaitu :

Pertama : Perselisihan yang peristiwanya terjadi pada masa tiga ratus tahun yang sudah lampau, pada saat sekarang ini hendaknya jangan lagi sampai dapat menimbulkan rasa sakit hati siapapun juga dia;

Kedua  : Kalau perselisihan tersebut pada saat sekarang ini masih belum juga dapat dilupakan dari ingatan, tetapi perselisihan yang terjadi pada masa tiga abad yang sudah lampau itu, pada waktu sekarang ini setidak-tidaknya jangan ia merembet ibarat api membakar lalang;

Ketiga  : Sedapat-dapatnya, perselisihan itu tetaplah berada dalam lingkungan garis batas yang ditetapkan datuk-datuk yang dulu-dulu itu, yaitu garis batas yang menentukan : biarpun satu sama lain berpapasan, jangan sempat bersitegoran, terlebih-lebih lagi, jangan sampai menimbulkan cedera.

Benar juga, bahwa Simanjuntak Parsuratan disebut ’’Parhorbojolo” disamping Simanjuntak Mardaup~Sitombuk-Hutabulu disebut ’’Parhorbopudi”. Juga benar, bahwa maka pun dinamai ’’Parhorbojolo” disamping ’’Parhorbopudi” adalah karena suatu perselisihan mengenai seekor kerbau yang jadi kepunyaan bersama dari Simanjuntak yang dua golongan tadi. Berselisih Parsuratan dengan ibu-tirinya dari hal mempergunakan tenaga kerbau itu untuk meluku sawah.

Kerbau yang diperselisihkan itu sebenamya adalah kepunyaan Raja Marsundung sendiri. Kembali diterangkan di sini, bahwa Parsuratan adalah anak dari Marsundung tetapi yang dilahirkan oleh Ibu boru Hasibuan, sedang Sobosihon br. Sihotang harus dianggap sebagai pengganti Ibu kandung sendiri oleh Parsuratan, sebaliknya begitu juga Mardaup-Sitombuk-Hutabulu harus menganggap boru Hasibuan sebagai boru Sihotang sendiri.

Parsuratan berselisih dengan ibu tirinya tentang memakai tenaga seekor kerbau meluku sawahnya, sedang kerbau itu adalah kepunyaan Raja Marsundung sendiri. Kalau Raja Marsundung sendiri yang empunya kerbau itu apa pula sebabnya sampai menimbulkan perselisihan kerbau itu diantara sesama anak dari Raja Marsundung sendiri.

Terpaksa timbul perselisihan, karena Parsuratan melarang ibu tirinya memperkerjakan kerbau itu, walaupun Parsuratan membenarkan juga, bahwa kerbau tersebut adalah jadi kepunyaan bersama di antara mereka sesama anak dari RajaMarsundung. Agar supaya lebih jelas nanti masing-masing dapat memahami duduk persoalan yang sebenamya, perlu benar rasanya terlebih data ada penjelasan disini, bahwa boru Hasibuan – boru Sihotang bukanlah dua isteri dimadu (marimbang), tetapi adalah dua isteri vang satu menggantikan yang lain.

Sekiranya yang dimadu dua Ibu tersebut, harta mereka masing-masing mestilah terpisah. Dan harta dari boru Hasibuan terserahlah semuanya kepada anak yang dilahirkannya, demikian pulalah harta dari boru Sihotang.

Tetapi tidak demikian halnya tentang harta dari dua Ibu yang diganti dan penggantinya. Harta dari Raja Marsundung yang diperdapat pada waktu hidupnya boru Hasibuan seluruhnya terserah pada boru Sihotang. Harta yang diperdapat sewaktu hidupnya boru Hasibuan bersama harta yang diperdapat setelah boru Sihotang jadi kepunyaan dari semua anak dari Raja Marsundung baik yang dilahirkan boru Hasibuan maupun yang dilahirkan oleh boru Sihotang.

