Tuesday, November 12, 2019

KEKAYAAN YANG SEBENARNYA

 

Ia mulai dari tidak ada apa-apanya bekerja sebagai kuli bangunan hingga akhirnya berhasil menjadi kepala bagian. Kemudian ia membentuk tim pekerja tersendiri yang akhirnya berkembang menjadi sebuah perusahaan konstruksi.

Sang istri yang mendampingi pria ini sejak kuli bangunan, semakin hari tampak semakin tua. Tubuh yang dulunya langsing, sekarang tampak kasar berotot, kulit pun tidak sehalus dulu. Dibandingkan dengan beribu wanita cantik di luar sana, ia tampak terlalu sederhana dan pendiam. Kehadirannya senantiasa mengingatkannya akan masa lalu yang sukar.

Sang suami berpikir, inilah saatnya pernikahan ini berakhir. Ia menabungkan uang sebesar 1 miliar ke dalam bank istrinya, membeli juga baginya sebuah rumah di daerah kota. Ia merasa, ia bukanlah suami yang tak berperasaan. Sekiranya ia tidak mempersiapkan bekal bagi hari tua istrinya, hatinya pun tidak tenang.

Akhirnya, ia pun mengajukan gugatan cerai kepada istrinya.

Sang istri duduk berhadapan dengannya. Tanpa berbicara sepatah katapun ia mendengarkan alasan sang suami mengajukan perceraian. Tatapannya terlihat tetap teduh dan tenang.

Ketika hari sang istri pergi dari rumah pun tiba, sang suami membantunya memindahkan barang-barang menuju rumah baru yang dibelikan oleh suaminya. Demikian pernikahan yang telah dibangun selama hampir 20 tahun lebih itu pun berakhir begitu saja.

Sepanjang pagi itu, hati sang suami sungguh tidak tenang. Menjelang siang, ia pun terburu-buru kembali ke rumah tersebut. Namun ia mendapati rumah tersebut kosong, sang istri telah pergi. Di atas meja tergeletak kunci rumah, buku tabungan berisi 1 miliar rupiah dan sepucuk surat yang ditulis oleh istrinya.

Isi surat:
“Saya pamit, pulang ke rumah orang tua saya. Semua selimut telah dicuci bersih, dijemur di bawah matahari, kusimpan di dalam kamar belakang, lemari sebelah kiri. Jangan lupa memakainya ketika cuaca mulai dingin.

Sepatu kulitmu telah kurawat semua, nanti bila akhirnya mulai ada yang rusak, bawa ke toko sepatu di sudut jalan untuk diperbaiki.

Kemejamu kugantung pada lemari baju sebelah atas, kaos kaki, ikat pinggang kutaruh di dalam laci kecil di sebelah bawah.

Setelah aku pergi, jangan lupa meminum obat dengan teratur. Lambungmu sering bermasalah. Aku telah menitip teman membelikan obat cukup banyak untuk persediaanmu selama setengah tahun.

Oh ya, kamu sering sekali keluar rumah tanpa membawa kunci, jadi aku mencetak 1 set kunci serta kutitipkan pada security di lantai bawah. Semisalnya kamu lupa lagi membawa kunci, ambil saja padanya.
Ingat tutup pintu dan jendela sebelum pagi-pagi berangkat kerja, kalau tidak, air hujan dapat masuk merusak lantai rumah.

Aku juga membuatkan pangsit. Kutaruh di dapur. Sepulang dari kantor, kamu dapat memasaknya sendiri.”

Tulisannya jelek, sukar dibaca. Namun setiap huruf bagaikan selongsong peluru berisikan cinta tulus, yang ditembakkan menghujam jauh ke dalaman ulu hatinya.

Ia memandang setiap pangsit yang terbungkus rapi. Ia teringat 20 tahun yang lalu ketika ia masih menjadi seorang kuli bangunan, teringat suara istrinya memotong sayur, mempersiapkan pangsit di dapur, teringat betapa suara itu bagikan melodi yang indah dan betapa bahagianya ia pada saat itu.

Ia pun tiba-tiba teringat janji yang diucapkannya saat itu: “Saya harus memberi kebahagiaan bagi istri saya.”
Detik itu juga ia berlari secepat kilat segera menyalakan mobilnya. Setengah jam kemudian, dengan bersimbah keringat, akhirnya ia menemukan istrinya di dalam kereta.

Dengan nada marah ia berkata, “Kamu mau ke mana? Sepagian aku letih di kantor, pulang ke rumah sesuap nasi pun tak dapat kutelan. Begitu caranya kamu jadi istri? Keterlaluan! Cepat ikut aku pulang!”

Mata sang istri berkaca-kaca, dengan taat ia pun berdiri mengikuti sang suami dari belakang. Mereka pun pulang. Perlahan, air mata sang istri berubah menjadi senyum bahagia.