Dan berdasarkan itulah aturannya bahwa semua anak dari  Raja Marsundung  seharusnya menganggap kedua  isteri dari Raja Marsundung itu sebagai ibu kandung mereka masing-masing. Aitinya : Baik Parsuratan anak yang dilahirkan boru Hasibuan sendiri, mesti menganggap boru Sihotang sebagai boru Hasibuan sendiri. Demikian pulalah  Mardaup-Sitombuk-Hutabulu mesti menganggap boru Hasibuan sebagai boru Sihotang sendiri.            ,

Demikianlah hukum dan adat bagi suku Batak mengenai ibu yang diganti dengan Ibu Pengganti. Tidak sama halnya dengan dua Ibu yang bermadu. Mengenai persesoalan sebagai yang dituturkan di atas ini, tidak ada sebenarnya perselisihan. Karena dibenarkan oleh Parsuratan juga, bahwa boru Sihotang bukan madu dari boru Hasibuan, tetapi adalah penggantinya (Panoroni).

Tetapi oleh karena boru Hasibuan adalah yang diganti dan penggantinya ialah boru  Sihotang yang jadi alasan bagi Parsuratan untuk melarang mempergunakan kerbau itu mengolah sawah. Nanti di bawah ini akan menyusul mengenai penjelasan tentang cara Parsuratan melarang Ibu Penggantinya itu mempergunakan kerbau itu mengolah sawah.

Tentu saja tidak dapat diterima boru Sihotang alasan yang dikemukakan oleh anak tirinya itu. Pada waktu itu tentu saja tidak akan tercegah oleh boru Sihotang dengan kekuatannya sendiri larangan dari Parsuratan itu. Oleh karena tidak tercegahnya dengan kekuatan sendiri, terpaksa dia menyampaikan perselisihan itu untuk diselesaikan oleh pihak keluarga, pertama-tama tentu saja ke pihak keluarga terdekat yaitu Somba Debata dan Tuan Marruji. Adapun Somba Debata ialah abang kandung dari Raja Marsundung dan Tuan Marruji ialah adik kandungnya. Hanya tiga orang itulah anak dari Tuan Somanimbil yaitu :

  1. Somba Debata yang dewasa ini bermargakan Siahaan,
  2. Raja Marsundung yang dewasa ini bermargakan Sunanjuntak dan
  3. Tuan Marruji yang dewasa ini bermargakan Hutagaol

Pihak Somba Debata/Tuan Marruji memeriksailah akan perselisihan yang terjadi antara boru Sihotang dengan anak tirinya. Mereka bertanyalah pada Parsuratan, apa alasan baginya melarang lbu tirinya mempergunakan tenaga kerbau kepunyaan Raja Marsundung untuk mengerjai sawah kepunyaan Raja Marsundung sendiri.

Parsuratan mengakui, bahwa kerbau itu adalah jadi kepunyaan bersama diantara sesama anak Raja Marsundung semuanya. Tetapi begitupun, kata Parsuratan seterusnya, mengenai membagi-bagi hak atas kerbau yang satu itu diantara anak-anak dari Raja Marsundung mempunyai aturan tertentu. yaitu seharasnya seperti demikian ini.:

  1. Dari kaki depan sampai kepada kepala kerbau itu, adalah bagian dari anak yang dilahirkan oleh isteri yang terdahulu dikawini;
  2. Dari kaki belakang sampai kepada ekor kerbau itu, adalah bagian dari anak yang dilahirkan oleh isteri terkemudian dikawini.

Dan berhubungan dengan itu, Parsuratan mengemukakan pulalah : Bila ibu tirinya dapat mempergunakan bagian belakang dari kerbau itu untuk mengerjakan sawahnya, saya tidak akan melarangnya. Tetapi bila diatas leher kerbau itu mereka meletakkan atau mengikatkan alat melukunya, saya tidak izinkan, karena saya sendirilah orang yang empunya leher kerbau itu. Demikian keterangan Parsuratan kepada Somba Debata/Tuan Marruji.

Tidak demikian hukum  tentang kerbau yang jadi kepunyaan bersama, menurut adat Batak”, tegor Somba Debata/Tuan Marruji kepada Parsuratan. Mereka lalu menjelaskanlah aturan yang berlaku tentang satu kerbau yang jadi kepunyaan bersama diantara beberapa orang. Menurut adat, mereka yang sama-sama mempunyai kerbau itu akan sama-sama memetik hasil yang akan diperoleh dan kerbau itu maupun hasil yang akan diperoleh dan bagian belakang. Mereka yang sama-sama mempunyai kerbau itu sama-sama dapat mempergunakan tenaga kerbau itu meluku sawah masing-masing dengan bergiliran.Demikian pula nanti tentang anak dari kerbau yang akan dilahirkan melalui bagian belakang kerbau itu, juga jadi kepunyaan bersama diantara mereka. Demikian pulalah dengan kotoran kerbau yang dapat dipergunakan jadi pupuk, kepunyaan bersama juga. Selanjutnya, bila kerbau itu mati, kematian tersebut adalah jadi tanggungan mereka bersama. Demikianlah keputusan dari Somba Debata/Tuan Marruji.

Oleh karena telah demikian bunyi keputusan yang ditetapkan Somba Debata/Tuan Marruji, boru Sihotang pun cobalah mempergunakan kerbau itu meluku sawahnya, tetepi kali ini pun tetap juga menemui larangan dari Parsuratan, Dan makin gemas pula ia melarangnya,

Disebabkan perselisihan belum bisa selesai walaupun telah dicampuri Somba Debata/Tuan Marruji, akhimya Sobosihon br. Sihotang menyampaikan lagi perselisihan itu untuk dicampuri oleh kumpulan yang lebih tinggi, yaitu kepada kumpulan dari Raja Si Bagot ni Pohan.

Tetapi kumpulan dari Raja Si Bagot ni Pohan pun membenarkan juga hukum  adat yang dipertahankan oleh Somba Debata/Tuan Marruji.

Sepanjang berita yang disalurkan oleh orang tua-tua turun temurun, setelah perselisihan dicampuri juga oleh turunan Raja Si Bagot ni Pohan, pada suatu hari lagi, dicoba Sobosihon br. Sihotang pulalah mempergunakan kerbau itu meluku. Pada waktu itu dia dibantu oleh puterinya yang sulung. Mereka tetap juga dicegah Parsuratan. Dan cara mencegahnya pun sudah lebih bersungguh-sungguh. Dan sebaliknya juga, pihak br. Sihotang dibantu oleh puterinya yang sulung, juga semakin lebih bertekad untuk melawan larangan Parsuratan itu.

Terjadilah pada ketika itu cedera, sama-sama mengadu kekuatan untuk mempertahankan pendirian masing-masing pihak. Terjadilah pada waktu itu suatu mara bahaya besar. Mara bahaya yang tidak mungkin dapat dilupakan oleh semua turunan Sobosihon br. Sihotang, disebabkan sakit dan pilunya.

Puteri Sobosihon br. Sihotang yaitu anak sulung, yang membantu dia untuk memperkerjakan kerbau itu dan dalam melawan kekuatan dari Parsuratan siapa, menurut kabar, dibantu oleh putera-puteranya, mendapat celaka, Dan kecelakaan tersebut membuat puteri sulung Sobosihon br. Sihotang akhimya meninggal.

Demikianlah duduk cerita nenek-nenek terdahulu, mulai dari Mardaup-Sitombuk-Hutabulu yang dipesankan kepada turunan masing-masing. Dan ceritera ini berjalan terus turun-menurun sampai kepada generasi yang sekarang ini.

Sesudahnya puteri dari Sobosihon br. Sihotang meninggal, beberapa tahun kemudian, putera-putera dan Sobosihon br. Sihotang yang tiga itu yaitu Mardaup— Sitombuk-Hutabulu pun semakin besarlah dan telah sama-sama cukup dewasa. Tetapi mengenai peristiwa tentang kematian dari saudari mereka bertiga yang disebabkan perbuatan Parsuratan, tentu saja mereka tidak akan dapat melupakannya.