Ia tidak mengetahui bahwa sang suami yang berjalan di depannya telah menangis sedemikian rupa. Dalam perjalanan sang suami berlari dari rumah ke stasiun kereta, ia begitu takut. Ia takut tidak berhasil menemukan istrinya, ia sangat takut kehilangan dia. Ia menyesali dirinya mengapa dirinya begitu bodoh hingga hendak mengusir wanita yang begitu ia cintai. Kehidupan pernikahan selama 20 tahun ini ternyata telah mengikat erat-erat mereka berdua menjadi satu.

Kekayaan yang sebenarnya bukanlah terletak pada angka di dalam buku tabungan, melainkan terletak pada senyuman bahagia pada wajah Anda dan orang yang Anda sayangi.  Kekayaan yang sebenarnya bukanlah datang dari harta atau kekayaan, melainkan dari rasa kebersamaan yang hadir saat suami isteri dapat dapat berkumpul bersama meski dalam kesederhanaan.

 

Di  dunia ini ada hal-hal yang sangat berharga, yang tak ternilai harganya dan tak bisa dibeli dengan berapa banyak uang yang dimiliki :

  1. Masa lalu tak akan bisa kembali. Waktu yang sudah berlalu pun tak mungkin bisa diulang lagi.Bisakah kita membeli waktu? Membayar sejumlah uang agar waktu yang telah lewat bisa kembali? Waktu yang benar-benar kamu miliki adalah saat ini. Sekalinya berlalu, kamu gak akan mendapatkannya kembali.Pergunakan waktu saat ini sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri pada waktu yang akan datang. Akan jadi apa kita nanti, semua ditentukan oleh apa yang dilakukan saat ini. Bukan uang.
  2. Kesenangan bisa dibeli, tapi mustahil jika  ingin membeli kebahagiaanUang bisa membeli kebahagiaan? Masa sih? Well, uang bisa membeli kesenangan, bukan kebahagiaan. Kesenangan sifatnya hanya sesaat aja, yang kemudian akan diikuti dengan kehampaan.Kebahagiaan yang sebenarnya adalah suatu keadaan pikiran yang cuma bisa kamu peroleh dari dalam dirimu. Bukan dari suatu kejadian, tempat, benda, ataupun manusia. Kamu punya pilihan untuk bahagia atau menderita.
  3. Cinta dan uang adalah dua hal yang jauh berseberangan

    Cinta atau kasih sayang itu spesial, perasaan ajaib yang akan membuat kita utuh sebagai manusia. Dan perasaan ini sejatinya susah untuk didapatkan dan gak bisa dibeli dengan uang.Satu-satunya cara membeli cinta adalah dengan menjadi diri sendiri dan memberikan cinta yang tulus ke semua orang di sekelilingmu. Lepas topeng, maka cinta akan menerima dengan tulus.

  4. Uang bukan segalanya, karena kebijaksanaan dan kedewasaan akan datang dengan sendirinya

    Kebijaksanaan datang dari pengalaman hidup. Semakin banyak pengalaman yang kamu dialami dalam hidup, akan makin memahami mengapa dan bagaimana semua berlangsung.  mengambil pelajaran dari setiap kegagalan yang dibuat, dan pelajaran-pelajaran hidup itulah yang membuat  bijaksana. Semua itu tidak bisa terbeli dengan uang.

  5. Kedamaian jiwa itu datangnya dari hati, bukan perkara materi yang dimilikiKedamaian jiwa tidak bisa dibeli dengan uang, tapi hanya bisa didapatkan dengan mental positif serta keberanian untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain atas kesalahan yang terjadi di masa lalu. Uang tidak bisa membantu untuk melepaskan amarah, dendam, iri hati dan rasa takut. Bahkan, terkadang justru uanglah yang menjadi sumber semua itu.

Sumber : Ir. Kamsya Simanjuntak

Comments

  • Amos Simanjuntak
    Amos Simanjuntak

    Mantabs jiwa

    Sep 13, 2019, 11:31 am
    Balas
    • alden
      alden

      sangat memotivasi ya broo

      Sep 13, 2019, 6:18 pm
      Balas

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Tentang Website Kami

Website PSSSIB.org ini didedikasikan untuk seluruh warga Batak dengan marga Simanjuntak yang merupakan keturunan Raja Marsundung Simanjuntak dan bersatu dalam Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina beserta seluruh Borunya.

Website ini adalah media komunikasi, edukasi dan interaksi seluruh anggota Parsadaan dengan tujuan meningkatkan rasa kasih & persaudaraan di semua keluarga besar Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna se Jakarta & Sekitarnya

Login
Remember me
Lost your Password?
Password Reset
Login