Pada suatu malam bersepakatlah mereka bertiga hendak membunuh Parsuratan. Hanya saja temyata. Tuhan tidak membiarkan Mardaup-Sitombuk-Hutabulu supaya lebih berdosa lagi dari Parsuratan sendiri. Begitulah, pada saat hendak membunuh Parsuratan itu mereka bertiga, salah seorang dari antara mereka merasakan seolah-olah diketok Tuhan hati nuraninya. Disebabkan ketokan Tuhan itu, membuat mereka sama mereka bertiga, sebelum sampai pada membunuh Parsuratan, mesti bertukaran pikiran dulu mengenai jadi atau tidak mereka membunuh Parsuratan pada malam itu. Mereka sama mereka lalu bersoal-jawab dan sama-sama berpendapat: Bagaimanapun juga dosa yang telah dilakukan Parsuratan, tidak akan terpupus kita dari adat dan hukum persaudaraan kita dengan dia, karena sama-sama anak kandung Raja Marsundung kita berempat. Benar, lantaran Parsuratan yang menyebabkan matinya saudari kita, hal mana tidak mungkin, dapat kita lupakan karena pedih dan sedihnya. Karena bila saudari kita saudarinya jugalah aturannya menurut adat dan hukum. Akan tetapi bila lantaran itu pula kita membunuh Parsuratan, pasti akan lebih besar pulalah dosa kita dari pada dosa Parsuratan sendiri, karena kita membunuh abang kita yaitu anak kandung dari ayah kandung kita sendiri.

Demikianlah pokok soal-jawab diantara mereka bertiga pada saat mereka bermaksud hendak membunuh abang mereka itu.

Lantaran mereka bekesempatan lebih luas bertukaran pikiran, akhimya, mereka urungkan jugalah niat mereka hendak membunuh abang mereka Parsuratan itu. Terhindarlah Parsuratan dari pada marabahaya besar.

Dalam hal ini semuanya, tidak boleh tidak kita harus mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Karena, pada sebelum kasep, Tuhan berkenan jua mengetok hati nurati salah seorang dari Mardaup-Sitombuk-Hutabulu.

***

Tetapi kemudian, setelah tidak lagi jadi mereka membunuh abang mereka itu. Mardaup-Sitombuk-Hutabulu masih bermusyawarah terus untuk mencari suatu cara yang sesuai dengan adat dan hukum yang dapat mereka lakukan menuntut bela atas kematian saudari mereka itu.

Mereka meminta nasehat dan turunan Somba Debata dan turunan Tuan Marruji. Menurut Somba Debata dan Tuan Marruji sudah selayaknya mereka menyampaikan perbuatan Parsuratan itu melalui upacara “tonggo-tonggo” kehadiran Tuhan Seru Sekalian Alam. Pun turunan Raja Si Bogat ni Pohan lainnya sependapat pula dengan nasehat dari Somba Debata dan Tuan Marruji itu.

Dengan restu dari Raja Teman Seketurunan, Raja dari Hula dan Raja dari Boru, dengan didampingi oleh Somba Debata dan Tuan Marruji serta Raja Si Bagot ni Pohan, maka pada suatu hari yang dipilih dan ditetapkan Datu, Mardaup-Sitombuk-Hutabulu telah ”manonggohon” (menghadapkan) kepada roh dari semua nenek dan kehadapan Tuhan Seru Sekalian Alam peristiwa kematian dari saudari mereka itu dan berhubungan dengan itu juga perbuatan Parsuratan.

Dan pada saat “tonggo-tonggo” ltu pula, diikrarkan suatu pengumuman kepada seluruh Raja dan Teman Seketurunan, Raja dari Hula dan Raja dari Boru, yang bunyinya sebagai tertera dibawah ini maksudnya, yaitu : ” Mulai dari pada saat dari ”tonggo-tonggo” ini, kami Mardaup-Sitombuk-Hutabulu beserta turunan kami – putera puteri — tidak ada lagi berhubungan dalam adat parsabutuhaon (adat orang yang satu asal keturunan) dengan pihak Parsuratan sampai pada keturunannya, putera dan puteri. Jadi biarpun kami dari satu Ayah dengan Parsuratan, tetap tidak lagi satu pangan kami dengan mereka! ”

Demikianlah bunyi ikrar dari Mardaup-Sitombuk-Hutabulu yang diumumkan pada ketika mereka upacara ’’tonggo-tonggo” tersebut diatas ini

Raja dari Teman Seketurunan, Raja dari Hula bersama Raja dari Boru sama-sama memberkati dengan doa, Mardaup-Sitombuk-Hutabulu berhubung dengan ”tonggo-tonggo” dan ikrar mereka tersebut.

Dan mulai dari pada peristiwa ’’tonggo-tonggo” itu sampai pada saat sekarang ini, sudah tidak ada lagi hubungan adat abang-adik antara turunan Sobosihon br. Sihotang dengan Parsuratan.

***

Bila ditaksir, adapun masa dilangsungkan ’’tonggo-tongo” tersebut sampai pada saat sekarang ini, jaraknya sudah ada antara 14 sampai 16 keturunan. Bila dihitung itu dengan tahun, ditaksir sudah ada 300 sampai 360 tahun sampai pads saat sekarang ini.

Biarpun sudah ada tiga Abad lebih peristiwa “tonggo-tonggo” itu, tetapi pengaruhnya masih terasa sampai pada saat sekarang ini di kalangan turunan Raja Marsundung khususnya. Dan apa bila pula kiranya hal itu terpupus dari ingatan turunan Mardaup-Sitombuk-Hutabulu, belum dapat diramalkan sekarang ini. Bila ditanjak pikiran sendiri, tentu akan berkata, alangkah baiknya bila dapat peristiwa itu dikikis dari kalbu turunan Mardaup-Sitombuk-Hutabulu !

Bertalian dengan pengaruh “tonggo-tonggo” tersebut diatas ini, ada yang dapat diberitahukan disini. Telah ada beberapa orang yang secara iseng atau secara berkelakar umpamanya, buat coba-coba mengabaikan pengaruh “tonggo-tonggo” tersebut diatas ini. Menurut kabar, sudah ada dari turunan Mardaup-Sitombuk-Hutabulu yang mencoba mengadakan hubungan adat “parsabutuhaon” dengan pihak Parsuratan. Tetapi, kabamya belum pemah ada yang serasi artinya yang tidak mengalami percobaan. Yang telah ketahuan ialah, bahwa yang mencoba mempermain-mainkan pengaruh “tonggo-tonggo” itu selalu mendapat halangan yang disusul terus dengan berbagai marabahaya menimpa teman yang coba mempermain-mainkan pengaruh “tonggo-tonggo” tersebut.

Dan bagian yang paling tidak dapat melupakan peristiwa tersebut golongan “Boru” dari Mardaup-Sitombuk-Hutabulu. Mungkin, oleh karena yang sampai korban akibat mempertahankan hak ibunya “Sobosihon br. Sihotang” adalah dari “Boru” yaitu puteri sulung dari Sobosihon br. Sihotang.

Pembaca yang terhormat!

Dari uraian diatas semuanya, ada bagian yang membuat kita harus bersedih hati, tetapi disamping itu ada pula yang membuat kita berbesar hati.

Benar, bahwa kita Mardaup-Sitombuk-Hutabulu, yaitu yang kita namakan “Si Tolu Sada Ina” (Bertiga Satu Ibu), dilarang oleh “tonggo-tonggo” nenek kita melakukan hubungan adat ’’parsabutuhaon” dengan turunan Parsuratan, walaupun kita dengan mereka sama-sama berasal dari satu Ayah.

Patut kita bersedih hati, bila satu Ayah tetapi tidak bisa satu panganan. Akan tetapi dibalik dari kesedihan tersebut, ada pula bagian yang membuat kita harus berbesar hati, yaitu, petuah yang mengatakan, bahwa kita ”Si Tolu Sada Ina” sekali-kali tidak boleh berdendam hati apalagi membalaskan dendam terhadap turunan Parsuratan.

Semakin bertambah-tambah pula rasa gembira kita, oleh karena petuah tersebut temyata berjalan dan hidup terus diantara kita semua turunan ”Si Tolu Sada Ina”, sebab belum pemah ada ketahuan turunan “Si Tolu Sada Ina” yang menaroh berdendam terhadap semua turunan Parsuratan.

Oleh karena, dari mana ada alasan bagi kita turunan ’’Si Tolu Sada Ina” berdendam kesumat terhadap turunan Parsuratan, oleh karena sudah tidak ada lagi perhubungan kita dengan mereka dalam urusan adat ’’Parsabutuhaon”. Dan menjaga, supaya jangan sampai ada lagi dendam-dendaman antara kita dengan mereka, maka nenek kita melarang kita berhubungan adat dengan Parsuratan, Kalau sudah tidak ada lagi hubungan pergaulan, dari mana ada lagi sebab ada rasa sakit hati ataupun dendam kesumat.

Dari sudut ini dapat kita kesimpulan bagaimana tinggi dan halus perasaan bagi nenek-nenek kita dahulunya. Nenek kita itu pun merasa sangat sedih bila orang yang satu Ayah tidak bisa satu panganan. Tetapi dibalik itu, kita dinasehati, bahwa bagi orang yang bersatu-panganan pasti ada timbul rasa sakit hati. Jadi, bagi mereka yang tidak dapat menderita rasa sakit hati; lebih baik saja jangan lagi satu panganan, sekalipun mereka berasal dari satu Ayah. Sampai disinilah dulu tentang bagian yang menyedihkan dan yang menggembirakan hati dalam perselisihan yang kita bicarakan dari sejak mulai tadi.

Beralihlah kita sekarang kepada soal yang berhubungan lagi dengan masalah ini. Tadi sudah diuraikan dengan panjang lebar tentang perselisihan yang pada masa lampau terjadi antara Sobosihon br. Sihotang dengan Parsuratan, sekarang tibalah saatnya untuk menjelaskan apa sebab-musababnya maka Mardaup-Sitombuk-Hutabulu membangun Makam hanya bagi Sobosihon br. Sihotang dengan tidak membangun serentak Makam bagi Raja Marsundung, yaitu nenek laki-laki dari ”Si Tolu Sada Ina” dan suami dari Sobosihon br. Sihotang.

Apa sebenamya sebab dari pada itu ?

Sebagaimana kita masing-masing sama maklum juga, bahwa hukum adat masih hidup sekarang ini pun dikalangan suku Batak yaitu antaranya hukum yang menentukan, sesuatu yang jadi kepunyaan bersama, tidak boleh dijadikan jadi kepunyaan sendin; kepunyaan sendiri tidak boleh dibuat jadi kepunyaan bersama. Berdasar pada bunyi hukum adat itu, bila hendak membangun Makam bagi Raja Marsundung, tidak boleh tidak harus bermusyawarah dan semufakat pihak ”Si Tolu Sada Ina” dengan abang mereka yaitu pihak Parsuratan, karena mereka itu semuanya sama-sama anak kandung juga dari Raja Marsundung.

Sedang mengingat “tonggo-tonggo” dari nenek dahulu, tidak bolehkan lagi ”Si Tolu Sada Ina” bersatu-usaha dalam adat “Parsabutuhaon” dengan pihak Parsuratan. Dan usaha adat “parsabutuhaon” termasuk tentu masalah membangun suatu Makam. Dan bila tidak dapat melakukan suatu usaha bersama dalam urusan adat ’’parsabutuhaon”, bagaimana dapat sama-sama membangun satu Makam bagi nenek bersama.

Inilah soal yang belum dapat diatasi dan diselesaikan pada waktu sekarang ini.

Tetapi rasa keadilan yang menguasai pikiran umum berpendapat, mungkin tidak akan lebih memuaskan bagi ruh dari Raja Marsundung sendiri, bila Makam-nya tidak berdampingan dengan Makam dari isterinya yang dua itu, yaitu boru Hasibuan bersama boru Sihotang. Supaya Makam Raja Marsundung berdamping-dampingan dengan Makam dari isterinya yang dua itu, bagaimana pun juga, kiranya masih belum terwujudkan pada waktu itu.

Mudah-mudahan dikemudian hari timbul pikiran baru yang dapat menyelesaikan persoalan ini nanti !

Ada pula yang memajukan pertanyaan. Bagaimana bila pihak ’Parhorbojolo” sendiri membangun nanti Makam Raja Marsundung berdamping-dampingan dengan Makam boru Hasibuan. Bagaimana pula reaksi dari “Parhorbopudi” kalau sampai terjadi hal seperti itu.

Jawab bagi pertanyaan tersebut demikian. Bila pihak “Parhorbojolo” melaksanakan usaha yang demikian, perbuatan mereka yang demikian termasuk pulalah perbuatan yang mendahulukan anggar kekuatan untuk membelakangkan hukum. Bila mereka sampai melakukan pula hal yang demikian, mereka sendirilah nanti yang memikul segala tanggung-jawab, karena dalam perbuatan seperti itu pihak ”Si Tolu Sada Ina” pasti melakukan sesuatu.

Dengan mempertimbangkan segala apa yang telah diuraikan diatas inilah maka pihak ”Si Tolu Sada Ina” bulat mufakat bersama dengan golongan Boru Na Mora Jobi Sirait dari Lumban Holbung Marom-Sigaol, untuk sekarang ini hanya Makam dari nenek perempuan mereka Sobosihon br. Sihotang bersama-sama dengan Makam dari tiga putera dari nenek tersebut serta Makam tiga menantunya yaitu boru Sihotang isteri Raja Mardaup, boru Aruan isteri Raja Sitombuk dan boru Sihotang isteri dari Raja Hutabulu.

Seterusnya rapat memutuskan, supaya sebelum mereka memestakan pada hari Kamis tanggal 19 September 1963 Makam dari Sobosihon br. Sihotang, terlebih dulu mereka ziarah pada pagi hari Kamis tanggal 19 September 1963 itu pada Makam Raja Marsundung.

Maksudnya, sebelum dipestakan Makam dari nenek perempuan itu, terlebih dulu mereka berkumpul pada Makam Raja Marsundung nenek mereka yang laki-laki. Di sana mereka dengan penuh rasa khidmat akan mengucapkan doa, supaya ruh Raja Marsundung memberi restunya hingga Tuhan Seru Sekalian Alam memberkati turunan ”Si Tolu Sada Ina”.

Penutup.

Pada permulaan tulisan ini tadi, kami dengan kerendahan hati mengatakan? kalaupun sekarang direntang agak panjang tentang sudah tidak ada lagi hubungan dalam adat “parsabutuhaon” dengan Parsuratan, maksud kami dengan itu, bukanlah hendak membangkit ataupun menggalak-galakkan. Jauhlah, jauhlah itu. Kalau hal itu diurai kembali disini sekah-kali bukan hendak mengungkap-ungkap kesedihan, membangkit-bangkit penderita maksud. Bukan demikian ! Maksud disini sebagaimana sudah kami tandaskan juga tadi di muka tulisan ini, adalah :

Pertama      : supaya jangan ada lagi karena tidak mengetahui jadi tertanyak-tanyak;

Kedua           : supaya jangan ada lagi yang gemas rasa hatinya karena mengenang perselisihan yang terjadi pada masa dahulu, oleh karena tonggo-tonggo” Mardaup-Sitombuk-Hutabulu sendiri melarang turunan mereka berdendam atau membalas dendamnya terhadap Parsuratan;

Ketiga         :  supaya perselisihan yang terjadi pada dahulu kala itu tinggal tetap dalam garis yang telah ditentukan nenek yang terdahulu itu, supaya jangan sampai merembet lagi ke bidang yang lebih luas. Artinya, supaya perselisihan itu tetap tinggal dalam garis isolasinya yang sudah ditentukan kian. Seboleh-bolehnya jangan bisa keluar lagi dari garis isolasinya kian.

Dengan keterangan diatas ini, kiranya dapatlah kami mengatakan disini, bahwa kami tidak sampai melampaui batas janji yang kami telah kemukakan pada permulaan tulisan ini.

Biaipun demikian, bila ada yang kurang atau lebih perkataan kami dalam uraian ini, kiranya janganlah itu sampai menimbulkan rasa sakit hati dikalangan siapapun juga. Damai yang dari Tuhan berpegangan kita semua Amin !

 

Dicopy paste dari Tulisan di Buku PSSSI&B Jakarta Raya th. 1991

 

 

Wawancara dengan Guru G M Simanjuntak

Di taon 1947, martugas di Balige nasida songon Komandan Dewan Ketenteraan Tapanuli Di hatihai, marhite usaha ni Bupati Babiat Situmorang naeng “padomuhon” Parsuratan dohot Mardaup-Sitombuk-Hutabulu. Masa ma pertemuan i di kantor ni Bupati bulan April 1947. Amanta Guru G M Simanjuntak ma songon Raja Parhata (Parpollung) sian Mardaup-Sitombuk-Hutabulu, diangkupi angka amanta Sia Marinus Simanjuntak, Mayor Robinson Simanjuntak (Hutabulu), Batara Sangti Simanjuntak (Sitombuk) , dohot Gr. Konradt Simanjuntak , jala sian borunta ima : Bupati Napitupulu (Mardaup), dohot Ajun Kom, T. Silalahi (Sitombuk). Topetna tanggal 24 April 1947 (hari Jum’at). Pola do marribu halak ro menyaksihon pertemuan i, ditamba muse dohot angka naro/lao sian/tu Tarutung-Medan. Sude do ro perwakilan ni Sitolu Sada Ina manang sian luat dia pe mandohoti na masa i.

Pendek kata, gagal boti ma usaha ni amanta Bupati di hatiha i. Monang do angka parpollung ni Sitolu Sada Ina i Peristiwa on ma na gabe songon stimulans na membentuk PMSH (Parsadaan Mardaup, Sitombuk, Hutabulu), na ujungna margoar Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada-Ina dohot Boruna (PSSSI & B).

Taon 1950, pinda ma nasida tu Medan, jala marjabu ma nasida di Jalan Pasar Merah (belakang Taman Makam Pahlawan). Bulan Desember 1952, satahi ma nasida rap dohot angka amanta Ruben Simanjuntak (Mardaup-Namora Sende-Paranjak-Baha Raja-13/ayahanda dari dr. Hesman Simanjuntak), Konstan Simanjuntak, Guru Gustaf Simanjuntak, dll, jala resmi ma goama PSSSI & Boruna se Kota Medan-Belawan dohot nahumaliangna. Laos ro do nang perwakilan sian daerah na asing, songon Daerah Karo na niwakilan ni amanta Anas Simanjuntak. Ndang sadia leleng, pinda muse ma nasida tu Sibolga. Ala holong ni rohana di PSSSI i, laos ketua do nasida di PSSSI & Boruna Sibolga. Jala songon na mangangkupi nasida mangaradoti ima angka amanta Kepala RRI Tapanuli, Kepala Polisi Tapanuli, Sahat Ambon Simanjuntak, Tiuran Simanjuntak, Rumah Makan Sibolga, Martur Simanjuntak, Rumah Makan dohot Mardindin Simanjuntak. Di na pinda amanta on sian Sibolga tu Bandung, amanta Mardindin ma na songon ketua, sampe manang piga periode.

dicopy paste dari Tulisan di Buku PSSSI&B Jakarta Raya th. 1991

Comments

No comments found!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Tentang Website Kami

Website PSSSIB.org ini didedikasikan untuk seluruh warga Batak dengan marga Simanjuntak yang merupakan keturunan Raja Marsundung Simanjuntak dan bersatu dalam Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina beserta seluruh Borunya.

Website ini adalah media komunikasi, edukasi dan interaksi seluruh anggota Parsadaan dengan tujuan meningkatkan rasa kasih & persaudaraan di semua keluarga besar Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna se Jakarta & Sekitarnya

Login
Remember me
Lost your Password?
Password Reset
Login